Jejak Pesta Tahun Baru 2026


Sampah Tahun Baru 2026 Berserakan di Bundaran HI

Malam pergantian tahun selalu memiliki cerita. Dentuman musik, sorak-sorai warga, lampu kota yang gemerlap, dan ribuan orang tumpah ruah di ruang publik. Bundaran HI, seperti biasa, kembali menjadi magnet utama warga Jakarta untuk menyambut Tahun Baru 2026. Namun, ketika euforia perlahan mereda dan jarum jam bergerak meninggalkan angka nol, ada satu "jejak pesta" yang tak bisa dihindari: sampah yang berserakan di mana-mana.

Botol plastik, gelas sekali pakai, kertas makanan, kantong plastik, hingga sisa atribut perayaan tampak menumpuk di sejumlah titik. Pemandangan ini seolah menjadi ritual tahunan yang selalu berulang. Setiap kali kita merayakan awal yang baru, kota justru harus berhadapan dengan tumpukan sisa perayaan lama.

Namun, di balik kondisi jalanan yang penuh sampah itu, ada kerja senyap yang jarang disorot kamera: perjuangan Pasukan Oranye, para petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.

Ribuan Pasukan Oranye Turun ke Lapangan

DLH DKI Jakarta sejatinya sudah bersiap jauh hari sebelum malam Tahun Baru tiba. Tak main-main, sebanyak 3.395 petugas kebersihan disiagakan demi memastikan Jakarta bisa bersih setelah pesta usai. Dari jumlah tersebut, 2.300 petugas ditempatkan di kawasan strategis seperti Monas, Bundaran HI, dan sepanjang koridor MH Thamrin–Sudirman, lokasi yang dipastikan dipadati warga saat malam pergantian tahun.

Sementara itu, 1.095 petugas lainnya disebar di lima wilayah administrasi Jakarta serta Kepulauan Seribu. Artinya, bukan hanya pusat kota yang diperhatikan, tetapi juga wilayah permukiman dan kawasan penyangga yang ikut merasakan dampak perayaan.

Ketika sebagian besar warga masih terlelap usai begadang, para petugas ini sudah mulai bekerja sejak dini hari. Dengan sapu lidi di tangan dan kantong plastik besar di kaki, mereka menyisir satu per satu sudut jalan. Tak ada kembang api, tak ada sorak-sorai, hanya bunyi sapu yang bergesekan dengan aspal basah sisa hujan dan tumpukan sampah.

Armada Lengkap Demi Jakarta Bersih Kembali

Untuk mendukung operasional di lapangan, DLH DKI Jakarta juga menurunkan armada yang tak sedikit. Tercatat 17 unit mobil lintas, 43 truk pengangkut sampah tipe typer, serta 29 unit road sweeper disiagakan khusus selama momentum Tahun Baru. Truk-truk ini bekerja tanpa henti mengangkut sampah dari titik kumpul menuju tempat pengolahan.

Road sweeper menyusuri jalan utama, menyapu sisa-sisa kecil yang tak terjangkau sapu manual. Semua bergerak seperti orkestra yang sudah sangat terlatih, meski penontonnya jarang ada. Tak hanya armada berat, berbagai sarana pendukung juga dipersiapkan. Sebanyak 24 unit bus toilet, 135 dust bin, 3.395 kantong plastik, dan 3.395 sapu lidi ditempatkan di titik-titik keramaian.

Sayangnya, ketersediaan fasilitas ini belum sepenuhnya sebanding dengan kesadaran sebagian pengunjung. Masih banyak yang memilih membuang sampah sembarangan, padahal tempat sampah tersedia tak jauh dari lokasi mereka berdiri.

Euforia vs Tanggung Jawab

Fenomena sampah Tahun Baru sebenarnya bukan semata soal kurangnya petugas atau fasilitas. Akar masalahnya justru ada pada perilaku kita sebagai warga kota. Euforia sering kali membuat tanggung jawab ikut tertinggal. Makan sambil berdiri, minum lalu botolnya ditinggal, bungkus makanan dilempar begitu saja—semua terasa sepele, tapi dampaknya besar jika dilakukan oleh ribuan orang sekaligus.

Bundaran HI yang beberapa jam sebelumnya tampak megah dan bersih, mendadak berubah wajah. Bukan karena kurangnya pengelolaan, melainkan karena budaya buang sampah yang masih sulit ditinggalkan. Di sisi lain, Pasukan Oranye kerap menjadi saksi bisu kontradiksi ini. Mereka membersihkan sisa pesta yang bahkan tidak mereka nikmati. Ketika orang-orang mengunggah foto perayaan ke media sosial, mereka justru menunduk, menyapu, dan mengangkut sampah tanpa keluhan.

Tahun Baru, Kebiasaan Baru?

Tahun Baru seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan hanya soal resolusi pribadi, tapi juga kebiasaan kolektif sebagai warga kota. Jika ingin Jakarta benar-benar menjadi kota global yang nyaman dan berkelanjutan, urusan sampah tak bisa terus dibebankan pada petugas kebersihan semata. Mungkin ke depan, perayaan Tahun Baru tak hanya dirayakan dengan konser dan pesta cahaya, tetapi juga dengan kesadaran bersama: membawa botol minum sendiri, membuang sampah pada tempatnya, atau sekadar memastikan area di sekitar kita tetap bersih sebelum pulang.

Pasukan Oranye sudah bekerja maksimal. Armada sudah disiapkan. Fasilitas sudah tersedia. Kini, pertanyaannya tinggal satu: apakah kita siap ikut bertanggung jawab? Karena kota yang bersih bukan hanya hasil kerja ribuan petugas, melainkan cermin dari perilaku warganya sendiri. Tahun baru semestinya membawa harapan baru, bukan tumpukan sampah baru.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan