
Kehidupan yang Penuh Perjalanan
Teriakan "Bang Raja, senyum Bang Raja" terdengar nyaring dari bawah panggung di antara kilauan lighting yang memantulkan kilatan cahaya ke kacamata yang saya pakai. Saya langsung berpikir, "Wah, apa saya keliatan kurang senang ya di atas panggung?".
Entahlah! Yang jelas perasaan saya campur aduk dengan muka saya yang baru sedetik saja menginjakkan kaki di Jakarta, seketika hinyay terpapar panasnya cuaca ibukota. Tapi jauh dari itu, pikiran saya melayang ke masa lalu. Mungkin fisik saya berada di atas panggung, dilihat oleh ratusan penulis penuh passion, tapi jiwa dan pikiran saya bermain-main. Mengingat-ingat setiap perjalanan, memanggil-manggil setiap memori yang pernah singgah.
Benarkah "Best in Passion" itu? Entah saya harus memulai ceritanya dari mana. Rasanya ada banyak cerita yang ingin saya ungkapkan, tapi selalu terjebak dalam kotak "bahwa cerita hidup saya tidak menarik untuk diceritakan, apalagi dibaca orang lain".
Dari Piala yang Hancur Berkeping-keping
Sebagaimana anak kecil pada umumnya, setiap ditanya apa cita-cita, Raja kecil menjawab dengan profesi umum: ingin menjadi ABRI. Mungkin karena ia lahir bertepatan dengan ultah ABRI. Tapi semua itu bermula, ketika sebuah sinetron (yang legendaris), syuting di sekitaran rumahnya di Sukabumi. Ia ditawari peran-peran kecil, extras namanya. Terkadang ada dialog, tapi lebih sering tidak ada dialognya.
Raja kecil (hingga sekarang), tidak pernah menonton adegan di sinetron tersebut, karena tidak memiliki televisi di rumahnya. Ia pun tahu kemunculannya di sinetron dari teman-teman sekolahnya yang menonton. Hari demi hari, hingga mungkin mencapai 40 episode, ia tetap syuting tanpa pernah menontonnya. Honor sebesar 15 ribu rupiah pun ia terima. Dibelikanlah kasur dan televisi honor tersebut. Tapi, ironis. Saat televisi terbeli, tak muncul lagi ia di layar.
Tapi pengalaman itulah, barangkali yang menanamkan cita-cita bahwa menjadi aktor bisa mengubah nasib ekonomi diri dan keluarga. Sesederhana itu!
Awal Kecintaan pada Dunia Kepenulisan
Raja kecil beranjak remaja dan masuk SMP. Ia tetap bertahan dengan insecuritas-nya, terlebih semasa SD seringkali diejek, "Encek lu, Encek Lu". Lantas suatu ketika ia dipercaya oleh guru Bahasa Indonesia untuk mengikuti lomba "Cerdas Cermat Bulan Bahasa" mewakili sekolah, ia tetap menolak. Namun guru tersebut meyakinkan bahwasanya ia bisa berprestasi.
Dimulailah karantina di perpustakaan sekolah selama satu minggu. Buku pertama yang ia baca adalah "Si Jamin dan Si Johan" karya Merari Siregar. Kisahnya yang dekat dengan kehidupannya, barangkali menjadi momen pertama kalinya ia jatuh cinta pada sastra dan dunia kepenulisan. Buku-buku lain ia selesaikan baca. Hingga akhirnya meraih Juara II di lomba tersebut, yang cakupan wilayahnya meliputi Kab. Cianjur, Kota/Kab. Sukabumi, dan Kota/Kab. Bogor.
Setiap kali ada siswa yang berprestasi, maka akan diumumkan dan dipanggil ke depan lapangan setiap Senin saat upacara bendera. Ia hampir tidak pernah absen setiap minggunya. Entah sebab cerdas cermat, Pramuka, debat, speech contest, olimpiade akademik, tapi tidak pernah untuk kabaret atau teater.
Di universe yang lain, seseorang melihat bakat aktingnya saat ia menjadi peserta kompetisi "Siswa Teladan" mewakili sekolah. Di kompetisi itu, yang menguji semua aspek, termasuk "unjuk kabisa", ia menampilkan bakat akting di depan juri. "Kok bakatnya ini, mau menang gimana?". Nggak salah, ini ucapan salah satu juri di kompetisi itu.
Menemukan Jalan Baru
Seseorang yang masih percaya akan bakat dan mimpinya, mengajaknya mengikuti kontes "Mencari Bintang" tingkat nasional di Jakarta. Konsekuensinya, ia harus bolos beberapa hari dari sekolah. Ah, betapa senangnya ia. Dari ratusan peserta yang diseleksi secara berjenjang mulai dari kota, provinsi, hingga nasional, ia meraih juara pertama "Best Ekspresi". Yang diberikan pada peserta yang mampu menampilkan beragam ekspresi dan emosi akting (tanpa dialog sedikitpun).
Tapi kesenangan itu berlangsung sesaat saja. Seketika piala itu digenggam, muncul ketakutan ia untuk pulang ke rumah. Sengaja ia pulang larut malam, agar pintu rumah bisa dibukakan oleh almarhumah teteh (kakak perempuan)nya. Esok paginya, entah kata apa yang paling pas mendeksripsikan betapa hancur hatinya, ketika melihat piala yang ia bawa pulang semalam, berserakan di lantai, berkeping-keping tak terbentuk.
Ayahnya tidak suka ia bolos sekolah demi passion yang tak ada masa depannya itu. Tak ada patah hati paling menyakitkan selain mendapati mimpi dihancurkan oleh orang terkasih. Bahkan rasanya lebih sakit tak terbendung, dibanding putus cinta pertamanya dari wanita pujaannya di SMA.
Perjalanan di Bandung
Ia memulai babak baru perjalanannya dengan kuliah di Bandung, double degree, jurusan Bahasa Inggris dan Informatika. Akses terhadap internet yang lebih luas, membuat ia nyaman dan betah berlama-lama di lab. komputer. Mulailah ia menulis di situs Multiply yang kini sudah terkubur. Apapun ia tulis, tidak mengerti kaidah berbahasa yang benar, tidak mengerti niche apa yang harus ditulis, semua ia tulis hanya untuk release apa yang ada di kepalanya, yang tidak bisa ia ungkapkan kepada manusia.
Termasuk pelajaran hidup dari film-film yang ia tonton. Lama di Bandung, membuat ia jatuh cinta pada Bandung (hingga kini) dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bandung mencintai dia dengan segala mimpinya. Bandung tidak sinis memandang passion-nya.
Segala Kesempatan yang Didapat
Jadi kontributor kampus, penulis lepas, kontributor majalah, pemimpin redaksi, master of ceremony, host, moderator, analis klinik film, kurator festival, juri festival film, belajar skenario, workshop kritik, planning creative hub, hingga tukang pegang kabel di lokasi syuting, semua diberikan kesempatannya di Bandung. Dari Bandung ia banyak belajar dengan tokoh-tokoh hebat yang semakin meyakinkannya, bahwa passion ini harus tetap ditekuni. Terlepas naik turunnya, bergesekan dengan dinamika hidup yang tidak selamanya mulus.
Setiap detik yang singgah padanya, baginya adalah pembelajaran. Pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan, mengelola emosi dan empati, serta apapun hikmah yang bisa diambil dari setiap rezeki nafas yang berhembus.
Menuju Piala AiotradeAwards
Barangkali kisah-kisah hidup yang muncul bak montase editing film, yang tiba-tiba menyelinap acak di pikiran saya, yang membuat saya tampak kusut di atas panggung. Di kesempatan yang kedua, saya tidak berekspektasi apa-apa. Dengan segala pertaruhan, saya hadir ke Kompasianival 2025, semata-mata bentuk terima kasih dan apresiasi karena sudah diberikan ruang yang menyambut passion saya dengan hangat.
Saya tidak membantah, dan tidak perlu mengoreksi, tatkala ada yang melihat passion saya baru muncul di satu atau dua tahun belakangan. Saya malah bersyukur dan mengapresiasi, bahwasanya tulisan-tulisan saya (yang semoga bermanfaat) jadi bisa terbaca lebih luas lagi. Bahkan, sedari dulu saya memulai menulis, dengan tagline "Hanya Ingin Berbagi", saya tidak peduli bagaimana SEO bekerja, apakah tulisan saya ada banyak pembaca atau tidak. Biarkanlah algoritma yang sibuk, saya tidak harus lebih sibuk daripada mesin algoritma. Saya hanya cukup menulis dengan hati.
Penutup
Menutup tulisan ini, rasa-rasanya saya memang mulai jatuh cinta pada tagline "Every Story Matters". Sebuah tagline yang saya pandang skeptis pada tahun lalu, perlahan mendorong saya untuk mulai terbuka, bahwa setiap pribadi itu punya cerita unik dan berharganya sendiri.
Terima kasih aiotrade yang telah memberikan ruang kepercayaan, dan menjadi rumah lain yang nyaman bagi seorang Raja Lubis. Terima kasih untuk KOMiK, yang saat ini masih menjadi satu-satunya komunitas aiotrade yang saya ikuti. Dan terima kasih untuk seluruh kompasianer yang masih percaya, bahwa passion itu harus dijaga, dipelihara, dan senantiasa dirawat dan terus ditumbuhkan. Karena itu yang membuat kita tetap hidup sebagai manusia seutuhnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar