Penjelasan Kemenkes Terkait Bantuan Pascabanjir Aceh Utara
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberikan penjelasan terkait pernyataan pemerintah kabupaten Aceh Utara yang menyebut bahwa mereka telah meminta bantuan alat kesehatan, bahan medis habis pakai (BMHP), serta mesin generator listrik pasca banjir pada 26 November 2025. Menurut informasi yang diberikan oleh Kemenkes, bantuan tersebut sudah disalurkan sesuai dengan mekanisme penanganan bencana.
Mekanisme Penyaluran Bantuan
Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, menjelaskan bahwa bantuan dari pusat dikirim melalui Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Di sana, Health Emergency Operation Center (HEOC) bertugas sebagai pusat distribusi yang merencanakan, mendistribusikan, memonitor, dan mengevaluasi penanganan kesehatan saat bencana.
“Jadi mekanismenya dari pusat kirim ke Dinkes Provinsi. Di sana ada HEOC yang berfungsi sebagai hub untuk merencanakan, mendistribusikan, memonitor, dan mengevaluasi penanganan kesehatan saat bencana,” ujar Aji saat dihubungi IDN Times, Jumat (26/12/2025).
Pengiriman Emergency Kit
Kemenkes telah mengirimkan 34 emergency kit ke Dinkes Provinsi Aceh. Emergency kit ini berisi berbagai alat kesehatan untuk pelayanan kegawatdaruratan dasar dan dilengkapi dengan rencana distribusi ke masing-masing kabupaten/kota, termasuk Aceh Utara.
“Untuk Aceh Utara memang sudah ada permintaan dan kami sudah menyiapkan lima emergency kit sesuai kebutuhan,” jelas Aji.

Tambahan Bantuan Langsung dari Pusat
Namun dalam pelaksanaannya, distribusi dari tingkat provinsi ke Aceh Utara belum berjalan sesuai rencana. Setelah menerima laporan dan melakukan konfirmasi ke Dinkes Aceh Utara, Kemenkes mengetahui bahwa bantuan tersebut memang belum diterima saat itu.
Mengetahui kondisi tersebut, Kemenkes kemudian mengirimkan tambahan bantuan langsung dari pusat, kali ini melalui jalur Medan dan dilanjutkan lewat darat ke Aceh Utara dan wilayah terdampak lainnya.
“Begitu kami tahu belum sampai, kami langsung kirimkan lagi tambahan dari pusat. Tapi saat proses pengiriman itu berlangsung, muncul pernyataan bahwa bantuan belum diterima. Itu benar secara faktual karena memang masih dalam perjalanan,” jelas Aji.

Kendala Distribusi dan Akses Transportasi
Aji menegaskan bahwa keterlambatan bukan karena Kemenkes tidak menyalurkan bantuan, melainkan akibat miskoordinasi distribusi di tingkat provinsi serta kendala akses transportasi pasca bencana.
“Kan tidak mudah akses pesawat, jalur darat juga masih banyak kendala waktu itu. Tapi pengiriman sudah berproses, bukan berarti tidak kami penuhi,” kata dia.

Seluruh Bantuan Telah Diterima
Menurut Aji, sekitar tiga hingga empat hari setelah pernyataan tersebut, seluruh bantuan yang diminta, termasuk lima emergency kit untuk Aceh Utara, telah diterima oleh Dinkes setempat.
Saat ini, Kemenkes menyebut penanganan pascabencana telah memasuki tahap lanjutan. Seluruh rumah sakit rujukan di wilayah terdampak sudah kembali beroperasi, sementara sebagian besar puskesmas juga telah melayani masyarakat.
“Sekarang tinggal sembilan puskesmas di Aceh yang belum beroperasi penuh karena rusak berat atau terisolasi. Tapi sebagian tetap membuka layanan darurat,” ujar Aji.

Koordinasi Rutin dengan Daerah
Kemenkes memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah terus dilakukan. Bahkan, Menteri Kesehatan secara rutin menggelar rapat evaluasi dengan dinas kesehatan daerah, rumah sakit, dan puskesmas untuk memastikan kebutuhan seperti alat kesehatan, obat-obatan, listrik, air bersih, hingga oksigen dapat terpenuhi.
“Kami tidak berhenti bekerja. Dalam situasi bencana, distribusi memang bertahap dan penuh tantangan, tapi kebutuhan dasar layanan kesehatan tetap menjadi prioritas,” ucap Aji.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar