
Perjuangan Susanna Liew dalam Mencari Kebenaran atas Hilangnya Suaminya
Pada bulan lalu, Susanna Liew tampil di depan kamera TV di Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur. Ia menyebut momen tersebut sebagai "tonggak bersejarah dan emosional". Dalam pidatonya, perempuan berusia 69 tahun itu mengatakan, "Hari ini... Pengadilan Tinggi telah mengeluarkan putusan atas apa yang telah lama kami yakini: bahwa Pendeta Raymond Koh adalah korban ketidakadilan yang mengerikan."
Ini merupakan kemenangan hukum yang sulit diraih, tapi cukup mengejutkan dalam salah satu kasus yang menjadi misteri terbesar di Malaysia. Hampir sembilan tahun lalu, suami Liew diculik oleh kelompok pria bertopeng di siang bolong. Penculikan tersebut terekam CCTV dan mengguncang negeri jiran ini selama bertahun-tahun.
Pengadilan Tinggi memutuskan, Satuan Khusus Kepolisian bidang intelijen keamanan dalam negeri (Special Branch) telah menculik Raymond Koh. Pengadilan menjatuhkan tanggung jawab kepada polisi dan pemerintah Malaysia atas kasus penghilangan paksa pertama di negara tersebut yang diadili di pengadilan.
Selama bertahun-tahun, Liew berjuang untuk mengetahui apa yang terjadi pada suaminya. Ia bahkan menjelma dari seorang istri pendeta biasa menjadi seorang aktivis yang gigih. Dia mungkin tidak akan pernah tahu pasti mengapa suaminya dibawa pergi, tetapi dua penyelidikan resmi independen menemukan, polisi menganggap pendeta tersebut sebagai ancaman bagi Islam, agama mayoritas di Malaysia.
Penculikan yang Terjadi Secara Dramatis
Berbicara kepada BBC segera setelah kemenangan di pengadilan, Liew mengatakan dia termotivasi untuk mengejar kebenaran. "Suara [di dalam diriku] berkata… 'Jadi mereka menculiknya secara sembunyi-sembunyi - aku akan memberitahu seluruh dunia'."
Pada 13 Februari 2017, sekitar pukul 10 pagi, Pendeta Koh meninggalkan rumah untuk bertemu teman-temannya. Saat pria berusia 63 tahun itu mengemudikan mobil keluar dari rumah, di sebuah kawasan perumahan yang tenang di Kuala Lumpur, tiba-tiba konvoi mobil SUV dan motor mendekat dengan kencang ke arah mobilnya. Para pria bertopeng berpakaian hitam melompat keluar. Pecahan kaca beterbangan ke mana-mana saat mereka menghancurkan jendela mobil Koh dan menyeret keluar sang pendeta. Lalu, ia dimasukkan ke dalam salah satu kendaraan mereka, membawa serta mobilnya. Mereka kabur.
Penculikan itu terjadi dalam hitungan detik. Saking dramatisnya, seorang saksi mata yang mengemudi di belakang dari tempat kejadian perkara, mengira itu adalah syuting film.
Penyelidikan dan Tantangan yang Menghadang
Beberapa hari setelahnya, anak-anak Pendeta Koh berkeliling dari rumah ke rumah mencari petunjuk tentang hilangnya ayah mereka. Mereka mendapatkan kamera CCTV di dua rumah telah merekam seluruh insiden tersebut. Setelah menonton rekaman tersebut, keluarga menyadari bahwa ini bukan penculikan biasa. Penculikan itu dilakukan dengan rapi dan terkoordinasi dengan baik. Mereka juga tidak menerima surat permintaan tebusan atau dihubungi penculik.
Beberapa bulan sebelumnya, pada November 2016, seorang aktivis bernama Amri Che Mat dari negara bagian Perlis di utara juga diculik dengan cara yang hampir sama persis. Keluarga Koh menghubungi media, dan rekaman CCTV tersebut langsung viral setelah dipublikasikan secara online oleh sebuah surat kabar lokal.
Masyarakat menuntut penjelasan, dan Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia—sebuah badan adhoc yang dibentuk parlemen—meluncurkan penyelidikan. Pemerintah juga melakukan penyelidikan terpisah. Banyak yang menduga, Satuan Khusus (Special Branch) bertanggung jawab. Namun, polisi membantah keterlibatan mereka, dengan kepala polisi meminta publik untuk "tolong diam" agar mereka dapat menyelidiki hilangnya Koh dengan tenang.
Penemuan Penting dan Putusan Pengadilan
Bulan-bulan kemudian, setelah melakukan penyelidikan, polisi mengklaim bahwa sebuah jaringan perdagangan narkoba telah menculik Koh. Secara terpisah, mereka menangkap seorang sopir Uber atas tuduhan penculikan—tuduhan yang akhirnya dibatalkan. Kedua petunjuk ini kemudian dinyatakan tidak kredibel oleh komisi hak asasi manusia dalam laporan akhir penyelidikan mereka.
Hilangnya Pendeta Koh berdampak besar pada keluarganya. Liew menjual perhiasan buatan tangan untuk menghidupi keluarganya, sambil mengandalkan tabungan dan sumbangan untuk membiayai pendidikan putri bungsunya di universitas. Dia mengharapkan simpati dari polisi. Namun, pada malam dia melaporkan hilangnya suaminya, dia mengaku telah diinterogasi selama lima jam tentang apakah Pak Koh mencoba mengonversi Muslim menjadi Kristen.
Keputusan Pengadilan dan Harapan untuk Keadilan
Putusan Pengadilan Tinggi menyatakan bahwa satu atau lebih pejabat polisi bertanggung jawab atas penculikan Raymond Koh dan "konspirasi yang mengakibatkan kerugian". Karena mereka adalah pejabat publik yang bertindak atas nama negara, "pemerintah harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul" dan oleh karena itu "turut serta bertanggung jawab", kata hakim tersebut.
Liew berharap pemerintah membatalkan banding. "Saya akan merasa sangat lelah jika harus mengulang semua ini lagi," katanya kepada BBC. Keluarga sudah kelelahan karena "ketidakpastian tidak tahu di mana Pendeta Raymond berada… rasanya seperti kita terjebak dalam kesedihan dan tidak bisa melanjutkan hidup".
Meski begitu, Liew kini sedang menjalani pelatihan untuk menjadi konselor sendiri. Menceritakan kisahnya juga menjadi "pelepasan emosi", katanya. Selama bertahun-tahun, saat ia berkeliling dunia untuk meningkatkan kesadaran tentang kasus suaminya, ia menjadi kritikus vokal terhadap penghilangan paksa. Pada 2020, Amerika Serikat memberinya Medali Perempuan Pemberani Internasional.
Liew juga telah mencapai titik balik pada tingkat yang lebih dalam – ia telah memaafkan para pria yang ia yakini telah menculik suaminya. Meskipun demikian, ia tidak akan menghentikan upayanya untuk mencari keadilan. Dia kini mendesak pihak berwenang membentuk badan disiplin untuk memantau perilaku polisi, serta komisi penyelidikan dan tim tugas untuk melacak setiap orang yang terlibat dalam penculikan suaminya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar