Kementerian PU Tambah Alat Berat Tangani Bencana Sumatera

Kementerian Pekerjaan Umum Berkomitmen Bantu Penanganan Pasca Banjir dan Longsor

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menunjukkan komitmennya untuk membantu penanganan pasca banjir dan longsor di beberapa wilayah Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, serta Aceh. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerjunkan alat berat ke lokasi bencana.

Menurut Menteri PU Dody Hanggodo, bantuan alat berat ini diambil dari penyedia jasa di masing-masing area yang terkena dampak bencana. Jika diperlukan, pihaknya akan mengambil alat berat dari wilayah lain yang tidak terdampak bencana tersebut.

"Contohnya, jika kita bicara Sumbar, Sumut dan Aceh. Riau enggak terdampak, kita ambil dari Riau. Yang terdekat, Bengkulu, Lampung, kita pinjem. Kita pinjem semua," ujar Dody usai rapat dengan Komisi V DPR RI, Selasa (2/12/2025).

Tambahan Alat Berat dalam Proses

Dody memastikan bahwa akan ada penambahan alat berat. Meskipun jalur belum terbuka sepenuhnya, pihaknya tetap berupaya untuk mempercepat proses pemulihan.

"Karena kan misalnya Aceh, itu air masih 80 cm terakhir tadi pagi. Jadi belum 100 persen alat berat bisa masuk," tambahnya.

Penambahan alat berat akan dilakukan secara masif, namun saat ini masih dalam tahap kalkulasi. Hingga 30 November 2025, sebanyak 56 unit ekskavator telah bekerja di berbagai lokasi, sementara 12 unit ekskavator tambahan sedang dalam proses mobilisasi hasil dukungan gabungan Kementerian PU, pemerintah daerah, TNI AD, serta mitra kerja.

Operasi di Aceh

Di Provinsi Aceh, BWS Sumatera I menurunkan 9 unit alat berat terdiri dari 7 excavator bekerja di lapangan serta 2 wheel loader sedang dalam mobilisasi. Kegiatan penanganan difokuskan pada pembersihan sedimen saluran pembuang, pembersihan area longsoran, serta operasi pintu pasang surut untuk mengurangi banjir akibat backwater.

Selain mengoptimalkan alat berat yang dimiliki, BWS Sumatera I juga mengerahkan alat berat dari mitra kerja yang kebetulan sedang bekerja di area sekitar untuk mempercepat pemulihan akses dan pengendalian aliran air.

Penanganan dilaksanakan di kabupaten-kabupaten terdampak seperti Aceh Barat, Pidie Jaya, Aceh Tenggara, Aceh Utara, dan Pidie.

Fokus di Sumatera Utara

Di Sumatera Utara, BBWS Sumatera II bersama BPJN Sumut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemkab Tapanuli Utara, dan TNI AD memusatkan penanganan pada pembukaan akses Jalan Nasional Tarutung–Sibolga yang terdampak puluhan titik longsor.

Sepuluh alat berat bekerja simultan sehingga dalam dua hari terakhir sepanjang 30 km dari total 60 km jalur sudah dapat dilalui kembali. Sebanyak 26 titik longsoran berhasil dibersihkan dan akses menuju Desa Sibalanga yang sebelumnya terisolasi kini dapat ditembus kendaraan roda empat.

Selain itu, dukungan material darurat berupa 60 geobag telah berada di lapangan, ditambah 849 geobag dan lebih dari 1.300 bronjong kawat di Tapanuli Tengah, disiapkan untuk penguatan tebing dan stabilisasi alur sungai.

Penanganan di Sumatera Barat

Untuk penanganan bencana di Sumatera Barat, fokusnya adalah pengerukan sedimen, pemulihan alur sungai, dan penanganan darurat infrastruktur sumber daya air.

Di Kota Padang, 1 ekskavator long arm dikerahkan untuk membersihkan sedimentasi pada intake PDAM, ditambah 2 unit mobile pump untuk mempercepat surutnya banjir di Kelurahan Ulak Karang Utara. Di Padang Pariaman, penanganan sedimentasi muara Batang Ulakan dilakukan guna memulihkan kapasitas aliran.

Di Kabupaten Agam, 1 ekskavator standar dikerahkan untuk membersihkan material banjir dan Kabupaten Solok memberikan bantuan bronjong sebanyak 200 unit untuk perbaikan darurat. Di Kabupaten Tanah Datar juga telah disalurkan sebanyak 200 bronjong untuk normalisasi dan pembentukan alur Sungai/Batang Malalo.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan