Kegigihan Tharisa Dea Bawa Emas SEA Games 2025 Thailand

Perjuangan dan Ketekunan Tharisa Dea Florentina Berbuah Medali Emas di SEA Games 2025

Perjuangan panjang dan kerja keras Tharisa Dea Florentina selama menjalani pelatihan khusus (training camp) di China akhirnya terbayar lunas dengan raihan medali emas wushu di nomor sanda kelas 56 Kilogram putri pada ajang SEA Games 2025 Thailand. Petarung andalan Jawa Tengah dan Indonesia ini membuktikan bahwa ketekunan berlatih di luar negeri, meski dihadapkan pada tantangan ekstrem, menjadi kunci keberhasilan di level internasional.

Selama TC di China sejak 6 Oktober hingga 6 Desember, Tharisa harus beradaptasi dengan cuaca musim dingin bersuhu minus derajat, kondisi yang jauh berbeda dengan iklim Indonesia. Meski sempat mengalami cedera lutut dan gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem, ia tetap menjalani latihan fisik, teknik, gym, hingga sparring tanpa kompromi.

Disiplin dan mental baja menjadi fondasi yang membawanya tampil percaya diri saat bertanding. Kegigihan Tharisa ini sejalan dengan kisah sukses dua pelari dari cabang olahraga lain. Dua pelari marathon Indonesia, Odekta Naibaho dan Robi Syianturi juga berhasil membuktikan efektivitas pemusatan latihan di luar negeri. Keduanya menjalani latihan intensif di Kenya, pusat pelari jarak jauh dunia, sebagai persiapan menuju SEA Games sejak awal September silam. Kerja keras mereka di negeri Afrika Timur tersebut juga berbuah manis dengan raihan medali emas.

Tharisa Dea mengaku sangat bersyukur dapat kembali mempertahankan medali emas pada ajang SEA Games kali ini. Pada edisi sebelumnya di Kamboja, ia juga sukses meraih medali emas ketika itu. Ia merasa bahagia karena mampu bertahan dan kuat melewati berbagai lika-liku perjuangan selama masa persiapan.

“Rasanya sangat senang karena hasil dari latihan keras dan training camp (TC) di China bisa membuahkan hasil terbaik,” ujarnya kepada Tribun Jateng, Rabu (17/12/2025) pagi.

Ia menceritakan, tantangan terberat sudah dihadapi sejak masa persiapan. Sebelum berangkat, Tharisa sempat mengalami cedera lutut. Selain itu, selama menjalani TC di China, ia harus berlatih dalam kondisi cuaca ekstrem karena musim dingin dengan suhu hingga minus derajat.

“Kami tetap latihan fisik, gym, teknik, dan sparring apa pun cuacanya. Padahal kami orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan dingin ekstrem,” katanya.

Kondisi tersebut sempat berdampak pada kesehatannya. Ia mengaku pernah jatuh sakit, kulit kaki menjadi sangat kering hingga terkelupas dan menimbulkan luka yang perih. Meski demikian, ia tetap rutin menjalani terapi agar cedera lututnya cepat pulih, serta menambah penguatan setelah latihan.

Menurut Tharisa, kunci keberhasilannya adalah keyakinan dan mental yang kuat. Ia sudah menanamkan kepercayaan diri sejak awal bahwa dirinya mampu menang.

“Saya bermain lepas dengan kemampuan yang saya punya. Saya sangat percaya diri dengan persiapan matang dan kerja keras selama ini. Yang paling utama harus punya tekad dan mental yang kuat, tidak boleh takut lawan, karena di situlah kemampuan kita bisa keluar semua,” tegasnya.

Pada SEA Games kali ini, Tharisa menilai persaingan terasa lebih berat dibanding sebelumnya. Lawan tersulit yang ia hadapi adalah atlet Vietnam, Thi Phuong Nga Ngo pada babak penyisihan. Prestasi prestisius tersebut, ia persembahkan untuk orang tua.

Adapun ajang lebih bergengsi yang menanti ke depan yakni Asian Games 2026. Tharisa berharap pada cabor wushu, ada kelasnya yang turut dipertandingan. “Insya Allah kalau ada kelas saya, saya bakal ikut,” tandasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Harian Wushu Jawa Tengah sekaligus Kabid Pembinaan dan Prestasi (BinPres) PB Wushu Indonesia, Sudarsono menyebut Tharisa tampil sangat percaya diri sejak babak penyisihan hingga final.

Ia menyebut, keberhasilan meraih emas ini memang sesuai target. Dalam perjuangannya meraih emas SEA Games 2025, Tharisa sempat kalah tipis di ronde pertama saat menghadapi atlet Vietnam, Tharisa mampu bangkit dan mengunci kemenangan di ronde berikutnya dengan permainan yang stabil dan taktis.

“Staminanya sangat bagus, permainannya stabil, dan dia bermain sangat taktis,” ujar Sudarsono.

Di babak semifinal, Tharisa bahkan menang mutlak atas atlet Malaysia dalam waktu kurang dari satu menit melalui kemenangan overscore. Sementara di partai final, Tharisa kembali menang mutlak 2–0 atas atlet Myanmar.

Hasil itu membuat atlet asal Doplang, Bawen, Kabupaten Semarang sukses mempertahankan perolehan emas nya di ajang paling bergengsi se Asia Tenggara itu.

Sudarsono mengakui sempat khawatir ketika Tharisa menghadapi atlet Myanmar, Than Cerry yang memiliki teknik tendangan lurus berbahaya di partai final. Namun kecerdikan Tharisa dalam membaca permainan dan melakukan counter attack membuat lawan tak mampu mengembangkan strategi.

“Dia pancing lawan untuk menyerang, lalu melakukan counter. Secara teknis, Tarisa sangat matang,” jelasnya.

Selain Tharisa, atlet Jawa Tengah lain Tania Kusumaningtyas yang turun di nomor sanda 60 kilogram putri juga menunjukkan perjuangan maksimal. Namun langkah Tania harus terhenti di babak perempat final setelah menghadapi atlet Vietnam yang merupakan finalis kejuaraan dunia.

“Lawannya memang berat, kualitasnya sangat bagus,” kata Sudarsono.

Sementara itu, atlet Jawa Tengah Alexandra Calista Setiawan yang berlaga di kategori taolu nomor taijiquan dan taijijian harus puas menempati peringkat kelima.

Secara keseluruhan, Tim Nasional Wushu Indonesia tampil gemilang dengan keluar sebagai juara umum SEA Games 2025, mengoleksi lima medali emas, tiga perak, dan satu perunggu. Perolehan itu diikuti kontingen Malaysia dengan tiga emas, satu perak, dan tiga perunggu. Tempat ketiga ditempati Vietnam dengan dua emas dan satu perak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan