
Kehadiran Bus BTS di Manado: Dukungan dan Penolakan dari Warga
Bus Buy The Service (BTS) yang baru saja beroperasi di Manado, Sulawesi Utara, telah menarik perhatian masyarakat. Meski hanya seminggu berjalan, bus ini mulai mendapatkan tempat tersendiri di hati warga, terutama pengguna angkot. Namun, kehadirannya juga memicu penolakan dari para sopir angkutan kota.
Pendapat Warga Terhadap Keberadaan Bus BTS
Sebagian besar warga Manado, khususnya pengguna angkot, menyambut baik kehadiran bus BTS. Tante Nona, seorang warga Malalayang, mengatakan bahwa bus ini memberikan pilihan baru bagi pengguna transportasi umum.
"Kalau sudah ada bus, masyarakat bisa leluasa. Kalau dilihat, tentu fasilitasnya lebih baik dan lebih nyaman," kata Nona kepada aiotrade, Selasa (2/12/2025).
Ia menilai, semakin banyak pilihan moda transportasi umum semakin bagus. "Mikrolet tidak boleh egois. Ada bus, kami masyarakat kecil yang diuntungkan," katanya.
Nona juga menekankan bahwa mikrolet jangan dilarang, tetapi harus memperhatikan aturan dan tertib di jalan. "Mikrolet terjangkau dan punya kelebihan karena bisa berhenti di mana saja. Kalau bus hanya di titik tertentu," tambahnya.
Eliz, warga lainnya, menilai bahwa dengan kehadiran BTS, sopir mikrolet harus belajar membuat kendaraan mereka lebih nyaman. "Selama ini mikrolet manja karena bertahun-tahun cuma mereka pilihan transportasi umum dalam kota," katanya.
Lebih dari itu, ia berharap sopir mikrolet lebih tertib di jalan raya. Sebab, sudah jadi rahasia umum, banyak perilaku berkendara sopir angkot yang seenaknya di jalan. "Kalau ada pilihan lain, pembanding, tentu sopir mikrolet harus berbenah, buat bagus mobilnya," ujar Eliz.
Aksi Penolakan dari Sopir Angkot
Aksi penolakan dari para sopir angkot Manado terus berlangsung. Pada hari kedua kehadiran bus BTS, Selasa 2 Desember 2025, mereka menggelar aksi protes dengan mencegat bus BTS yang beroperasi.
Aksi ini terpantau di sejumlah titik seperti Malalayang dan Paniki. Selain itu, sedikitnya 200 sopir menggelar aksi mogok. Ratusan angkot tidak beroperasi dan terparkir di salah satu sisi Jalan Sam Ratulangi (Samrat) Manado.
Ratusan 'mikrolet' ini parkir dua baris. Memanjang di sisi kanan Jalan Sam Ratulangi. Barisan mikrolet memanjang dari Zero Point hingga ke arah RS Siloam.
Elias Pua, Ketua Basis Angkot Malalayang, mengungkapkan bahwa mereka menolak kehadiran bus BTS yang mulai beroperasi beberapa hari lalu. "Kami menolak kehadiran bus itu. Sedangkan bus tidak ada kami kesulitan, apalagi sudah ada bus," kata Elias di depan gedung eks Swalayan Multimart Manado.
Atos, seorang sopir lainnya, mengatakan bahwa kehadiran BTS yang di masa ujicoba ini gratis mengancam pencaharian mereka. "Semua penumpang pasti akan naik bus. Kalau begini, sampai Natal, bini lari akang pa torang," kata Atos, warga Malalayang.
Di balik penolakan, muncul argumen lain di antara sopir. Ada yang berpendapat, sebaiknya bus BTS tidak digratiskan di masa ujicoba ini. "Kami pasti semakin sulit. Harusnya tarifnya lebih tinggi dari angkot atau paling tidak sama, 6000 pera (rupiah)," teriak seorang sopir.
Lanjut mereka, kebijakan Pemerintah Kota Manado mengoperasikan bus jelang Natal sangat tidak bijaksana. "Ini menjelang Natal, momen di mana kami bisa mendapatkan pendapatan lebih baik. Kalau sudah ada bus begini, mau dapat berapa?" ujarnya Elias.
Ia mengungkapkan, armada mikrolet di trayek Malalayang ada 500 unit lebih. Belum lagi di trayek Lapangan (arah Bandara) dan Paal Dua yang terdampak. "Ada ribuan jiwa yang kena imbas dari kehadiran bus ini. Kami minta Pemkot bijaksana," jelas Elias.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar