Jalan Padang–Agam Terputus Akibat Banjir, Gubernur Mahyeldi: Perbaikan Dalam Sebulan

Jalan Padang–Agam Terputus Akibat Banjir, Gubernur Mahyeldi: Perbaikan Dalam Sebulan

Kondisi Wilayah Sumatera Barat Pasca-Bencana

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyampaikan bahwa sejumlah jalur utama di wilayahnya masih dalam kondisi lumpuh pascabencana banjir bandang dan longsor. Ia menegaskan bahwa meskipun kondisi di lapangan membaik, pemulihan akses penting seperti jalur Padang–Padang Panjang dan Padang–Agam masih menjadi tantangan terbesar.

Mahyeldi menjelaskan bahwa perbaikan di titik-titik terparah diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri agenda di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Senin malam, 1 Desember 2025. Sejumlah kawasan seperti Malalak, Batu Busuak, Lubuk Minturun, hingga wilayah di Pasaman Barat sebelumnya terputus total akibat longsor dan banjir besar yang menerjang beberapa hari terakhir.

Pemerintah daerah pun mulai fokus menyisir jalur prioritas agar distribusi logistik kembali terbuka dan bantuan dapat menjangkau warga terdampak.

Kerusakan Infrastruktur yang Luas

Mahyeldi mengungkapkan bahwa kerusakan yang terjadi tidak hanya terbatas pada jalan raya, tetapi juga melanda jembatan, irigasi, fasilitas pendidikan, serta sarana kesehatan. Menurutnya, lebih dari 30 ribu rumah mengalami dampak langsung dari bencana tersebut.

Ia menjelaskan bahwa bencana banjir bandang dan longsor kali ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang turun hampir tanpa henti selama satu pekan. “Curah hujan satu bulan turun dalam satu hari, bahkan ada yang mencapai 300 sampai 800 milimeter,” ujar Mahyeldi.

Ia menambahkan bahwa kondisi tanah yang jenuh membuat material tanah bercampur air langsung bergerak cepat ke permukiman warga. Fenomena ini disebutnya sebagai kejadian tidak lazim yang terus berulang dalam beberapa pekan terakhir.

Dampak Ekonomi yang Besar

Mahyeldi menyebut dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, termasuk kerusakan pada 13 ribu hektare lahan pertanian. Ia menaksir total kerugian akibat bencana mencapai lebih dari Rp1,2 triliun.

Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor di Sumatera. Data terbaru Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana BNPB pada Senin sore, 1 Desember 2025, mencatat total 604 korban meninggal dunia.

Rinciannya, Sumatera Utara mencatat korban tertinggi dengan 283 orang meninggal. Kemudian Sumatera Barat mencatat 165 korban jiwa, sementara Aceh melaporkan 156 korban meninggal. Di Aceh, tercatat pula 181 orang hilang serta lebih dari 1.800 warga mengalami luka-luka.

Sementara di Sumatera Barat, korban hilang mencapai 114 orang dan 112 warga lainnya terluka. Adapun di Sumatera Utara, terdapat 169 orang hilang dan 613 warga mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

Kerusakan Rumah Warga

BNPB juga mendata kerusakan rumah warga, dengan catatan 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rusak sedang, dan 20.500 rumah rusak ringan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan