Kalbe Farma Hadirkan Deteksi Dini Kanker di Jawa Timur

Pengembangan Fasilitas Produksi Radioisotop dan Radiofarmaka di Sidoarjo


PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melalui anak usahanya, PT Global Onkolab Farma (GOF), resmi meluncurkan fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka yang kedua di Sidoarjo, Jawa Timur. Fasilitas ini khususnya memproduksi Fluorodeoxyglucose (FDG), yang digunakan dalam deteksi dini penyakit kanker. Investasi yang dialokasikan untuk pembangunan pabrik tersebut mencapai sebesar Rp 200 miliar.

Direktur KLBF, Mulia Lie, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperluas akses kesehatan bagi masyarakat, terutama dalam penanganan penyakit kanker. Dari total populasi Indonesia yang mencapai 282 juta jiwa, terdapat lebih dari 433.000 kasus kanker setiap harinya. Angka ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan pengembangan layanan kesehatan yang lebih baik.

Dalam acara peluncuran fasilitas baru tersebut, Mulia Lie menyatakan bahwa saat ini GOF telah membangun dua fasilitas, yaitu di Jakarta dan Sidoarjo. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan dini kanker di berbagai rumah sakit, tidak hanya di Sidoarjo tetapi juga di daerah-daerah lain seperti Bali, NTT, NTB, Sulawesi, dan Kalimantan.

Ketersediaan Radiofarmaka di Rumah Sakit

Hingga saat ini, hanya tiga rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas pemeriksaan kanker yang memadai, yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Sakit MRCC Siloam, dan Rumah Sakit Umum Gading Puit. Ketiga rumah sakit tersebut memproduksi dan menggunakan sendiri radioisotop dan farmakanya. Dengan adanya fasilitas baru ini, rumah sakit di wilayah timur Indonesia dapat memperoleh radiofarmaka dengan lebih cepat dan terjangkau.

Mulia Lie memberikan apresiasi tinggi atas dukungan yang diberikan oleh para pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan RI, Badan POM RI, dan Bapeten RI. Proses sertifikasi CPOB dari Badan POM diterima dalam 33 hari kerja, sedangkan NIE diterima dalam waktu 5 hari kerja. Ijin operasional dari Bapeten diterima dalam 45 hari kerja.

Peran PET/CT-Scan dalam Deteksi Kanker

Radiofarmaka memproduksi FDG yang sangat diperlukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) yang ada di rumah sakit. Pemeriksaan ini merupakan metode pencitraan medis tingkat lanjut yang memberikan informasi mendetail tentang fungsi organ atau sistem dalam tubuh, khususnya untuk mendeteksi adanya penyakit kanker.

Ketersediaan radiofarmaka seperti FDG sangat penting dalam pelayanan PET/CT-Scan. Sayangnya, fasilitas produksi produk radioisotop dan radiofarmaka dalam negeri yang tersertifikasi masih sangat terbatas. Oleh karena itu, KLBF berupaya menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit untuk pemanfaatan radiofarmaka. Kerja sama ini tidak terbatas pada tatalaksana kanker atau onkologi saja, tetapi juga berpotensi digunakan untuk penilaian jantung, neurologi, alzheimer, gangguan psikiatri atau mental serta bidang-bidang lain di dunia kedokteran.

Rencana Pengembangan Fasilitas Selanjutnya

Dalam hal kapasitas produksinya nanti, KLBF menyesuaikan kebutuhan rumah sakit dan berkomitmen untuk menjaga suplai dengan fasilitas dari Pemerintah. Untuk rencana pembangunan fasilitas radioisotop dan radiofarmaka selanjutnya, Mulia Lie masih melakukan perundingan. Dia mengakui bahwa pengembangan fasilitas ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, fasilitas pertama yang diluncurkan di Jakarta merupakan hasil perencanaan selama 10 tahun.

"Jadi untuk rencana pengembangan selanjutnya masih kami kaji lagi, karena memang cukup rumit dan waktu yang dibutuhkan tidak sedikit," tutup Mulia Lie.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan