Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat kerusakan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia maupun dunia. Untuk pengujian kadar gula darah, diperlukan hewan model, dan model yang paling banyak digunakan adalah tikus Wistar yang diinduksi diabetes karena memiliki respons fisiologis yang stabil dan mudah diamati. Diabetes Melitus telah dikategorikan sebagai penyakit global yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas.
Induksi Diabetes pada Tikus Wistar
Diabetes pada tikus Wistar umumnya diinduksi menggunakan bahan kimia seperti streptozotocin (STZ) atau alloxan, yang merusak sel β pankreas sehingga menyebabkan penurunan produksi insulin. Setelah induksi, tikus menunjukkan peningkatan signifikan pada kadar glukosa darah, mirip dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2 pada manusia, tergantung dosis dan metode induksi. Kadar glukosa darah normal pada tikus Wistar berkisar antara 80-120 mg/dL. Namun, setelah proses induksi, glukosa darah meningkat secara signifikan (hiperglikemia). Setelah diinduksi zat diabetogenik seperti Streptozotocin (STZ) atau aloksan, glukosa darah meningkat menjadi 200 mg/dL, yang menandakan adanya kerusakan sel beta pankreas dan gangguan metabolisme insulin.
Penyebab Peningkatan Kadar Glukosa Darah
Peningkatan kadar glukosa darah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Kerusakan sel β pankreas yang menurunkan sekresi insulin.
- Penurunan sensitivitas insulin, terutama pada model diabetes tipe 2.
- Peningkatan glukoneogenesis dan glikogenolisis, akibat ketidakseimbangan hormonal.
- Penurunan pemanfaatan glukosa oleh jaringan, terutama otot dan jaringan adiposa.
Metode Pengukuran Kadar Glukosa
Pengukuran kadar glukosa darah pada hewan coba dapat dilakukan dengan beberapa metode:
1. Metode Praktis (Glucometer)
Pengukuran kadar glukosa yang menggunakan sampel darah dari vena ekor hewan coba. Proses pengukuran ini lebih cepat dan minim stress.
-
Metode Laboratorium (Analisis Serum)
Pengukuran kadar glukosa menggunakan kit enzimatik seperti GOD-PAP. Proses pengukuran ini memberikan hasil yang lebih akurat dan stabil. -
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
Tes ini digunakan untuk melihat kemampuan tikus dalam menurunkan glukosa setelah mendapat beban glukosa. Proses ini bermanfaat untuk model diabetes tipe 2.
Pembahasan
Terjadinya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) pada tikus Wistar setelah diinduksi Streptozotocin (STZ), biasanya di atas 200 mg/dL, berbeda signifikan dari kadar normal (sekitar 70-140 mg/dL). Kadar glukosa darah pada tikus Wistar diabetes digunakan untuk menguji efektivitas obat antidiabetes atau intervensi baru, memvalidasi metode diabetes, menilai pengaruh diet atau suplemen terhadap metabolisme glukosa, serta memahami mekanisme resistensi insulin dengan memantau hiperglikemia dan respons terhadap perlakuan.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan kadar glukosa darah pada tikus wistar yang telah diinduksi STZ dengan dosis tertentu. Tikus Wistar telah menjadi hewan model yang efektif dan relevan untuk berbagai penelitian terkait diabetes, baik dalam pengembangan terapi maupun pemahaman mekanisme penyakit.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar