Tantangan Utama Pengembang Properti di Tahun 2026

Di tengah dinamika industri properti yang terus berkembang, kelangkaan lahan menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh pengembang properti. Hal ini tidak hanya memengaruhi strategi pengembangan kawasan, tetapi juga memaksa para developer untuk menemukan solusi inovatif agar tetap dapat berkembang secara berkelanjutan.
M Nawawi, Presiden Direktur Paramount Land, mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun, pengembang properti selalu menghadapi tantangan serupa yaitu keterbatasan lahan. Untuk menghadapi hal ini, banyak developer memilih dua strategi utama, yakni ekstensifikasi dan intensifikasi. Menurutnya, ketika lahan semakin langka, pilihan yang realistis adalah intensifikasi.
Lahan semakin terbatas, pilihan yang realistis adalah intensifikasi, membangun lebih tinggi dan mengoptimalkan lahan yang ada tanpa menambah luas wilayah, ujarnya.
Strategi Intensifikasi dalam Pengembangan Kawasan
Salah satu upaya intensifikasi yang dilakukan oleh Paramount Land adalah dengan menambah fasilitas dan menghidupkan kawasan melalui pembangunan beragam pusat aktivitas. Lahan kosong diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi, sehingga fasilitas disebar dari skala lingkungan, kecamatan, regional hingga berpotensi kelas internasional.
Pengembangan kawasan Gading Serpong telah mencapai fase kedewasaan, dengan skala kota yang sudah terbentuk. M Nawawi menjelaskan bahwa perluasan kawasan Gading Serpong sudah tidak mungkin dilakukan, sehingga pembangunan vertikal dan redevelopment menjadi strategi utama.
Sejak awal pengembangan Gading Serpong, Paramount Land sudah mengantisipasi kelangkaan lahan ke depan. Oleh karena itu, pihaknya menyisakan sekitar 15% sebagai cadangan pengembangan jangka panjang. Saat ini, total landbank di Gading Serpong mencapai sekitar 180 hektare.
Kinerja Penjualan yang Positif di Tengah Dinamika Industri
Chrissandy Dave, Direktur Sales & Marketing Paramount Land, menilai bahwa sepanjang tahun 2025, perseroan masih mampu menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika industri properti nasional. Dari sisi kinerja penjualan, Paramount Gading Serpong mencatat pencapaian yang baik. Sepanjang kuartal III/2025, perseroan mencatat pendapatan senilai Rp5,03 triliun atau 90% dari target.
Pendapatan tersebut didukung oleh pergeseran strategis dari mengejar volume unit ke pengembangan produk bernilai tinggi atau luxury value. Chrissandy menyampaikan bahwa 2026 akan menjadi tahun perluasan fasilitas. Sejalan dengan strategi intensifikasi, perseroan juga melakukan pembaruan identitas lewat The Paramount Tree.
Identitas Baru sebagai Fondasi Fase Baru
M Nawawi menambahkan bahwa identitas, logo, dan tagline baru ini menjadi fondasi untuk fase baru, serta komitmen untuk mengembangkan kawasan dengan tanggung jawab, memperluas fasilitas dan peluang, serta memastikan relevansi kawasan bagi generasi kini dan nanti.
Pengembangan kawasan saat ini telah masuk fase kedewasaan kawasan dengan skala kota yang sudah terbentuk hingga konsistensi kualitas dan integrasi hunian, komersial, serta gaya hidup.
Pengembangan Township Skala Besar
Hendra Hartono, CEO dan Co-Founder Leads Property, menekankan bahwa pengembangan township skala besar saat ini cenderung hanya bisa dilakukan oleh developer berpengalaman yang telah memiliki landbank sejak lama. Developer besar yang telah memegang lahan sejak sebelum 1998 lebih mampu mengembangkan proyek township. Sedangkan developer baru, termasuk yang berasal dari luar negeri, lebih sering menggarap perumahan skala kecil atau bermitra dengan pemain besar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar