
Artikel ini ditulis untuk mengeksplorasi dampak dari fenomena anak yang tumbuh tanpa ayah atau ibu di Indonesia. Artikel ini disusun oleh kelompok 8 dengan anggota: Mohamad Andra Posangi (01701425048), Nazwa Mayaratri Lihawa (01701425047), dan Ahmad Azyansyah M. Karim (01701425049). Dosen pembimbing adalah Khusnul Khatimah, S.Psi., M.Si. Program Studi Psikologi Universitas Negeri Gorontalo.
Berdasarkan laporan UNICEF Indonesia tahun 2021, sebanyak 20,9 persen anak di Indonesia hidup tanpa ayah. Selain itu, sekitar 826.875 anak kehilangan kedua orang tuanya akibat pandemi COVID-19. Data terbaru dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS pada Maret 2024 menunjukkan bahwa jumlah anak yang berpotensi fatherless mencapai 4,4 juta. Ketidakhadiran salah satu orang tua bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kematian, perceraian, atau pekerjaan yang sangat sibuk. Hal ini dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak serta bagaimana mereka diperlakukan dalam pengasuhan. Di dalam keluarga, anak pertama kali belajar tentang moral dan pengetahuan lainnya.
Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak
Secara umum, keluarga memiliki pengaruh besar pada perkembangan anak karena merupakan lingkungan pertama yang ditemui anak sebelum bergaul dengan lingkungan sosial. Sikap yang ditunjukkan anak di lingkungan sosial biasanya berasal dari pendidikan yang diberikan oleh orang tua selama masa di lingkungan keluarga. Namun, seiring berkembangnya lingkungan sosial, kepribadian atau sikap yang telah dibentuk dari masa keluarga mungkin berubah atau dimodifikasi.
Salah satu faktor penting dalam membentuk kepribadian anak adalah komunikasi antara anak dan orang tua. Pola asuh yang otoriter membuat anak menjadi ragu-ragu dan serba salah. Pola demokratis membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab. Pola permisif membuat anak sulit diatur. Pola asuh terbaik adalah yang mendorong perkembangan kognitif anak tanpa menyebabkan trauma. Pola asuh ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan budaya masyarakat yang diyakini orang tua. Kondisi finansial yang buruk sering memicu konflik dalam keluarga.
Pengaruh Orang Tua pada Minat Belajar
Keluarga juga memengaruhi minat belajar anak. Hubungan keluarga yang harmonis dan komunikasi yang baik dengan anak akan mendorong motivasi belajar. Minat belajar yang baik tidak datang dari paksaan, melainkan rasa suka dan senang yang muncul dari anak sendiri. Orang tua perlu mendorong rasa ingin tahu anak, membimbing dalam belajar, dan memberikan kebutuhan fisik yang dibutuhkan. Kondisi ekonomi dan hubungan antar-keluarga menjadi faktor eksternal yang memengaruhi suasana rumah, sehingga memengaruhi tingkat keharmonisan rumah tangga.
Pengaruh Keluarga pada Perkembangan Seksual Anak
Keluarga juga berperan dalam perkembangan seksual anak remaja. Lingkungan keluarga yang mendukung dapat mengurangi risiko perilaku seksual yang berisiko. Komunikasi yang erat antara orang tua dan anak meningkatkan pengawasan efektif. Pendidikan seksual yang baik dapat mengurangi risiko perilaku seksual menyimpang karena remaja awal merupakan masa eksplorasi yang tinggi.
Dampak Ketidakhadiran Ayah dan Ibu
Anak-anak yang tumbuh tanpa salah satu orang tua menghadapi tantangan berbeda. Berikut beberapa dampak yang muncul:
1. Perbedaan dalam Lingkungan Sosial
Budaya yang berbeda menciptakan pola keluarga yang berbeda. Perbedaan ini bisa membuat anak merasa "berbeda" dibanding teman sebayanya. Misalnya, anak yang tidak memiliki salah satu orang tua atau memiliki orang tua tiri akan merasa inferior. Hal ini bisa menyebabkan dikucilkan dari lingkungan sosial.
2. Ketidakhadiran Ibu
Keterlibatan ibu sangat penting dalam pengasuhan. Ketidakhadiran ibu secara psikologis dapat menyebabkan kekosongan emosional. Anak rentan mengalami rasa tidak berharga dan tidak dicintai. Anak yang motherless cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan pertemanan dan mengalami gangguan psikologis seperti rendah diri dan kecemasan.
3. Ketidakhadiran Ayah
Anak yang tumbuh tanpa ayah mengalami kesulitan dalam mengelola emosi. Mereka lebih mudah marah atau menarik diri. Anak laki-laki sulit membangun sikap maskulinitas yang sehat, sedangkan anak perempuan cenderung memiliki standar yang terlalu tinggi atau rendah terhadap pasangannya.
4. Pengaruh Orang Tua pada Orientasi Seksual
Peran ibu dan ayah sangat penting dalam pembentukan identitas gender. Ketidakhadiran orang tua dapat menyebabkan anak tumbuh bebas tanpa batasan. Hal ini bisa memengaruhi orientasi seksual dan memicu masalah seperti kebingungan identitas.
Kesimpulan
Ketidakhadiran ayah atau ibu dalam kehidupan anak memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan seksual. Anak yang tumbuh tanpa salah satu orang tua cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan, mengelola emosi, dan memahami identitas diri. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk memberikan pengasuhan yang utuh dan mendukung perkembangan anak secara optimal.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar