Kentang Industri Tumbuh di Cisarua, Bupati Jeje: Pertanian Bandung Barat Diperhatikan Skala Besar

Kemitraan Pemkab Bandung Barat dengan PepsiCo untuk Pengembangan Pertanian Kentang Industri

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor pertanian dengan menjalin kerja sama strategis dengan PT PepsiCo Indonesia Foods and Beverages. Bupati Jeje Ritchie menyampaikan apresiasi kepada perusahaan tersebut karena telah memberikan kepercayaan dalam mengembangkan pertanian kentang industri di wilayah ini.

Kerja sama ini menjadi momentum penting untuk transformasi pertanian menuju model modern yang terintegrasi dengan industri. "Pengembangan kentang industri kami tempatkan sebagai sektor strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan," ujarnya saat Penanaman Kentang Industri di Kompleks Rumah Sakit Jiwa Provinsi, Cisarua, Bandung Barat, Selasa, 2 Desember 2025.

Jeje menyebut kolaborasi ini sebagai bukti bahwa wilayah Bandung Barat kini mulai dilirik oleh dunia usaha skala besar, khususnya yang berpotensi di pasar global. Dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kepada petani diwujudkan melalui pemberian bantuan seperti mesin panen dan benih kentang. "Tentunya jelas harus dilibatkan. Kita beri pendampingan juga bagaimana caranya menjaga kualitas," kata Jeje Ritchie.

Sementara itu, Director of Government Affairs and Communication Pepsico, Gabrielle Angriani mengatakan program kemitraan ini bertujuan untuk mereplikasi kesuksesan yang telah dicapai oleh Thailand dalam menghasilkan kentang industri berkualitas tinggi. Program ini diawali dengan mengirim enam petani yang bertindak sebagai agregator dari tiga kabupaten yakni Garut, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat yang dikirim ke Chiang Mai, Thailand, pada Februari lalu. Selama satu minggu, mereka mendapatkan pelatihan intensif mengenai teknik penanaman, pengairan, dan penggunaan pupuk yang optimal.

"Di Indonesia, hasil kentang industri per hektar rata-rata hanya mencapai belasan hingga 20-an ton. Sementara di Thailand, hasilnya bisa 30 ton bahkan lebih. Inilah yang ingin kita pelajari dan terapkan di sini,” kata Gabrielle. Ia menambahkan bahwa secara iklim, kondisi Indonesia dan Chiang Mai memiliki kemiripan, sehingga teknik yang berhasil di Thailand diharapkan dapat diterapkan dengan sukses di Jawa Barat.

Salah satu fokus utama dalam pelatihan adalah optimalisasi penggunaan pupuk. “Penggunaan pupuk tidak boleh berlebihan. Itu yang kita pelajari sebagai salah satu rahasia sukses mereka,” kata Gabriel.

Jabar Jadi Prioritas Kentang Industri

Gabrielle mengatakan pemilihan Jawa Barat sebagai lokasi pengembangan kentang industri karena ketinggian lahan di atas 1.000 mdpl, akses logistik dan kesiapan petani. Saat ini, jenis kentang industri yang dikembangkan di Jawa Barat adalah varietas Bliss dan Atlantic. Namun, ke depannya Pepsico berharap dapat memperkenalkan varietas kentang yang hanya dimiliki oleh Pepsico (IP Pepsico) yang sudah ditanam di beberapa negara lain.

Mengenai harga jual kentang, Gabrielle menyatakan bahwa hal itu belum dikalkulasi karena saat ini perusahaan masih berfokus pada pengembangan dan panen perdana varietas yang ada. Ia menyebutkan program ini akan melibatkan ratusan hektar lahan kentang dan melibatkan ratusan petani tapi saat ini masih dalam tahap perdana atau trial pertama.

"Beberapa ratus hektar lah, cuma secara spesifiknya mungkin belum bisa di-mention, tapi beberapa ratus hektar. Petaninya juga ada ratusan, gitu. Ini masih tahun pertama," kata Gabrielle. Bagi petani yang tertarik untuk bergabung dalam program kemitraan ini, Pepsico mengarahkan mereka untuk menghubungi enam agregator (petani yang sudah dilatih) yang bertindak sebagai koordinator kelompok tani di wilayah Garut, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat.

Peran Kemenperin dalam Mendukung Investasi PepsiCo

Sementara itu, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Dyan Garneta mengatakan, investasi yang dilakukan oleh entitas PepsiCo Global ini merupakan investasi baru, setelah sebelumnya perusahaan tersebut sempat menutup operasi dan kini kembali menanamkan modal. Menurut Dyan, Kemenperin menaruh harapan besar agar investasi ini dapat menciptakan nilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar berfokus pada penjualan atau mencari pasar.

"Pepsi itu bukan hanya cari market, bukan cuma jualan di Indonesia, tapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Itulah yang ingin didorong sama Kementerian Perindustrian,” ujar Dyan. Aspek yang paling disoroti oleh Kemenperin adalah kemitraan yang terjalin antara industri dan petani, yang diklaim dapat mengamankan rantai pasok komoditas.

"Kami berharap ini nanti dari hulu ke hilir nyambung. Jadi petani panen sudah ada offtaker yang mengambil hasil panennya,” jelas Dyan. Beberapa petani lokal di Jawa Barat dilaporkan telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PepsiCo. Bentuk kerja sama ini mencakup transfer pengetahuan, termasuk pelatihan intensif. Kemenperin kata Dyan, berharap kerja sama ini dapat diperluas sehingga petani dapat menanam komoditas yang sesuai dengan spesifikasi industri dan hasil panennya langsung diolah menjadi produk bernilai tambah.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan