Kesaksian Mahasiswa Unima: Dosen Diduga Lakukan Pelecehan pada Evia Maria Mangolo

Kesaksian Mahasiswa Unima: Dosen Diduga Lakukan Pelecehan pada Evia Maria Mangolo

Kesaksian Mahasiswa Universatu Negeri Manado Mengenai Dugaan Pelecehan Oleh Oknum Dosen

Seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima) ditemukan meninggal dunia di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Korban bernama Evia Maria Mangolo, yang berasal dari Kepulauan Sitaro, mengalami kematian tragis yang langsung menarik perhatian publik dan memicu berbagai spekulasi terkait penyebab kematian korban.

Salah satu informasi yang menjadi sorotan adalah ditemukannya sebuah surat goresan pena yang diduga ditulis oleh korban sebelum meninggal. Dalam surat tersebut, Evia menyampaikan dugaan pelecehan yang dialaminya dari seorang oknum dosen. Surat itu memiliki tanggal penulisan yang jelas, yaitu 16 Desember 2025, dan ditujukan secara resmi kepada pihak dekanat fakultas tempat ia kuliah.

Kasat Reskrim Polres Tomohon, Royke Mantiri, menjelaskan bahwa surat tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam penyidikan kasus ini. Setelah surat tersebut viral di media sosial, salah satu oknum dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima Tondano, Sulawesi Utara, yang berinisial DM, disorot publik.

Dalam surat tersebut, Evia menyebutkan bahwa dirinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum dosen DM. Kejadian ini membuat para mahasiswa dan alumni ramai membagikan foto korban dan oknum dosen tersebut. Banyak dari mereka yang prihatin dengan kondisi tersebut, sementara beberapa lainnya mengungkap sifat oknum dosen tersebut.

N, seorang alumni FIP Unima, menceritakan pengalamannya saat masih menjadi mahasiswa. Ia mengatakan bahwa dirinya dan teman-temannya pernah diminta untuk mencuci baju oleh oknum dosen tersebut. "Waktu itu saya pilih bagian menyetrika baju," katanya.

Selain itu, N juga mengungkap bahwa oknum dosen tersebut sering membahas hal tak wajar saat masuk ruang kuliah. "Dia selalu bahas soal hal intim saat masuk. Pernah juga suruh kumpul uang," ungkapnya.

Riand Salu, seorang alumni lainnya, menyatakan bahwa kasus ini bukanlah kejadian tunggal. "Oknum dosen tersebut telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun," katanya. Ia juga menyebut bahwa tidak ada sanksi tegas yang diberikan oleh pihak kampus selama ini.

"Ini adalah kegagalan serius institusi. Ketika kekerasan seksual dibiarkan dan sanksi dijatuhkan setengah hati, korbanlah yang menanggung dampak paling tragis," tegas Riand.

GMNI Minahasa mendesak agar kasus ini ditangani secara transparan, sanksi tegas diberikan kepada pelaku sesuai hukum, serta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penanganan kekerasan seksual di UNIMA. "Kampus harus bertanggung jawab, memastikan ruang pendidikan yang aman dan manusiawi," lanjutnya.

Riand berharap agar tragedi serupa tidak kembali terulang. "Tidak boleh ada lagi pembiaran. Kampus harus berpihak pada korban dan keadilan," tutupnya.

Kronologi Penemuan Jasad Mahasiswi di Indekost Matani Satu Tomohon

Menurut informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR menerima panggilan dari salah satu penghuni kost yang memberitahu bahwa ada seorang penghuni yang ditemukan meninggal.

Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost. Setibanya di tempat kejadian, YR melihat korban berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal. Selanjutnya, YR menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut.

Beberapa saat kemudian, personel Polsek Tomohon Tengah langsung mendatangi lokasi kejadian. Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Jasad Evia Diotopsi

Setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di jasad Evia, pihak keluarga memutuskan untuk melakukan otopsi. Menurut Ketsia, tante dari Evia, pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut, ia memperoleh dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah.

"Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka," katanya. Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas. "Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi," katanya.

Ia menuturkan, ayah dari almarhum sudah tiba sejak Rabu dini hari. Rabu pagi, ia bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi. Dia menerangkan, sesungguhnya jenazah direncanakan pulang pada Kamis. Namun batal karena ada otopsi.

Sebelum ditemukan tewas tragis, Evia dikenal sebagai pribadi yang baik, rajin, pintar, dan agak pendiam. "Ia memang pendiam, tapi rajin," katanya. Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok. Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas.

"Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya," katanya. Ia mengatakan, Evia juga pintar. Selain itu baik hati. Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar.

Dikatakannya, ia sempat menelepon Evia, apakah hendak pulang saat Natal. "Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket," katanya. Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu. Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos.

"Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia)," katanya. Ia mengatakan, sang ponakan sempat mengunggah story tengah mandi di pantai bersama adiknya sebelum Natal.

Lalu menyusul story lainnya. "Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama," katanya.


MAHASISWI TOMOHON TEWAS - Foto jasad Maria Antoineta Evia Mangolo, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal di tempat kos Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), diduga menjadi korban pelecehan oleh dosennya sendiri, Rabu (31/12/2025).

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan