
Kehilangan yang Tak Terduga
Di tengah puing-puing sisa kebakaran yang terjadi pada Kamis, (11/12/2205) di Gang Muli atau Sungai Purun RT 21, Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, tangis Rosi pecah. Bagi Rosi, kehilangan bukan hanya tentang harta benda yang musnah, melainkan ketiga bocah kecil yang sudah dianggap seperti keponakannya sendiri.
Ketiga anak tersebut adalah Abdul Afif Alfarizi (6), Abizar Ramadani (4), dan Aninda Cahaya Putri Dewinda (1). Mereka adalah anak dari Winda Amelia Putri, tetangga yang baru beberapa bulan menempati kontrakan tersebut. Namun bagi Rosi, ketiganya menjadi bagian dari rutinitas harian.
"Mereka juga hiperaktif, saya sering mengurus mereka kalau mamanya capek," ujarnya sambil sesekali mengusap air mata. "Biasa aja, anaknya ceria-ceria," tambahnya, mencoba tersenyum mengenang momen-momen saat ia menjaga dan bermain bersama tiga bocah itu.
Kenangan yang Tak Pernah Hilang
Jamila, ibu dari Rosi sekaligus tetangga langsung korban, menceritakan sosok Winda sebagai ibu rumah tangga biasa. "Aman aja dia (Winda Amelia Putri), baik orangnya," katanya. Meskipun mengakui adanya dinamika rumah tangga lumrah, Jamila melihat keluarga kecil itu hidup normal selama menempati lingkungan mereka.
Namun, takdir berkata lain. Saat kejadian tragis itu berlangsung, baik Jamila maupun Rosi sedang tidak berada di rumah. Jamila sedang membantu iparnya berjualan, sementara Rosi anaknya sedang melayat ke tetangga lain.
"Saya tidak ada saat kejadian, anak saya juga tidak ada di rumah kemarin, pergi melayat," ungkapnya.
Menurut penuturan Rosi, Winda diketahui baru saja keluar rumah sesaat sebelum api mulai melalap bangunan mereka. Ia bilang ibu dari ketiga bocah itu baru mengetahui setelah ia dihubungi oleh warga saat kejadian.
"Baru beberapa menit dia keluar, dia ditelepon keluarga di sini ada kebakaran," jelasnya. "Dia (Winda) ndak tau kemana saat itu," katanya.
Kesedihan yang Mendalam
Kepergian tiga malaikat kecil, Afif, Abizar, dan Aninda, menyisakan lubang kesedihan mendalam, terutama bagi Rosi yang selama ini dekat dan sering bermain dengan ketiga bocah itu.
Kehilangan ini tidak hanya meninggalkan luka di hati Rosi, tetapi juga mengguncang seluruh komunitas sekitar. Ketiga bocah itu dikenal ramah dan ceria, selalu menjadi sumber kebahagiaan bagi siapa pun yang mengenal mereka.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan bisa berubah dalam sekejap. Dari kebiasaan harian yang tenang, tiba-tiba menjadi tragedi yang menyisakan kesedihan yang tak mudah terobati.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar