
Relawan Tunggal di Tengah Bencana
Di tengah krisis yang melanda kawasan Aceh Tengah, seorang warga bernama Khalis menjadi sorotan karena aksi heroiknya. Dalam beberapa hari pertama pascabencana banjir dan longsor, ia tampil sebagai relawan yang paling cepat bergerak.
Khalis mengaku mampu melakukan perjalanan bolak-balik hingga 4 hingga 6 kali dalam sehari. Ia menggunakan dua kapal boat miliknya untuk mengangkut warga dari berbagai kampung yang terisolasi. Warga yang dievakuasi berasal dari wilayah sekitar Danau Lut Tawar, seperti Kala Segi, Bewang, Bintang, hingga Gegarang. Akses jalan ke kampung-kampung ini sempat tertutup akibat longsoran tanah.
Pada hari pertama dan kedua setelah bencana, Khalis terus sibuk menjemput warga dari titik-titik terisolasi dan membawa mereka menuju Dermaga Al Fitrah, yang menjadi lokasi evakuasi terdekat. Setiap kali perjalanan, boat miliknya mampu mengangkut hingga 25 orang.
Sejak hari pertama kejadian, saya sudah menolong puluhan warga yang meminta pertolongan, kata Khalis, Jumat (12/12/2025).
Dalam dua hari pertama itu, ia menyebut belum ada kehadiran dari instansi resmi. Dihari pertama kejadian hingga Sabtu, sebelumnya belum ada BPBD maupun pemerintah, ungkapnya.
Dorongan Hati, Bukan Perintah
Apa yang dilakukan Khalis murni karena dorongan hati. Tidak ada permintaan, tidak ada perintah. Saya hanya ikut perasaan, karena kasihan melihatnya, ucap Khalis.
Tindakan Khalis menjadi penyelamat bagi puluhan warga yang hanya mengandalkan jalur air untuk keluar dari kepungan bencana. Di tengah keterbatasan peralatan dan situasi darurat, ia tetap berusaha memberikan bantuan sebaik mungkin.
Kondisi Wilayah Terdampak
Wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana sangat sulit dijangkau. Longsoran tanah menutupi seluruh akses jalan, sehingga warga harus mencari alternatif lain untuk keluar dari daerah tersebut. Dengan menggunakan perahu, Khalis berhasil mengangkut banyak warga yang terjebak di tengah kondisi yang sangat genting.
Kesadaran dan Tanggung Jawab Sosial
Khalis menunjukkan bahwa kesadaran akan tanggung jawab sosial bisa muncul dari diri sendiri, bahkan tanpa adanya instruksi atau bantuan dari pihak luar. Ia tidak hanya bertindak sebagai relawan, tetapi juga menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk tidak berpangku tangan di tengah bencana.
Kehadirannya di tengah krisis menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian dapat menjadi kunci dalam menghadapi situasi sulit. Meskipun tidak memiliki alat bantu yang lengkap, Khalis tetap berupaya maksimal untuk menyelamatkan nyawa warga yang terancam.
Harapan untuk Masa Depan
Meski aksi Khalis adalah bentuk respons darurat, hal ini juga menjadi pengingat bahwa pentingnya persiapan dan koordinasi antara masyarakat dan pihak berwenang dalam menghadapi bencana. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat, harapan besar dapat dibangun untuk mempercepat proses pemulihan dan pencegahan bencana di masa depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar