
Toleransi Beragama di Bali Menjadi Contoh yang Baik
Toleransi beragama di Bali terlihat nyata dalam berbagai perayaan keagamaan. Di setiap hari raya, umat dari berbagai latar belakang agama saling mendukung dan menjaga kenyamanan satu sama lain. Hal ini terbukti dalam keberadaan pecalang, yang merupakan komunitas masyarakat adat Bali, yang sering kali membantu pengamanan dan kelancaran ibadah umat Muslim maupun Kristen.
Di hari Jumat, saat umat Muslim melaksanakan sholat berjamaah di masjid-masjid, banyak pecalang yang hadir untuk membantu keamanan dan kenyamanan jemaah. Mereka tidak hanya menjaga lingkungan sekitar masjid, tetapi juga memastikan bahwa jalur-jalur lalu lintas tetap lancar agar jemaah dapat sampai dengan aman.
Pada perayaan Natal 2025 di Gereja Paroki Immanuel (GPIB) Maranatha Denpasar, toleransi beragama kembali ditunjukkan melalui bantuan satuan pecalang dari Banjar Abasan, Desa Dangin Puri. Polisi adat Bali tersebut turut serta dalam pengamanan selama rangkaian ibadah berlangsung, memberikan rasa aman bagi para jemaat.
Ketua Bidang III GPIB Maranatha Denpasar, Imanuel, menjelaskan bahwa kehadiran pecalang menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran perayaan Natal. Menurutnya, kerja sama ini sudah terjalin lama dan dilakukan secara rutin setiap tahun.
“Setiap kami ada kegiatan, pecalang Banjar Abasan selalu terlibat dan tanpa diminta. Ini adalah inisiatif dari banjar untuk membantu kami,” kata Imanuel.
Ibadah Natal tahun ini digelar dalam tiga sesi. Dengan jumlah jemaat yang terus berdatangan hingga sore hari, pihak gereja merasa sangat terbantu, terutama dalam pengaturan lalu lintas dan keamanan di sekitar lokasi ibadah. Imanuel menilai bahwa kolaborasi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan umat sudah tahu akan kehadiran pecalang.
“Jemaat juga sangat terbantu,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi ini terus terjaga karena nilai lokal dinilai penting untuk dipahami, khususnya oleh jemaat yang sebagian besar merupakan pendatang.
“Kami berharap ini bisa berlanjut, apalagi kami yang di sini kebanyakan pendatang. Saya berharap supaya umat di sini juga paham bahwa sesuatu yang lokal harus dijaga,” tambahnya.
Sementara itu, Bendahara Pecalang Banjar Abasan, Kadek Riana, menyebut tugas utama mereka adalah membantu pengamanan lalu lintas dan memastikan jemaat bisa menyeberang dengan aman menuju gereja.
Sejak pukul 08.00 Wita, belasan pecalang sudah bersiaga dan diperkirakan akan terus bertugas hingga malam hari. Kadek Riana juga mengungkapkan bahwa keterlibatan pecalang dalam pengamanan Natal di GPIB Maranatha telah berlangsung sekitar satu dekade.
“Mudah-mudahan di hari raya besar ini situasi keamanannya aman terkendali, ibadah gereja tetap berjalan dengan lancar, dan harapannya tetap terjalinnya hubungan antara umat beragama Hindu dan Kristen dengan erat,” ujarnya.
Menurut Kadek Riana, pengamanan oleh pecalang tidak hanya dilakukan saat Natal, tetapi juga rutin setiap ibadah Minggu. Hal tersebut menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di lingkungan tersebut telah terjalin dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Pecalang dalam Membangun Harmoni Beragama
- Pecalang berperan sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di sekitar tempat ibadah.
- Mereka hadir tanpa diminta, menunjukkan sikap saling menghormati antarumat beragama.
- Kerja sama ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi contoh baik dalam menjaga harmoni sosial.
- Pengamanan tidak hanya dilakukan saat perayaan besar, tetapi juga dalam kegiatan rutin seperti ibadah Minggu.
- Keberadaan pecalang membantu jemaat, terutama pendatang, untuk lebih memahami nilai lokal dan budaya Bali.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar