
Identitas Reviewer
Nama Reviewer : Siti Nurhaliza
Asal Instansi : Universitas Sriwijaya
Username Instagram : Stinurhliza_
Identitas Buku
Judul Buku : Laut Bercerita
Kategori : Fiksi
Nama penulis : Leila S. Chudori
Tahun diterbitkan : 2017
Nama penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Jumlah halaman : 379
Harga buku : Rp115.000,00
Nomor ISBN : 978-602-424-694-5
Profil penulis : Leila Salikha Chudori adalah penulis kelahiran Jakarta, 12 Desember 1962, yang telah menghasilkan berbagai karya sastra, termasuk cerita pendek, novel, dan skenario drama televisi maupun film pendek. Ia meraih gelar sarjana di bidang Political Science dan Comparative Development Studies dari Universitas Trent, Kanada. Leila telah bekerja di majalah berita Tempo sejak tahun 1989. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Malam Terakhir (1989), 9 dari Nadira (2009), Pulang (2012), dan Laut Bercerita.
Sinopsis Singkat
Laut Bercerita adalah sebuah novel yang mengisahkan tentang sejumlah anggota aktivis yang hilang pada tahun 1998. Salah satu tokoh utama, Biru Laut, adalah seorang mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang memiliki ketertarikan pada dunia sastra, terutama karya-karya yang saat itu dilarang peredarannya oleh pemerintah. Pertemuan dengan Kasih Kinanti di fotokopi dengan minat yang sama, membawa Laut bergabung dengan organisasi Winatra dan Wirasena, yang aktif dalam diskusi buku dan pergerakan demokrasi untuk memperjuangkan keadilan. Namun, aktivitas mereka dianggap membahayakan kedudukan Presiden sehingga Laut bersama teman-temannya ditangkap secara paksa dan disiksa oleh aparat agar membongkar siapa dibalik gerakan tersebut. Sementara itu, Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut, bergabung ke dalam Komisi Orang Hilang yang berusaha menuntut keadilan dan mencari tahu keberadaan kakaknya.
Ulasan & Kesan Pribadi
Laut Bercerita adalah luka yang ditulis dengan ketabahan, jerit yang dibungkam namun tetap bergema dalam setiap lembarnya. Setiap kalimatnya seperti gelombang yang datang silih berganti: mengguncang, menyesakkan, lalu meninggalkan jejak yang tak mudah sirna. Novel ini tidak hanya menuntun pembaca dalam arus pasang surut rasa, tapi juga menyelipkan pelajaran tentang makna keadilan sosial, nilai-nilai demokrasi yang terampas, sejarah pergerakan yang dulu lahir dari harapan namun perlahan dibungkam oleh kekuasaan. Persahabatan diuji, pengkhianatan datang tanpa aba-aba, dan idealisme menjadi nyawa yang dipertaruhkan.
Membaca Laut Bercerita seperti membuka kenangan masa lalu, masa ketika Indonesia terkurung dalam sunyi yang dipaksakan. Masa dimana suara rakyat hanya gema dalam ruang-ruang gelap tahanan. Lewat tokoh-tokoh yang digambarkan, mampu menghidupkan kembali bagaimana sebuah rezim otoriter bisa memadamkan cahaya, namun tidak pernah bisa membunuh nyala perlawanan. Perlawanan adalah bukti bahwa manusia tidak akan diam saat kebebasan direnggut. Bahwa selama harapan masih hidup, akan selalu ada yang berani melawan gelap demi menjemput fajar. Bahwa kesedihan masa lalu bukan untuk ditangisi semata, melainkan untuk dijadikan pijakan memperjuangkan hari esok yang lebih terang. Perlawanan itu, sesungguhnya adalah cinta dalam bentuk paling murni, cinta pada tanah air, pada martabat manusia, dan pada kebebasan.
Satu hal yang perlu diingat bahwa yang terlihat mencurigakan dan banyak tingkah belum tentu adalah pengkhianat. Justru yang paling setia bisa jadi yang paling diam, dan yang paling menderita. Perjuangan mereka yang hilang tanpa jejak, tanpa nisan, bahkan tanpa doa, menjadi pesan yang terus menggema dalam sejarah kelam negeri ini. Sosok Laut mungkin tampak keras kepala, tetapi tanpa orang-orang seperti dirinya yang berani mempertaruhkan segalanya demi kemerdekaan dan keadilan, mungkin Indonesia tak akan seperti sekarang.
Rating Versi BBL
8,5/10: Penulis melakukan wawancara dengan keluarga korban tragedi 1998 yang membuat penggambaran karakter dan suasana dalam novel Laut Bercerita terasa hidup dan nyata. Selain itu, didukung oleh penggunaan bahasa yang jelas, sehingga mampu membekas kuat dalam ingatan dan perasaan pembaca.
Rekomendasi Untuk
Laut Bercerita idealnya dibaca oleh mereka yang berusia 18 tahun ke atas, karena mengangkat tema yang cukup berat seperti penculikan, kekerasan fisik, dan pengkhianatan. Novel ini lebih cocok untuk pembaca yang telah matang secara emosional serta gemar pada isu-isu sejarah, sosial, dan politik. Kisahnya sangat relevan bagi mereka yang tertarik pada fiksi berlatar peristiwa nyata, khususnya yang menggambarkan perjuangan aktivis dan dinamika rezim otoriter di Indonesia.
Kutipan Favorit
“Aku hanya ingin kau paham, orang yang suatu hari berkhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu”. – Halaman 31
“Menurut Sang Penyair, kita jangan takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong. Tapi jangan pernah kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputusan, dan rasa sia-sia”. – Halaman 364
Mari terus membudayakan membaca di Sumatera Selatan! Semoga review ini bisa menginspirasi pembaca untuk menemukan buku baru yang menyenangkan dan bermakna.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar