Kearifan Alam yang Mengelola

Kearifan Alam yang Mengelola

Peran Agama dalam Memahami Bencana Alam

Dalam konteks Indonesia saat ini, syair-syair lagu Ebiet G. Ade menggambarkan kondisi yang sedang dialami oleh bangsa kita. Bencana-bencana alam yang terjadi di mana-mana seperti banjir dan longsor menunjukkan bahwa Ibu Pertiwi benar-benar sedang menangis. Rakyat Indonesia kini menghadapi penderitaan yang bertubi-tubi, mulai dari kehilangan harta benda hingga nyawa anggota keluarga.

Penderitaan ini memperlihatkan bahwa Indonesia bukan lagi negeri yang damai dan tentram seperti dulu. Banjir dan longsor yang sering terjadi menjadi bukti adanya borok-borok dalam lingkungan alam kita. Pertanyaannya adalah siapa yang harus disalahkan atas semua penderitaan ini? Apakah pemerintah yang kurang baik dalam mengelola kebijakan lingkungan atau rakyat yang membuang sampah sembarangan?

Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah dan rakyat bersama-sama berpikir bagaimana cara mencegah terulangnya bencana banjir atau setidaknya meminimalisir dampaknya.

Perspektif Agama dalam Mengelola Alam

Ada beberapa perspektif yang dapat digunakan sebagai kaca mata untuk melihat bencana banjir sebagai masukan bagi pemerintah dan rakyat dalam melakukan evaluasi lingkungan alam sekitar. Salah satunya adalah perspektif agama, khususnya dalam Islam.

Dalam perspektif agama Islam, hubungan antara manusia dan alam adalah hubungan antara khalifah (yang memimpin) dan yang dipimpin. Sebagai khalifah, manusia ditugasi untuk mengelola potensi bumi dan seisinya agar menjadi sarana untuk mencapai ketakwaan kepada Allah SWT.

Menurut Quraish Shihab, kekhilafahan mengandung arti interaksi antara manusia dengan sesamanya dan alam secara harmonis. Hubungan antara manusia dan alam bukanlah hubungan antara penakluk dan yang ditaklukan atau antara tuan dan hamba. Allah memandang keduanya dalam kondisi yang sama, tidak membeda-bedakan.

Oleh karena itu, yang sesungguhnya menguasai alam adalah Allah. Kekhilafahan mengandung arti bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaan-Nya. Dalam pandangan agama, seseorang tidak dibenarkan memetik buah sebelum siap dimanfaatkan atau memetik bunga sebelum berkembang, karena hal itu berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk ini untuk mencapai tujuannya.

Tujuan Penciptaan Alam

Islam menekankan bahwa alam raya memiliki tujuan penciptaan. Allah berfirman, “Kami tidak ciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya dengan bermain-main.” Kami tidak ciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya kecuali dengan (tujuan) yang hak dalam waktu yang ditentukan.

Sebagai orang yang beragama, kita ditugasi untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, atau sejenisnya. Tetapi kita harus berpikir dan bersikap untuk kemaslahatan semua pihak. Kita tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang-wenang terhadapnya.

Etika agama terhadap alam mengantar kita untuk bertanggung jawab sehingga tidak melakukan perusakan. Atau dengan kata lain, perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan terhadap diri sendiri. Bukankah Tuhan mengecam sikap perusakan di bumi?

Etika Agama dalam Pengelolaan Alam

Etika agama mengajarkan bahwa alam bukan semata-mata alat untuk mencapai tujuan konsumtif. Etika yang diajarkan agama terhadap alam mengantarkan kita untuk membatasi diri sehingga tidak terjerumus ke dalam pemborosan.

Nabi Muhammad pernah bersabda, “Tiada kebaikan dalam pemborosan, dan tiada pemborosan dalam kebaikan,” “Sesungguhnya orang-orang yang boros adalah saudara-saudara setan.” Jadi, dalam perspektif Islam, apa pun bentuk pengelolaan alam harus berdimensi teologis. Artinya, hasil atau target pengelolaan alam semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan.

Bencana sebagai Bentuk Murka Tuhan

Bencana banjir yang sedang menimpa sebagian kita bisa jadi merupakan buah murka Tuhan, di samping pengelolaan alam yang buruk. Pengelolaan alam yang buruk dan murka Tuhan berupa banjir sendiri bukan merupakan dua hal yang terpisah, tetapi dua hal yang dihubungkan dengan sebab-akibat (kausalitas).

Dalam sejarah umat, memang Tuhan berulang kali menurunkan bencana banjir ketika murka. Skenarionya sama. Tuhan mengutus nabi untuk menyampaikan pesan, tetapi umatnya menolak. Tidak cukup itu saja, mereka bahkan melecehkan dan bangga atas perbuatannya itu.

Baca kisah Nabi Nuh a.s. dan umatnya. Skenario itu boleh jadi sedang kita jalankan. Kita sudah berani melanggar aturan-aturan Tuhan. Tidak itu saja, kita bahkan bangga dengannya. Kita tahu bahwa merusak alam itu merupakan pelanggaran besar terhadap agama, tetapi kita langgar. Kita tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tetapi kita langgar.

Kita tahu…, tetapi kita… Kita tahu…, tetapi kita… Kita tahu…, tetapi kita… (silahkan isi dengan dosa-dosa yang pernah kita lakukan). Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.

Kesimpulan

Kenapa banjir menimpa kita? Jangan bertanya kepada rumput yang bergoyang. Tanyalah kepada kita sendiri. Sudah saatnya kita berpikir bijak terhadap alam sekitar kita. Sudah saatnya pula kita menilai bahwa perusakan lingkungan berarti pelanggaran agama yang besar.

Sudah saatnya pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyebabkan pelanggaran terhadap agama. Sudah saatnya kita menilai bahwa memelihara lingkungan berarti beribadah kepada Tuhan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan