Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, DPR Soroti Kekurangan Pengawasan Keselamatan

Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, DPR Soroti Kekurangan Pengawasan Keselamatan

Peringatan Serius atas Insiden Tenggelamnya Kapal Wisata di Labuan Bajo

Insiden tenggelamnya kapal wisata di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, menjadi peringatan penting terhadap lemahnya pengawasan keselamatan transportasi laut. Terutama pada kapal-kapal wisata yang sering dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, menyoroti bahwa status laik laut secara administratif tidak lagi cukup untuk memastikan keselamatan di lapangan. Masih ada kesenjangan antara kelengkapan dokumen dan kondisi teknis kapal saat beroperasi.

“Insiden ini justru membuka fakta penting bahwa status laik laut secara administratif tidak otomatis menjamin keselamatan di lapangan,” ujar Saadiah.

Menurutnya, pengawasan terhadap kapal wisata harus diperkuat melalui audit kelayakan yang substantif. Audit tersebut harus menyentuh kondisi teknis riil kapal, bukan hanya pemeriksaan berbasis dokumen.

“Komisi V memandang pengawasan kapal wisata harus diperkuat melalui audit kelayakan yang substantif, bukan sekadar berbasis dokumen,” tambahnya.

Saadiah juga mengusulkan agar proses sertifikasi kelaiklautan kapal dilengkapi dengan uji ketahanan mesin dan sistem keselamatan dalam kondisi nyata. Hal ini sangat penting, terutama menghadapi arus kuat dan gelombang ekstrem.

“Ke depan, kami mendorong agar proses sertifikasi tidak berhenti pada pemeriksaan formal, tetapi dilengkapi dengan uji ketahanan mesin dan sistem keselamatan dalam kondisi riil,” ucapnya.

Selain itu, ia menekankan perlunya penguatan peran Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta syahbandar sebagai pengawas aktif operasional kapal, bukan hanya sebagai pemberi izin berlayar.

“KSOP dan syahbandar harus lebih proaktif, bukan hanya sebagai pemberi izin berlayar, tetapi sebagai pengawas aktif operasional kapal,” tegasnya.

Mitigasi Risiko yang Harus Berbasis Data

Menjelang musim liburan yang rawan cuaca ekstrem, Saadiah menilai mitigasi risiko tidak boleh bersifat reaktif. Ia menyarankan agar penggunaan data dan sistem informasi cuaca real-time menjadi prioritas utama.

“Kami mendorong agar SPB terintegrasi langsung dengan sistem peringatan cuaca BMKG, sehingga izin berlayar dapat dibatalkan secara otomatis apabila terdeteksi anomali cuaca seperti swell,” jelasnya.

Peningkatan Kompetensi Kru Kapal Wisata

Di luar faktor teknis dan cuaca, Saadiah menegaskan bahwa peningkatan kompetensi kru kapal wisata harus menjadi standar wajib. Termasuk pelatihan manajemen krisis dan prosedur keselamatan.

“Pelatihan ulang terkait prosedur keselamatan dan penanganan darurat harus menjadi standar wajib, bukan formalitas,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa keselamatan pelayaran memiliki dampak langsung terhadap kepercayaan publik dan citra pariwisata nasional.

“Keselamatan harus menjadi pijakan utama, karena satu kecelakaan saja bisa berdampak panjang terhadap kepercayaan publik dan reputasi pariwisata nasional,” pungkas Saadiah.

Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Keselamatan Transportasi Laut

Beberapa langkah penting yang perlu segera diambil untuk meningkatkan keselamatan transportasi laut antara lain:

  • Audit Kelayakan yang Substantif
    Pengawasan kapal wisata harus melibatkan audit kelayakan yang menyentuh kondisi teknis riil kapal, bukan hanya pemeriksaan berbasis dokumen. Hal ini akan membantu mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin terlewat dari pemeriksaan administratif.

  • Uji Ketahanan Mesin dan Sistem Keselamatan
    Proses sertifikasi kelaiklautan kapal perlu dilengkapi dengan uji ketahanan mesin dan sistem keselamatan dalam kondisi nyata. Ini sangat penting menghadapi situasi ekstrem seperti arus kuat dan gelombang tinggi.

  • Peran KSOP dan Syahbandar yang Lebih Proaktif
    KSOP dan syahbandar harus lebih proaktif dalam pengawasan operasional kapal, bukan hanya sebagai pemberi izin berlayar. Dengan peran yang lebih aktif, mereka dapat memberikan perlindungan lebih besar bagi keselamatan penumpang dan kru.

  • Integrasi Sistem Peringatan Cuaca
    SPB perlu terintegrasi langsung dengan sistem peringatan cuaca BMKG. Dengan demikian, izin berlayar dapat dibatalkan secara otomatis jika terdeteksi anomali cuaca seperti swell.

  • Pelatihan Kru yang Wajib
    Pelatihan ulang terkait prosedur keselamatan dan penanganan darurat harus menjadi standar wajib bagi kru kapal wisata. Hal ini akan meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi situasi kritis.

Pentingnya Keselamatan dalam Pariwisata Nasional

Keselamatan pelayaran tidak hanya berkaitan dengan keamanan penumpang, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap citra pariwisata nasional. Satu kecelakaan saja bisa merusak kepercayaan publik dan reputasi destinasi wisata.

Dengan adanya langkah-langkah preventif dan peningkatan pengawasan, diharapkan insiden serupa dapat diminimalisir. Hal ini akan menciptakan lingkungan pelayaran yang lebih aman dan mendukung pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan