
Kondisi Trotoar di Tanah Abang yang Tidak Ramah bagi Pejalan Kaki
Di atas kertas, berbagai program telah dicanangkan untuk memastikan jalan raya, trotoar, hingga fasilitas penyeberangan bisa digunakan oleh semua kalangan. Para pemangku kebijakan kerap menyebut bahwa ruang kota kini semakin inklusif. Namun, kenyataannya, aksesibilitas yang dijanjikan itu belum hadir sepenuhnya.
Di beberapa titik, tombol lampu penyeberangan dipasang terlalu tinggi, membuat pengguna kursi roda kesulitan menekan tombol tanpa bantuan orang lain. Informasi-informasi penting di ruang publik pun kadang disampaikan dengan kalimat berbelit dan teknis, menyulitkan penyandang disabilitas intelektual memahami instruksi yang seharusnya sederhana. Bagi penyandang disabilitas netra, tantangannya bahkan bisa berubah menjadi persoalan hidup dan mati.
Trotoar yang Tersumbat oleh Lapak Pedagang
Di Tanah Abang, klaim ruang kota inklusif itu terasa lebih seperti slogan ketimbang kenyataan. Siang di Tanah Abang selalu punya denyutnya sendiri, cepat, padat, dan tak pernah benar-benar berhenti. Di antara gedung-gedung yang menatap kosong dari kejauhan, ada kehidupan yang tumbuh dan berdesakan di tepian jalan.
Namun, bagi pejalan kaki, denyut ini sering berubah menjadi perjuangan untuk sekadar melangkah dengan aman. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman itu kini lebih mirip arena bertahan hidup. Lajur kuning untuk disabilitas tertutup gantungan baju batik. Karpet dagangan digelar hingga melewati batas jalur pejalan. Motor parkir menempel di bahu jalan membuat ruang gerak menyempit.
Ubin trotoar yang lebar, sejatinya cukup untuk dua hingga empat orang berjalan berdampingan. Namun, lebar itu hanya ilusi. Para pejalan kaki menyelinap di antara sela-sela ruang yang tersisa.
Jalur Pemandu yang Tersembunyi
Kondisi semakin memprihatinkan saat masuk ke area yang memiliki jalur pemandu bagi penyandang disabilitas. Garis kuning yang seharusnya menjadi penuntun bagi tunanetra justru tertutup barang dagangan. Kotak karton, tumpukan baju, hingga tiang gantungan menutupi jalur yang semestinya steril.
Seorang pedagang baju, Maryati (bukan nama sebenarnya), menyadari jalur tersebut penting bagi disabilitas, tetapi memilih mengabaikannya. “Saya taruh barang di situ soalnya posisinya pas di depan. Kalau digeser malah nutup akses pembeli,” ucap dia. Maryati kerap mendengar keluhan pejalan kaki yang merasa terhalang, tetapi tekanan ekonomi membuatnya bertahan di posisi yang sama.
Trotoar yang Menyempit
Lapak pedagang kaki lima (PKL) membentang menyerupai perpanjangan toko di dalam gedung. Meja, tumpukan karton, gantungan baju, serta payung warna-warni mengurung ruang yang seharusnya menjadi milik publik. Di beberapa sudut, garis kuning jalur pemandu untuk penyandang disabilitas hilang dari pandangan. Tertutup kardus, lapak, dan kaki-kaki meja, jalur itu seolah tak pernah dianggap bagian penting dari ruang kota.
Tidak ada yang tampak menyadari keberadaannya, apalagi menjaganya tetap terbuka. Yuna merasakan langsung repotnya berjalan di antara keramaian yang sesak. “Makin siang, makin penuh pedagang sama pembeli. Kita yang jalan kaki harus nyelip-nyelip,” katanya. Di trotoar itu, hak eksklusif pejalan kaki seperti tidak pernah benar-benar ada.
Motor di Atas Trotoar
Kemacetan membuat sebagian pengendara motor memilih jalan pintas, naik ke trotoar. Bagi pejalan kaki, ini adalah momen paling menegangkan saat ruang yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi jalur alternatif yang dipadati knalpot dan deru mesin. Yuna pernah mengalami kejadian yang membuat dirinya hampir trauma.
“Hampir keserempet motor yang naik trotoar dari belakang. Saya kaget sampai mundur. Ya mau marah juga percuma,” kata dia. Kejadian serupa terjadi berulang begitu sering hingga menjadi bagian dari rutinitas trotoar Tanah Abang.
Parkir Liar Menguasai Trotoar
Di beberapa titik, trotoar bukan hanya ditempati pedagang, tetapi juga dialihfungsikan sebagai lokasi parkir motor. Juru parkir liar mengatur kendaraan dengan cekatan, mengisi setiap jengkal ruang yang ada. Salah satu juru parkir liar, Udin (bukan nama sebenarnya), mengakui bahwa ia memang mengarahkan motor ke trotoar. “Mau gimana lagi? Udah dari dulu begini, lagian itu masih muat jalan kaki,” katanya.
Zebra Cross yang Sekadar Hiasan
Di tengah lalu lintas yang padat, zebra cross sejatinya menjadi satu-satunya alat pembantu pejalan kaki untuk menyeberang. Garis putih itu seharusnya menjadi jaminan dasar bahwa pengemudi akan memperlambat laju kendaraan dan memberi ruang bagi mereka yang berjalan. Namun, di Tanah Abang, zebra cross berubah peran—dari alat perlindungan menjadi sekadar ornamen yang dicat di jalan. Fungsinya lebih mirip simbol yang diabaikan daripada penanda hukum yang dihormati.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar