
Pengalaman Traumatis Suarli Saat Banjir Bandang Menghancurkan Kampungnya
Suarli, seorang warga yang tinggal di Jorong Koto Alam, Nagari Salareh Air Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, mengaku mendengar suara hentakan batu dari sungai selama sepekan sebelum banjir bandang menerjang kampungnya. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 27 November 2025, yang menyebabkan ratusan rumah hanyut dan banyak korban jiwa.
Pada malam-malam terakhir sebelum bencana, Suarli merasa ada sesuatu yang janggal. Setiap malam, dari arah sungai yang berada tidak jauh dari rumahnya, terdengar suara hentakan batu berulang, seperti sesuatu yang saling beradu di kegelapan. Suara itu muncul selama hampir sepekan menjelang banjir bandang dahsyat yang menyapu ratusan rumah dan merenggut banyak nyawa.
Selama puluhan tahun tinggal di Jorong Koto Alam, ia mengaku tak pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. “Bunyinya seperti ‘tak, tak, tak’. Terdengar tiap malam. Sebelumnya tidak pernah ada. Itu berlangsung sekitar satu minggu sebelum kejadian,” kata Suarli saat ditemui di Koto Alam, Selasa (2/12/2025).
Siapa sangka, suara-suara yang kerap ia dengar setiap malam itu ternyata menjadi pertanda bencana besar yang akan meluluhlantakkan kampungnya. Suarli kehilangan banyak anggota keluarga dalam musibah tersebut. “Kakak istri saya meninggal bersama anaknya. Ada juga sepupu istri dan beberapa keluarga lainnya. Kami banyak kehilangan,” ucapnya, berusaha tegar.
Saat galodo datang, Suarli baru saja belanja di sebuah warung di Koto Alam dan hendak pulang melewati jembatan yang menghubungkan kampungnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat tiang listrik roboh menghalangi jalan. Untuk beberapa detik, kampungnya terasa sunyi. Lalu datanglah suara keras, mengguncang, datang dari arah hulu.
Suarli refleks menengok, dan detik berikutnya ia melihat galodo yang mengerikan tengah meluncur ke arahnya. “Galodo datang cepat sekali. Semua hancur di depan mata saya,” katanya. Dengan sekuat tenaga ia berlari ke titik yang lebih tinggi. Dari sana ia menyaksikan gulungan air berwarna cokelat pekat, bercampur kayu besar dan material batu, bergerak seperti ombak besar yang mengamuk.
“Airnya tinggi sekali, bergelombang. Saya kira hampir 80 meter. Rumah-rumah tetangga yang biasa saya lewati, hilang begitu saja,” ujarnya. Dalam sekejap, tiga kampung di sepanjang aliran sungai Koto Alam, Kampung Tangah, dan Kayu Pasak rata dengan tanah. Suarli menyebut ada sekitar 300 rumah yang lenyap disapu arus saat itu.
Enam hari berselang, suara galodo itu masih menghantui tidur Suarli. Setiap malam, ia mengaku kembali mendengar suara-suara dari ingatannya gemuruh air, benturan kayu, jeritan warga yang berusaha menyelamatkan diri. “Setiap malam selalu terbayang kejadian itu,” tuturnya.
Di tengah trauma yang masih menyesakkan dada, Suarli berharap pencarian terhadap warga yang hilang bisa segera menemukan titik terang. Ia hanya ingin keluarganya dan teman-temannya yang belum ditemukan dapat pulang meski dalam keadaan apa pun.
Pantauan di lokasi, warga kini mulai membersihkan rumah dan sisa-sisa bangunan yang tertimbun lumpur. Ratusan dapur umum berdiri di sekitar lokasi bencana untuk membantu penyintas galodoh tersebut. Sementara itu, tim SAR gabungan masih terus menyisir reruntuhan, lumpur, dan aliran sungai demi menemukan para korban yang dilaporkan hilang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar