
nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah mengidentifikasi lebih dari 2.000 pelaku usaha industri yang terdampak bencana di wilayah Sumatra. Jumlah tersebut tersebar di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut).
Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko S.A. Cahyanto menjelaskan bahwa pelaku usaha Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi yang paling terdampak oleh bencana ini. Dari total jumlah industri yang terkena dampak, sebagian besar berada di Aceh dan Sumbar.
Eko merinci, sebanyak 1.647 IKM terdampak berada di Aceh, 367 IKM di Sumbar, dan 52 IKM di Sumut. "Kami melakukan identifikasi terhadap industri yang terdampak. Industri besar tidak terlalu banyak. Namun untuk IKM sangat besar, khususnya di Aceh dan Sumatra Barat. Ada lebih dari 2.000 yang kami identifikasi terdampak bencana," ujar Eko dalam konferensi pers akhir tahun 2025 Kemenperin, Rabu (31/12/2025).
Selain IKM, bencana Sumatra juga berdampak terhadap pelaku usaha di sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE). Kemenperin mengidentifikasi ada lima usaha sektor industri ILMATE yang terdampak di Sumut.
Sub sektor manufaktur lain yang terdampak adalah Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Ada tiga usaha sektor IKFT yang terdampak di Aceh, dan satu usaha sektor IKFT yang terdampak di Sumbar.
Bencana Sumatra juga berdampak terhadap 28 usaha sektor industri aneka di Sumut dan enam usaha industri aneka di Sumbar. Memasuki tahun 2026, imbuh Eko, Kemenperin telah merancang program yang fokus mengupayakan pemulihan industri di tiga provinsi terdampak bencana, khususnya bagi IKM.
Prioritas program ini membantu para pelaku industri segera memulai kembali aktivitas produksi, terutama untuk bisa memenuhi kebutuhan di daerah tersebut. Melalui aktivitas industri itu, pemenuhan kebutuhan sehari-hari di wilayah terdampak tidak sepenuhnya bergantung dari bantuan luar daerah.
"Kami lakukan verifikasi secara langsung di awal tahun ini untuk memastikan industri kecil yang terdampak bisa secara mandiri memulai produksi, paling tidak untuk kebutuhan di daerah tersebut. Banyak sekali produk, terutama makanan dan minuman dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan masyarakat di sana," jelas Eko.
Eko mengatakan, program pemulihan industri ini akan berfokus pada tiga hal.
- Pertama, program restrukturisasi.
- Kedua, bantuan kredit.
- Ketiga, memfasilitasi pelaku industri melalui skema rumah-rumah produksi bersama.
Kemenperin juga ingin memastikan kelancaran rantai pasok (supply-chain) untuk memenuhi aktivitas industri. Program-program pemulihan tersebut menjadi usulan yang disampaikan oleh Menteri Perindustrian kepada Presiden terkait penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar