Keterbatasan Guru Tak Hentikan SKB Tenggarong Seberang Berikan Pendidikan ke Masyarakat

Keterbatasan Guru Tak Hentikan SKB Tenggarong Seberang Berikan Pendidikan ke Masyarakat

Keterbatasan Tenaga Pendidik Tidak Mengurangi Komitmen SKB Tenggarong Seberang

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Tenggarong Seberang terus berupaya memberikan layanan pendidikan nonformal kepada masyarakat, meski menghadapi keterbatasan jumlah tenaga pendidik. Berbagai program pendidikan tetap berjalan, meskipun sumber daya manusia yang tersedia masih jauh dari ideal.

Staf sekaligus tenaga pendidik SKB Tenggarong Seberang, Tri Mulyanto, menjelaskan bahwa secara fasilitas, dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sudah cukup memadai dan sangat membantu aktivitas pembelajaran di SKB. Ia menyampaikan bahwa gedung dan peralatan telah didukung dengan baik oleh pemerintah setempat.

Namun, tantangan terbesar yang masih dihadapi SKB Tenggarong Seberang adalah minimnya tenaga pendidik berstatus aparatur sipil negara (PNS). Kondisi ini dinilai memengaruhi optimalisasi peran pamong belajar sebagai ujung tombak pendidikan nonformal.

“Kami mohon dukungan pemerintah daerah, terutama terkait tenaga pendidik. Di SKB Tenggarong Seberang ini masih banyak tenaga honorer. Padahal ujung tombak SKB adalah Pamong Belajar, dan syaratnya harus PNS,” jelas Tri Mulyanto.

Saat ini, SKB Tenggarong Seberang memiliki 21 tenaga pengajar. Jumlah tersebut masih di bawah standar ideal sebanyak 35 pamong belajar. Dari total tenaga yang ada, hanya dua orang berstatus PNS, sementara posisi kepala SKB masih dijabat oleh Pelaksana Tugas (PLT).

Tri Mulyanto juga mengungkapkan bahwa satu tenaga pendidik telah berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namun penempatannya justru berada di Dinas Pendidikan, bukan di SKB Tenggarong Seberang.

Di tengah keterbatasan tersebut, para tenaga pengajar tetap menjalankan berbagai program pendidikan nonformal, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/Sekolah Persiapan Sekolah (SPS), Paket A, B, dan C, hingga kegiatan pemberantasan buta aksara bagi warga lanjut usia.

Harapan mereka adalah agar pemerintah bisa segera membuka formasi pamong belajar, khususnya untuk SKB Tenggarong Seberang. Semoga dengan peningkatan status tenaga pendidik, layanan pendidikan akan semakin maksimal.

Program Pendidikan Nonformal yang Terus Berjalan

Berikut beberapa program pendidikan nonformal yang terus dijalankan oleh SKB Tenggarong Seberang:

  • Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
    Program ini bertujuan untuk memberikan dasar pendidikan awal kepada anak-anak usia dini, sehingga mereka siap masuk ke jenjang pendidikan formal.

  • Sekolah Persiapan Sekolah (SPS)
    SPS menjadi jembatan antara PAUD dan sekolah dasar. Program ini membantu anak-anak dalam meningkatkan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung.

  • Paket A, B, dan C
    Program ini ditujukan untuk masyarakat yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan formal. Paket A untuk tingkat SD, Paket B untuk SMP, dan Paket C untuk SMA.

  • Pemberantasan Buta Aksara
    Kegiatan ini fokus pada warga lanjut usia yang belum mampu membaca dan menulis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi dan kualitas hidup mereka.

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan

Meski menghadapi berbagai tantangan, SKB Tenggarong Seberang tetap berkomitmen untuk terus memberikan layanan pendidikan nonformal yang berkualitas. Para tenaga pendidik bekerja keras meskipun jumlah mereka masih jauh dari ideal.

Dalam waktu dekat, harapan besar ditempatkan pada pemerintah daerah untuk segera membuka formasi pamong belajar. Dengan tambahan tenaga pendidik yang lebih memadai, SKB Tenggarong Seberang dapat lebih optimal dalam menjalankan perannya sebagai pusat pendidikan nonformal.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan