
Kemenangan Christo Popov dalam BWF World Tour Finals 2025 menimbulkan reaksi yang beragam dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Denmark. Salah satu tokoh penting bulu tangkis Negeri Jiran, Rashid Sidek, memberikan pernyataan mengejutkan terkait potensi Prancis di ajang Olimpiade 2028 mendatang.
Menurut Rashid, ia tidak akan terkejut jika Prancis mampu meraih medali emas dalam kompetisi tersebut. Ia menilai bahwa kemenangan Popov bukanlah kejutan semata, melainkan bukti bahwa pebulu tangkis Prancis memiliki kualitas yang mumpuni.
Christo Popov bukanlah satu-satunya harapan bagi Prancis dalam pertarungan bulu tangkis dunia. Saudaranya, Toma Junior Popov, serta rekan seangkatan seperti Alwi Farhan dan Alex Lanier juga memiliki peluang yang sama untuk bersinar. Menurut Rashid, salah satu faktor utama yang menyebabkan peningkatan performa Prancis adalah kiprah ayah mereka, Toma Senior Popov, sebagai pelatih.
"Kemenangan di BWF World Tour Finals membuktikan bahwa pebulu tangkis Prancis punya kualitas," ujar Rashid. "Saya tidak akan terkejut jika pada Olimpiade 2028 nanti, Popov, Lanier, atau bahkan Toma bisa meraih medali emas."
Ia menjelaskan bahwa hubungan antara Toma Senior dengan para atletnya sangat kuat. Hal ini memberikan dampak positif terhadap perkembangan karier pemain-pemain Prancis. Toma Senior telah melatih anak-anaknya selama lebih dari 10 tahun, sehingga pengalamannya sangat berharga. Selain itu, pelatih ini sering meminta saran dari pelatih asal Asia untuk meningkatkan program latihan mereka.
Di sisi lain, Denmark mulai waspada terhadap regenerasi atlet Prancis yang dinilai lebih baik dibandingkan negaranya. Thomas Stavngaard, pelatih pelatnas Denmark, mengakui bahwa sistem yang digunakan Prancis sulit untuk dibandingkan dengan Denmark. Ia menilai Prancis mirip dengan negara-negara Asia yang fokus mengumpulkan pemain sejak usia muda.
"Prancis memiliki program khusus yang melibatkan pemain sejak masih muda. Sementara itu, kita mengandalkan tim dalam pengembangan," jelas Stavngaard. "Kami tidak bisa memfokuskan diri di usia 12, 13, 14, 15, seperti yang dilakukan di Prancis."
Meski begitu, Stavngaard dan timnya tetap berkomitmen untuk mengalahkan Popov dan rekan-rekannya. "Mereka (Prancis) punya banyak sekali pemain ketimbang kami. Namun, target kami adalah tetap membuat mereka berada di belakang kami," tambahnya.
Perkembangan Prancis dalam bulu tangkis dunia menunjukkan bahwa negara ini kini menjadi ancaman serius bagi negara-negara besar lainnya. Dengan adanya generasi muda yang berkualitas dan pelatih yang berpengalaman, Prancis tampaknya siap untuk mengubah wajah olahraga bulu tangkis global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar