Kecelakaan Bus Terulang, Ahli Soroti Manajemen Perjalanan PO


Kecelakaan yang melibatkan bus dan kendaraan besar kembali menjadi perhatian utama dalam hal keselamatan transportasi massal di Indonesia. Seiring dengan kejadian tersebut, seorang instruktur keselamatan berkendara sekaligus pendiri Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengajukan solusi untuk meningkatkan pengawasan terhadap pengemudi bus.

Menurut Jusri, sistem pemantauan harus diterapkan secara menyeluruh, mulai dari sebelum perjalanan hingga saat kendaraan sedang beroperasi di jalan raya. Ia menekankan pentingnya memastikan pengemudi memiliki waktu istirahat yang cukup baik sebelum melakukan perjalanan maupun selama perjalanan. Sistem ini sudah diterapkan di beberapa negara seperti Amerika, Australia, dan Inggris, untuk mencegah pengemudi yang lelah atau mengalami masalah mental tetap mengemudi.


Dalam penerapannya, manajemen perjalanan di negara-negara tersebut menggunakan catatan digital sebagai alat pemantauan. Pengemudi hanya perlu mengisi data tentang waktu istirahat mereka sebelum keberangkatan. Misalnya, jika seseorang tidur pada pukul 10 malam dan bangun pukul 4 pagi, lalu berangkat pada pukul 10 siang, informasi ini akan diapprove oleh manajemen bus atau dispatcher.

Pemantauan ini juga mencakup pengaturan jam kerja dan jam istirahat yang terintegrasi dalam sistem manajemen perjalanan. Bagi pengemudi yang bekerja di malam hari, pengawasan lebih ketat diperlukan karena risiko kelelahan sangat tinggi. Jusri menyarankan agar pengemudi yang bekerja pada jam malam pastikan memiliki waktu istirahat yang cukup dan tidur di siang hari sebelum berangkat.


Selain itu, Jusri juga menyoroti fase idle atau peralihan shift dari siang ke malam hari yang sering kali diabaikan oleh perusahaan angkutan. Menurutnya, pengemudi membutuhkan waktu adaptasi agar kondisi tubuh dan mental kembali siap menjalani perjalanan jarak jauh.

“Pada peralihan dari kerja siang ke malam hari, idealnya ada satu hari kosong untuk mempersiapkan diri, termasuk istirahat sebelum berganti jam kerja,” ujar Jusri. Ia menilai bahwa sistem pemantauan pengemudi harus menjadi bagian dari standar operasional perusahaan otobus (PO). Ia mendorong agar pengelolaan angkutan penumpang tidak hanya fokus pada jadwal dan target operasional, tetapi juga kesiapan sumber daya manusianya.


Jusri juga menyarankan agar penanganan, pengoperasian, perizinan, hingga persyaratan pengoperasian PO dapat meniru industri aviasi. Di mana terdapat sistem kontrol dan re-sertifikasi yang ketat. Penerapan sistem pemantauan pengemudi juga membutuhkan peran aktif regulator. Pengawasan tidak cukup diserahkan kepada perusahaan semata, melainkan perlu ada standar dan audit berkala dari instansi terkait.

Dengan sistem pemantauan yang berjalan konsisten, Jusri yakin risiko kecelakaan akibat kelelahan pengemudi dapat ditekan. Pada akhirnya, keselamatan jalan akan meningkat, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap transportasi massal.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan