Ke Mana Lenyapnya Gajah Mada Setelah Perang Bubat?


Perang Bubat terjadi di sebelah utara pintu gerbang utama Kerajaan Majapahit. Peristiwa ini menjadi momen penting yang menurunkan pamor Gajah Mada secara signifikan.

Buku berjudul Majapahit karya Herald van der Linde memberikan wawasan mendalam tentang peristiwa tersebut. Dalam bab yang membahas "Malapetaka Pernikahan (1357 M)", disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk menyadari bahwa perang itu bermula dari rencana Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda.

Gajah Mada merancang pernikahan antara Raja Majapahit dengan Putri Citra Rashmi, putri penguasa Sunda. Rencana ini juga bertujuan untuk memperkuat pengaruh Majapahit terhadap Sunda. Citra Rashmi dikenal sebagai wanita yang sangat cantik dan menarik.

Raja Sunda, Prabu Wangi, menerima undangan pernikahan ini dengan antusias. Ia tidak menyadari siasat Gajah Mada yang ingin menjadikan Sunda sebagai bawahan. Rombongan Sunda tiba di Majapahit dengan ratusan kapal jung. Mereka menambatkan kapal di muara Kali Mas, lalu melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canggu.

Di Bubat, rombongan Sunda membuat perkemahan. Di sisi lain, Majapahit telah bersiap menyambut mereka dengan pesta besar. Namun, Gajah Mada menyarankan agar rombongan Sunda menunggu beberapa hari sesuai protokol kerajaan.


Namun, rasa tidak nyaman mulai muncul pada Raja Sunda. Ia merasa tidak dihormati karena tidak ada pihak Majapahit yang datang menyambut. Ia kemudian mengirim patihnya, Anepaken, beserta 300 prajurit untuk menemui Gajah Mada.

Tapi yang mereka dapatkan justru ajakan perang. Gajah Mada menolak pernikahan yang sebelumnya disepakati. Pertemuan ini berakhir dengan konflik. Raja Sunda dan putrinya, Citra Rashmi, akhirnya tewas dalam pertempuran.

Setelah perang, Raja Hayam Wuruk menyadari bahwa semua ini adalah hasil dari ambisi Gajah Mada. Ia memutuskan untuk memecat dan menangkap mahapatihnya. Tapi, Gajah Mada menghilang begitu saja. Beberapa sumber menyebut ia pergi ke Madakaripura, sebuah wilayah di lereng timur Gunung Bromo.


Setelah kepergian Gajah Mada, situasi di Majapahit menjadi kacau. Raja Hayam Wuruk kembali membutuhkan jasa Gajah Mada. Ia mengangkatnya kembali sebagai patih, tapi dengan aturan ketat. Semua inisiatif diplomatik harus mendapat persetujuannya.

Pada 1364, Gajah Mada jatuh sakit saat sedang berkunjung ke Simping. Raja langsung pulang dan memerintahkan tabib kerajaan untuk merawatnya. Sayangnya, upaya tersebut gagal. Gajah Mada meninggal dunia setelah beberapa minggu dirawat.

Meskipun sempat dikaitkan dengan aib di Bubat, Raja Hayam Wuruk tetap memberikan penghormatan terbaik untuk Gajah Mada. Jenazahnya dikremasi dan abunya ditabur di Sungai Brantas.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang akan menggantikan posisi Gajah Mada di Majapahit?

Beberapa hal yang perlu dicatat:
Perang Bubat menjadi momen penting dalam sejarah Majapahit.
Gajah Mada memiliki strategi yang rumit dalam menjalankan politik kerajaan.
Nasib Gajah Mada setelah perang masih menjadi teka-teki.
Kehilangan Gajah Mada menyebabkan ketidakstabilan di Majapahit.
* Raja Hayam Wuruk akhirnya memutuskan untuk memanggil kembali Gajah Mada, meskipun dengan batasan-batasan baru.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan