Jogja Diserbu Wisatawan, Pakar UGM Sebut Micro Tourism Solusi Liburan Paling Realistis

Jogja Diserbu Wisatawan, Pakar UGM Sebut Micro Tourism Solusi Liburan Paling Realistis

Tren Wisata Mikro dan Kenaikan Kunjungan Wisatawan di Yogyakarta

Yogyakarta kembali mengalami lonjakan kunjungan wisatawan pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Situasi ini tidak hanya disebabkan oleh daya tarik destinasi, tetapi juga mencerminkan perubahan strategi berwisata masyarakat yang semakin rasional dalam memilih tujuan liburan. Perubahan ini menunjukkan bahwa wisatawan kini lebih memperhatikan faktor keamanan, biaya, dan durasi perjalanan.

Dr. M. Yusuf, M.A., seorang peneliti pariwisata dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menyampaikan bahwa ramainya Jogja dipengaruhi oleh tren micro tourism. Micro tourism adalah jenis perjalanan wisata berskala kecil dengan jarak relatif dekat dan durasi singkat. Pola ini dinilai paling realistis di tengah mahalnya tiket pesawat dan meningkatnya kewaspadaan terhadap risiko bencana.

“Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak,” ujar Yusuf. Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan tol berperan besar dalam mempermudah mobilitas wisatawan menuju Yogyakarta. Akses darat yang semakin efisien membuat wisatawan memilih bepergian ke kota tujuan yang masih bisa dijangkau tanpa transportasi udara, sekaligus menekan biaya perjalanan.

Selain faktor ekonomi, persepsi keamanan menjadi elemen penting dalam pengambilan keputusan wisata. Jogja dinilai relatif siap menghadapi potensi bencana dibandingkan destinasi lain, sehingga memberikan rasa aman bagi wisatawan keluarga maupun rombongan besar.

Namun, Yusuf mengingatkan bahwa tingginya kunjungan juga membawa tantangan serius, terutama risiko overtourism. Ia menegaskan perlunya setiap destinasi memiliki peta jalan mitigasi bencana yang jelas dan terintegrasi.

“Setiap destinasi wisata harus memiliki roadmap mitigasi bencana yang berisikan tiga poin penting, mulai dari identifikasi risiko hingga langkah penanganan saat bencana terjadi,” ujarnya.

Untuk mengurangi penumpukan wisatawan di akhir pekan, Yusuf mendorong pengelola destinasi agar lebih kreatif menggarap pasar wisata hari kerja. Pengembangan weekdays tourism berbasis kesehatan dan kebugaran dinilai memiliki potensi besar sekaligus mampu mengurangi tekanan infrastruktur.

“Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor,” jelasnya.

Di sisi kebijakan, Yusuf mengkritisi wacana subsidi tiket pesawat yang dinilai tidak menyelesaikan persoalan mendasar mahalnya biaya transportasi udara. “Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran,” tuturnya. Ia menilai penurunan pajak suku cadang pesawat, biaya bandara, dan harga avtur jauh lebih efektif mendorong pemerataan wisata.

Tak hanya itu, ia juga menolak konsep work from mall (WFM) dan mendorong penerapan work from tourism destination yang melibatkan desa wisata. “Ketimbang kita menghidupkan kapitalis, mari kita coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat,” katanya.

Yusuf menegaskan bahwa pariwisata ke depan harus mengedepankan prinsip inklusivitas dan keselamatan. Menurutnya, ruang publik gratis yang dibangun pemerintah daerah sudah berada di jalur yang tepat, asalkan dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

“Pariwisata inklusif sejatinya adalah hak semua orang,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan