
Pengertian Gaslighting dan Playing Victim
Kata-kata seperti “gaslighting” dan “playing victim” sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika terjadi konflik emosional. Meskipun keduanya bisa membuat seseorang merasa bersalah dan tertekan, maknanya dan tujuannya berbeda.
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang dapat membuat orang lain meragukan diri sendiri. Dalam pemberitaan di situs nurulamin.pro, Fitri Jayanthi, pendiri Cup of Stories dan psikolog, menjelaskan bahwa gaslighting biasanya dilakukan dengan cara membohongi korban dan meragukan realitas mereka. Akibatnya, korban mulai mempertanyakan pengalaman dan persepsi mereka.
Sementara itu, playing victim adalah situasi di mana seseorang merasa selalu menjadi korban. Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri untuk segala hal yang terjadi, meskipun tidak sepenuhnya benar.
Tujuan Gaslighting dan Playing Victim
Tujuan dari gaslighting adalah agar orang lain mengambil tanggung jawab atas masalah yang sebenarnya disebabkan oleh pelaku. Ini membuat korban meragukan ingatan, kewarasan, dan kemampuan mereka untuk membedakan fakta. Akibatnya, korban bisa mengalami rasa tidak aman, penurunan rasa percaya diri, dan bergantung pada pelaku untuk mengonfirmasi persepsi mereka.
Di sisi lain, tujuan dari playing victim adalah untuk mendapatkan simpati dari orang lain. Menurut buku “Family Constellation” karya Meilinda Sutanto, playing victim digunakan sebagai sarana untuk mencari perhatian dan mengontrol pikiran serta perasaan orang lain demi mendapat belas kasihan.
Perbedaan dalam Perilaku
Orang-orang yang melakukan gaslighting biasanya takut untuk mengambil tanggung jawab karena takut dikritik. Mereka ingin terlihat sempurna di mata orang lain. Ketika mereka melihat situasi yang disebabkan oleh kesalahan mereka, mereka akan melakukan gaslighting ke orang lain, baik itu pasangan, keluarga, teman, maupun rekan kerja.
Sementara itu, orang-orang yang suka playing victim cenderung mencari simpati karena berbagai faktor. Misalnya, mereka pernah berhasil mendapatkan perhatian dengan cara ini di masa lalu atau memiliki kepribadian yang selalu mencari perhatian. Mereka mungkin awalnya mencari perhatian dengan cara yang sehat, tetapi tidak mendapat respons yang diharapkan. Akhirnya, mereka menemukan bahwa cara yang salah justru memberikan perhatian yang mereka butuhkan.
Contoh Perilaku Gaslighting
Beberapa contoh perilaku gaslighting antara lain:
- Koersi: Melibatkan paksaan atau ancaman, baik verbal, emosional, fisik, maupun finansial. Contohnya adalah teman yang cemburu dan diam setiap kali kamu menghabiskan waktu dengan orang lain.
- Trivializing: Meremehkan perasaan korban, misalnya dengan mengatakan, “Kamu terlalu sensitif” atau “Kamu gila”. Contoh lainnya adalah bos yang menyindir saat kamu meminta dibayar lembur dengan berkata, “Apakah kamu pikir kamu lebih baik dari yang lain”.
Contoh Perilaku Playing Victim
Perilaku playing victim bisa dilihat dari beberapa aspek, seperti:
- Merasa menjadi orang yang paling lemah karena merasa tidak mampu, sehingga sering menghindar dari tanggung jawab.
- Selalu membandingkan diri dengan orang lain dengan cara negatif, padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Dengan memahami perbedaan antara gaslighting dan playing victim, kita bisa lebih waspada terhadap tindakan-tindakan yang bisa merugikan diri sendiri atau orang lain. Penting juga untuk menjaga kesehatan mental dan tidak mudah terpengaruh oleh manipulasi emosional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar