
Kemenag RI Segera Menyalurkan Bantuan untuk Pemulihan Wilayah Terdampak Banjir
Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia menunjukkan respons cepat dalam menangani dampak bencana alam yang terjadi di Sumatra Barat. Melalui Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenag, Khairunas, bantuan senilai total Rp10,225 miliar diserahkan langsung untuk membantu pemulihan masyarakat dan infrastruktur keagamaan yang terdampak banjir.
Penyerahan bantuan ini dilakukan di Padang pada hari Selasa (30/12), kepada Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Sumatra Barat dan UIN Imam Bonjol Padang. Khairunas menegaskan bahwa aksi ini merupakan instruksi langsung dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. Penyaluran bantuan ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara serta solidaritas seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag terhadap warga Sumatra Barat.
“Atas penugasan langsung Menteri Agama, saya hadir di Sumatera Barat untuk menyerahkan bantuan sekaligus memastikan negara hadir bagi ASN dan masyarakat terdampak,” ujar Khairunas, Rabu (31/12). Ia juga menyampaikan duka mendalam dari Menteri Agama bagi para korban bencana tersebut.
Menurutnya, bantuan ini adalah wujud empati dan ketulusan jajaran Kemenag untuk membantu pemulihan lembaga keagamaan dan ASN di wilayah terdampak. Total bantuan sebesar Rp10,225 miliar tersebut bersumber dari dua kanal utama, yakni APBN dan program donasi internal "Kemenag Peduli".
Adapun perinciannya, dana APBN sebesar Rp8,16 miliar digunakan khusus untuk rehabilitasi serta pemulihan sarana dan prasarana layanan keagamaan serta pendidikan Islam di Sumatera Barat. Sementara itu, program Kemenag Peduli sebesar Rp2,065 miliar berasal dari Pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang sebesar Rp1 miliar, pembersihan ruang belajar yang terdampak bencana sebesar Rp500 juta, transfer bantuan langsung sebesar Rp400 juta, santunan bagi 33 ASN terdampak sebesar Rp165 juta atau masing-masing Rp5 juta.
Selain itu, ada bantuan khusus untuk Pondok Pesantren Harakatul Qur’an dan Ponpes MTI Batang Kabung sebesar Rp200 juta atau masing-masing Rp100 juta.
Tindakan Nyata dalam Penanganan Bencana
Khairunas menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada doa dan empati semata, melainkan harus dibuktikan dengan tindakan terukur. Keselamatan ASN dan keberlanjutan layanan publik, seperti Madrasah, KUA, dan Penyuluh Agama, menjadi prioritas utama.
“Dalam situasi bencana, yang paling utama adalah keselamatan manusia dan keberlanjutan pelayanan. ASN Kementerian Agama tidak boleh dibiarkan menghadapi musibah sendirian,” tegasnya.
Selain bantuan materiel, Irjen Khairunas mengajak masyarakat untuk memperkuat ekoteologi—sebuah konsep keagamaan yang peduli pada kelestarian lingkungan. Kemenag mendorong aksi nyata seperti menanam pohon dan menjaga sungai sebagai langkah preventif bencana di masa depan.
“Jika kita bersahabat dengan alam, menjaga sungai, menanam pohon, dan merawat lingkungan, insya Allah alam pun akan bersahabat dengan manusia,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar