Kado Pahit Tahun Ini: Bus Koridor 6 Batik Solo Berhenti Beroperasi, Ratusan Sopir Menganggur

Penghentian Koridor 6 Batik Solo Trans Berdampak pada Kehidupan Sopir

Pada akhir tahun 2025, sebuah layanan transportasi publik di Kota Solo, yaitu Koridor 6 Batik Solo Trans (BST), resmi dihentikan operasionalnya. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada rute bus yang tidak lagi melintas, tetapi juga mengancam kehidupan para pegawai yang bergantung pada pekerjaan mereka sebagai sopir dan kru.

Kehidupan Sopir Terancam Kehilangan Pekerjaan

Kalam Jaya, seorang sopir BST, adalah salah satu dari banyak pegawai yang kini harus menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ia mengatakan bahwa penghapusan Koridor 6 telah memicu pemangkasan jumlah pegawai. Beberapa rekan kerjanya dipindahkan ke koridor lain, namun sebagian besar harus menerima nasib pahit: dirumahkan tanpa kepastian.

“Pindah ke koridor yang lain. Tapi terpaksa, teman-teman yang dirumahkan juga ada,” ujar Kalam. Ia menyadari bahwa keputusan ini akan berujung pada pengurangan tenaga kerja, meskipun beberapa dari mereka masih memiliki harapan untuk tetap bekerja.

Kontrak yang Mendekati Akhir

Bagi Kalam, situasi semakin rumit karena kontraknya akan berakhir tepat di akhir tahun 2025. Hingga saat ini, ia belum mendapatkan kejelasan apakah kontraknya akan diperpanjang atau tidak. “Belum. Ini kan menghabiskan kontrak sampai akhir tahun,” jelasnya. Ketidakpastian ini membuat masa depan para sopir semakin gelap, seiring dengan berhentinya operasi bus di Koridor 6.

Alasan Utama Penghentian Koridor 6

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo, Taufiq Muhammad, menjelaskan bahwa alasan utama penghentian Koridor 6 adalah keterbatasan anggaran. Menurutnya, sisa pagu anggaran BLUD hanya cukup untuk membiayai Koridor 5. “Koridor 6, ya intinya ini berhenti dulu. Karena kan sisa pagu anggaran BLUD kami hanya bisa membackup Koridor 5,” kata Taufiq.

Ia juga mengakui bahwa pihaknya belum dapat memastikan sampai kapan layanan Koridor 6 akan dihentikan. Namun, ia menunjukkan adanya harapan untuk pemulihan layanan lintas wilayah dalam waktu dua tahun ke depan.

Skema Aglomerasi yang Masih Tertunda

Taufiq menyebut bahwa pihaknya telah membahas kemungkinan cost sharing dengan pemerintah provinsi dan kabupaten sekitar. Namun, skema tersebut masih membutuhkan waktu dan persiapan. “Kemarin kami dengan provinsi nanti 2027 siap memfasilitasi untuk aglomerasi, seperti itu. Kayak kemarin provinsi itu harapannya nanti ada cost sharing dengan kabupaten sekitar. Tapi kan perlu persiapan, jadi ya 2027 diimplementasikan terkait cost sharing itu,” ungkap Taufiq.

Artinya, harapan pemulihan layanan lintas wilayah masih harus menunggu setidaknya dua tahun lagi.

Anggaran 2026 Tidak Cakupi Koridor 6

Untuk tahun 2026, Dishub Solo telah menyiapkan anggaran BST sebesar Rp23 miliar. Namun dana tersebut tidak mencakup Koridor 6. “Anggaran itu untuk membiayai enam koridor feeder BST lalu tiga koridor BST, yakni Koridor 2, Koridor 3, dan Koridor 4. Untuk Koridor 1 menggunakan APBN,” jelas Taufiq.

Dengan komposisi anggaran tersebut, Koridor 6 dipastikan belum masuk dalam prioritas operasional tahun depan.

Bus Berhenti, Sopir Menanti Masa Depan

Penghentian Koridor 6 bukan sekadar keputusan teknis, melainkan kenyataan pahit bagi para sopir dan pegawai BST. Di saat bus tak lagi beroperasi, mereka harus menata ulang harapan menunggu kepastian, mencari peluang lain, atau bersiap menghadapi pengangguran.

Bagi Kalam dan rekan-rekannya, akhir tahun 2025 bukan hanya penutup kalender, tetapi juga awal dari masa depan yang penuh tanda tanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan