Jaga Lisan di Tengah Bencana, Tgk Rifki: Bencana Tak Boleh Dibalas Kebencian

Jaga Lisan di Tengah Bencana, Tgk Rifki: Bencana Tak Boleh Dibalas Kebencian

Menjaga Lisan di Masa Bencana: Pentingnya Etika Komunikasi dalam Ruang Publik

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di beberapa wilayah Aceh belakangan ini tidak hanya meninggalkan duka dan kerusakan fisik, tetapi juga memicu berbagai isu etika di ruang publik, khususnya di media sosial. Situasi ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung merespons bencana dengan cara yang kurang konstruktif, bahkan sering kali mengandung unsur kebencian.

Tgk Rifki Ismail SAg MPd, pengurus Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, menyampaikan bahwa media sosial justru menjadi tempat bagi sindiran, ejekan, dan hinaan. Hal ini semakin diperparah oleh respons yang berlebihan terhadap pernyataan tokoh publik, yang akhirnya memicu perdebatan keras dan ujaran kebencian.

Menurut Tgk Rifki, fenomena ini mencerminkan ketimpangan antara isu yang dihadapi dan cara meresponsnya. Masyarakat cenderung cepat bereaksi, namun kurang memiliki etika komunikasi yang baik. Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan teladan komunikasi yang sangat lengkap melalui akhlak dan cara Rasulullah SAW berinteraksi dengan umatnya.

Prinsip Komunikasi dalam Perspektif Fiqh dan Syariat

Dalam perspektif fiqh dan syariat, komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga bagian dari akhlak dan ibadah sosial. Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas melalui prinsip qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan layyinan (perkataan yang lembut), dan qaulan ma’rufa (perkataan yang baik).

Rasulullah SAW dikenal sebagai teladan utama dalam berkomunikasi. Ia selalu santun, menenangkan, dan tidak pernah membalas hinaan dengan hinaan. Bahkan ketika dihina, dicaci, dan disakiti, Rasulullah SAW memilih doa dan dialog, bukan provokasi. Ini adalah pelajaran besar bagi umat Islam, terutama di masa bencana.

Dampak Sosial dan Spiritual dari Lisan

Dalam literatur etika komunikasi dan public speaking perspektif Islam, lisan memiliki dampak sosial dan spiritual yang luas. Setiap kata yang diucapkan atau dituliskan tidak hanya dipertanggungjawabkan secara sosial, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa keselamatan seseorang salah satunya ditentukan oleh kemampuannya menjaga lisan.

Prinsip ini sangat relevan di era digital, ketika satu unggahan dapat memicu konflik, memperkeruh suasana, dan melukai perasaan banyak orang, terlebih di masa bencana.

Solusi untuk Membangun Etika Komunikasi yang Baik

Sebagai solusi, Tgk Rifki mengajak masyarakat untuk mengembalikan etika komunikasi publik kepada nilai-nilai kenabian. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menahan diri sebelum merespons isu sensitif seperti bencana
  • Membiasakan tabayyun dan empati
  • Menjadikan media sosial sebagai sarana edukasi dan penguatan solidaritas, bukan arena saling menjatuhkan

“Tidak semua hal harus dikomentari, apalagi dengan emosi. Bagi tokoh publik, aktivis, dan relawan, penting untuk meneladani gaya komunikasi Rasulullah yang menenangkan, solutif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” harapnya.

Keperluan Aceh di Masa Bencana

Tgk Rifki menegaskan bahwa Aceh tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tetapi juga keteduhan narasi dan doa yang menguatkan. Dengan meneladani komunikasi Rasulullah SAW, diharapkan ruang publik dipenuhi pesan yang jujur, santun, dan penuh hikmah, sehingga tercipta empati, persaudaraan, dan ikhtiar bersama untuk bangkit dari musibah secara bermartabat.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada Aceh dan seluruh masyarakatnya, mengangkat segala musibah, menguatkan yang terdampak, serta menggantikan duka dengan pemulihan dan harapan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan