
Amerika Serikat dilaporkan melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela. Selain itu, pasukan elit AS, Delta Force, juga dikabarkan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya pada hari Sabtu (3/1).
Selama lebih dari satu dekade sejak pertama kali berkuasa pada 2013, Maduro memimpin negara dengan pendekatan yang disebut sebagai 'tangan besi'. Di bawah pemerintahannya, Venezuela mengalami krisis yang meliputi penindasan politik hingga kehancuran ekonomi.
Selama masa kepemimpinan Maduro, sekitar tujuh juta warga Venezuela memilih untuk bermigrasi ke luar negeri. Hal ini terjadi di tengah tudingan adanya penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, serta hilangnya kebebasan berpendapat.
Ekonomi Venezuela juga mengalami keruntuhan yang parah. Negara tersebut mengalami empat tahun berturut-turut hiperinflasi, sementara PDB negara ini turun hingga 80 persen dalam satu dekade.
Penindasan terhadap oposisi kembali mencuat setelah Maduro mengklaim kemenangan dalam pemilu Juli 2024. Dalam penumpasan aksi protes pasca-pemilu, lebih dari 2.400 orang ditangkap, 28 orang tewas, dan sekitar 200 lainnya terluka.

Kekerasan ini mengulang pola represif yang sebelumnya terjadi pada beberapa tahun terakhir, seperti pada 2014, 2017, dan 2019.
Maduro terpilih kembali pada 2018 dan kembali mengeklaim kemenangan dalam pemilu 2024, yang secara luas dinilai tidak adil oleh komunitas internasional. Ia sempat dilantik untuk masa jabatan ketiga pada Januari 2025, yang akan membuatnya berkuasa hingga 18 tahun. Ini berarti ia melampaui masa kepemimpinan sebelumnya, Hugo Chavez, selama 14 tahun.
Selama berkuasa, Maduro bertahan dengan dukungan militer dan aparat keamanan, serta sekutu internasional seperti China, Kuba, dan Rusia. Ia juga membungkus kepemimpinannya dengan citra damai lewat slogan “Tidak ada perang, ya untuk perdamaian!”, yang kontras dengan praktik represif di negara tersebut.

Trump Tegaskan AS Akan Ambil Alih Venezuela
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan mengambil alih pengelolaan Venezuela setelah penangkapan Maduro.
Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela untuk sementara waktu demi memastikan proses transisi berjalan aman dan terkendali.
"Kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Jadi kita tidak ingin terlibat dengan orang lain yang masuk dan kita memiliki situasi yang sama seperti yang kita alami selama bertahun-tahun terakhir," ujar Trump dalam konferensi persnya, Minggu (4/1).
"Jadi kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Dan itu harus bijaksana karena itulah tujuan kita," tambahnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar