Ketika Amien Rais Dapat Telepon Gelap dan Anaknya Diancam Sebelum Soeharto Jatuh

Pengalaman Menegangkan Saat Masa Reformasi

Amien Rais, seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu pelaku penting dalam era Reformasi di Indonesia, mengungkapkan pengalamannya menjelang turunnya Soeharto. Pada saat itu, ia menghadapi berbagai ancaman yang sangat menakutkan, baik terhadap dirinya sendiri maupun keluarganya.

Pada acara YouTube Refly Harun, Amien Rais menceritakan bagaimana situasi menjelang reformasi begitu menegangkan. Ia menyebut bahwa TNI, yang biasanya bertindak sebagai pihak yang memperkuat pemerintah, pada masa itu justru menjadi sumber ketakutan bagi banyak orang. Dalam wawancara tersebut, Refly Harun bertanya tentang kondisi Amien menjelang peristiwa 21 Mei 1998.

"Sebelum tanggal 20 Mei, apakah Pak Amien pernah mengalami ancaman seperti pembunuhan atau intimidasi?" tanya Refly. Amien Rais mengiyakan pertanyaan tersebut dan menceritakan bahwa dirinya pernah menerima telepon gelap. Telepon tersebut merupakan ancaman yang membuatnya merasa tidak aman.

"Ancaman telepon gelap," kata Amien. Ia bahkan menantang orang yang meneleponnya untuk datang langsung kepadanya. "Apa Anda sudah bosan hidup? Datanglah kalau mau bicara," ujarnya menirukan percakapan dengan pengancam. Namun, setelah itu, si pengancam langsung menutup telepon.

Meskipun tidak takut terhadap ancaman terhadap dirinya, Amien mengakui bahwa ia merasa takut saat keselamatan anaknya terancam. Anaknya diancam akan disiram air keras, yang bisa menyebabkan buta. "Waktu itu saya agak grogi ketika mendengar 'Hei Amien Rais, kita tahu lho jadwal anak-anakmu sekolah di mana, kapan, nanti kita siram air raksa biar buta'," ujar Amien.

Ia kemudian berdoa agar ancaman tersebut tidak terjadi. "Itu juga saya, 'Ya Allah mudah-mudahan enggak'," katanya.

Selain ancaman terhadap dirinya dan anaknya, Amien juga menerima telepon palsu yang menakut-nakuti keluarganya. Istri Amien menerima panggilan dari seseorang yang mengatakan bahwa suaminya meninggal akibat kecelakaan di Magelang. "Kemudian istri saya jam delapan pagi ditelepon, 'Bu Amien ini Pak Amien Rais kecelakaan di jalan Magelang, meninggal dunia'," jelas Amien.

Ia menuturkan bahwa istrinya langsung menjawab bahwa suaminya baru saja pergi ke kampus. Mendengar hal tersebut, Refly Harun tertawa.

Dari semua ancaman yang ia terima, Amien merasa heran mengapa dirinya begitu berani. "Jadi memang waktu itu saya kadang-kadang juga mengapa saya dulu begitu berani, saya tidak tahu juga," ujarnya.

Namun, dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa kekuasaan tertinggi sebenarnya berada di tangan rakyat. "Yang kita hadapi kan sebuah mesin birokrasi, mesin militer, mesin politik yang sepertinya kokoh sekali, tidak terbayangkan bisa turun secara konstitusional," ujarnya. "Rakyat itu memang akhirnya pemilik kedaulatan sejati," tambahnya.

Kesimpulan

Pengalaman Amien Rais selama masa reformasi menunjukkan betapa berbahayanya situasi yang dihadapi oleh para tokoh yang ingin mengubah sistem pemerintahan. Ancaman terhadap diri sendiri dan keluarga menjadi bagian dari proses perjuangan menuju perubahan. Meski begitu, keberanian Amien Rais membuktikan bahwa rakyat adalah penentu utama kekuasaan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan