
Sosialisasi Program dan Kegiatan Prioritas Tahun 2026–2029
Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan sosialisasi program dan kegiatan prioritas tahun 2026–2029 bersama awak media. Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan arah pembangunan perkebunan dan peternakan di Banua secara resmi. Acara dipimpin oleh Kepala Disbunnak Provinsi Kalsel, Suparmi, yang memaparkan strategi, target, dan capaian bidang perkebunan serta peternakan selama empat tahun ke depan.
Suparmi menegaskan bahwa pembangunan peternakan tidak berdiri sendiri, melainkan harus ditopang oleh komoditas pendukung, salah satunya kelapa. “Kalsel ini ditunjukkan karena kebutuhan kita bukan hanya protein hewani, tetapi juga pendukungnya, yaitu kelapa,” ujar Suparmi.
Tahun 2025 dijadikan masa persiapan pengembangan kelapa, termasuk peninjauan lapangan dan penerimaan CP/CR dari kabupaten dengan potensi besar, khususnya untuk varietas kelapa genjah entok—kelapa pendek dengan produktivitas tinggi yang cocok untuk wilayah Kalsel. Kabupaten Barito Kuala ditetapkan sebagai lokus utama dengan alokasi pengembangan seluas 3.000 hektare untuk periode 2026–2029.
“Kenapa 3.000 hektare? Karena itu luas minimal yang layak untuk dibangun satu pabrik hilirisasi kelapa,” jelas Suparmi. Disbunnak bersama Komisi II DPRD Kalsel telah melakukan koordinasi intensif dengan Pemkab Barito Kuala dan Tapin, termasuk penunjukan calon lokasi pabrik industri kelapa. Hilirisasi kelapa diarahkan untuk pasar ekspor, bukan hanya mengekspor kopra, tetapi juga coconut milk, yang kini banyak digunakan sebagai pengganti susu sapi di kafe-kafe.
Program Unggulan Bangsibun Bekaret
Program unggulan Bangsibun Bekaret tetap menjadi prioritas karena karet merupakan komoditas terbesar kedua setelah sawit di Kalsel. Program ini sebelumnya membawa Kalsel meraih Juara 3 Nasional. “Harga karet sekarang bagus. Stimulus yang kami berikan selama tiga tahun berturut-turut membuat harga kembali naik,” tutur Suparmi.
Dengan kondisi harga yang kondusif, pekebun kini mampu memenuhi kebutuhan sarana produksi secara mandiri. Disbunnak tetap memberikan pendampingan melalui kemitraan strategis dengan GAPKI untuk sawit dan GAPKINDO Kalsel untuk karet.
Pengembangan Sektor Kopi
Untuk komoditas kopi, Disbunnak melanjutkan pembangunan sektor hilir melalui penguatan penangkar benih lokal. Pendampingan yang dilakukan bersama JPN, SUPD, dan perangkat teknis terkait telah mengantarkan salah satu pemipit kopi di Kabupaten Tanah Laut memperoleh Izin Usaha Benih (IUB) resmi, menjamin mutu benih kopi yang terstandar.
Strategi Pengembangan Kelapa
Pengembangan kelapa menjadi fokus utama dalam rencana lima tahun ke depan. Proses peninjauan lapangan akan dilakukan untuk menentukan lokasi yang paling sesuai. Penerimaan CP/CR dari kabupaten dengan potensi besar, khususnya untuk varietas kelapa genjah entok, akan menjadi langkah penting dalam memastikan keberhasilan proyek ini.
Kabupaten Barito Kuala menjadi pusat pengembangan dengan luas 3.000 hektare. Dengan luasan tersebut, pabrik hilirisasi kelapa dapat dibangun untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Pemerintah daerah dan lembaga terkait telah bekerja sama untuk menentukan lokasi yang optimal.
Pasar Ekspor dan Hilirisasi
Hilirisasi kelapa diarahkan untuk pasar ekspor, bukan hanya mengekspor kopra, tetapi juga coconut milk. Produk ini semakin diminati, terutama di kalangan kafe dan restoran yang mencari alternatif susu sapi. Dengan demikian, nilai tambah dari produk kelapa akan meningkat, memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi para petani.
Kemitraan dan Pendampingan
Disbunnak terus memperkuat kemitraan strategis dengan organisasi seperti GAPKI dan GAPKINDO Kalsel. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan bahwa para petani memiliki akses ke sumber daya dan teknologi yang diperlukan. Hal ini juga membantu meningkatkan kualitas hasil pertanian dan memperluas pasar.
Kesiapan Infrastruktur
Selain pengembangan lahan, infrastruktur pendukung seperti jalan dan sistem irigasi juga menjadi perhatian utama. Kesiapan infrastruktur akan memastikan bahwa produksi kelapa dapat diproses dan didistribusikan secara efisien. Ini juga akan mendukung keberlanjutan usaha tani dan meningkatkan produktivitas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar