Pengoperasian Kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa
Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di dunia, Kashiwazaki-Kariwa, akan kembali beroperasi setelah mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah Niigata. Proses ini dilakukan setelah pemungutan suara pada Senin (22/12/2025), yang menyetujui rencana pengoperasian kembali pabrik tersebut. PLTN ini terletak sekitar 220 km barat laut Tokyo dan merupakan salah satu proyek energi penting bagi Jepang.
Reaktor di PLTN Kashiwazaki-Kariwa akan diaktifkan pada Januari 2026. Sebanyak 14 dari 33 PLTN yang masih beroperasi di Jepang telah dihidupkan kembali. Namun, Kashiwazaki-Kariwa adalah yang pertama yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Co (TEPCO). Sebelumnya, TEPCO juga mengelola PLTN Fukushima. Menurut laporan NHK News, TEPCO berencana untuk mengaktifkan kembali reaktor pertama dari 7 reaktor di PLTN tersebut pada 20 Januari mendatang. Diperkirakan, reaktor pertama dapat meningkatkan pasokan listrik ke wilayah Tokyo sebesar 2 persen.
Reaksi Publik terhadap Pengoperasian Kembali PLTN
Meski ada persetujuan dari pemerintah daerah, pengoperasian kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa mendapat kecaman keras dari publik. Meskipun prefektur Niigata menjanjikan lapangan kerja baru dan potensi tagihan listrik yang lebih rendah, sebagian besar warga merasa cemas dengan dimulainya aktivitas tersebut. Pada tanggal 22 Desember 2025, sekitar 300 demonstran berkumpul untuk menentang pemungutan suara. Mereka membawa spanduk bertuliskan "Tidak Ada Senjata Nuklir", "Kami menentang pengaktifan kembali pembangkit listrik Kashiwazaki-Kariwa", dan "Dukung Fukushima".
Ayako Oga, 52 tahun, petani dan aktivis anti-nuklir, turut bergabung dalam protes tersebut. Ia melarikan diri dari daerah sekitar PLTN Fukushima bersama 160 ribu pengungsi lainnya pada 2011. Rumah lamanya berada dalam radius 20 km zona eksklusi radiasi. Ia menyatakan bahwa risiko kecelakaan nuklir tidak bisa diabaikan dan masih mengalami gejala mirip gangguan stress pasca-trauma akibat bencana Fukushima.
Dukungan PM Jepang terhadap Energi Nuklir
Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, telah mendukung pembukaan kembali beberapa pembangkit listrik yang telah ditutup. Tujuannya adalah memperkuat keamanan energi dan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Ini dilakukan setelah mempertimbangkan biaya lingkungan dan ekonomi akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Tahun lalu, Jepang menghabiskan 10,7 triliun yen (sekitar Rp1,1 kuadriliun) untuk impor gas alam cair dan batu bara. Jumlah tersebut sepersepuluh dari total biaya impornya. Sementara itu, impor bahan bakar fosil menyumbang 60 persen-70 persen dari pembangkit listrik Jepang. Meskipun dibayangi oleh jumlah populasi yang menyusut, Jepang memperkirakan permintaan energi akan meningkat selama dekade mendatang. Alasannya adalah ledakan pusat data artificial intelligence (AI) yang membutuhkan banyak daya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan komitmen dekarbonisasinya, negara ini telah menetapkan target untuk menggandakan pangsa tenaga nuklir dalam bauran listriknya menjadi 20 persen pada 2040.
Inisiatif Ekonomi Lokal
TEPCO berkomitmen untuk memberikan dana sebesar 100 miliar yen (sekitar Rp10,7 triliun) selama sekitar 10 tahun kepada pemerintah Prefektur Niigata. Dana ini akan digunakan untuk merevitalisasi perekonomian lokal. Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat setempat menghadapi dampak dari pengoperasian kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa.


Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar