Ketika Warga Yogyakarta Kesulitan Cari Kerja, Peluang Semakin Sempit

Ketika Warga Yogyakarta Kesulitan Cari Kerja, Peluang Semakin Sempit

Kondisi Pasar Kerja yang Menyulitkan Warga Yogyakarta

Banyak warga di Yogyakarta mengaku semakin putus asa dalam mencari pekerjaan berkualitas, terlebih saat ini pasar kerja dinilai belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Mereka merasa kesulitan mendapatkan peluang kerja yang layak, terutama bagi mereka yang telah lama tidak berhasil diterima bekerja.

Rina (27), seorang lulusan universitas swasta di Yogyakarta, mengungkapkan bahwa ia sudah mengirimkan banyak lamaran ke berbagai perusahaan, tetapi hingga kini belum ada yang mau menerima. Awalnya ia optimis, tetapi setelah beberapa kali mengikuti wawancara dan hasilnya nihil, ia akhirnya memilih berhenti melamar.

“Saya capek sendiri. Sudah kirim banyak lamaran, sempat ikut wawancara tapi hasilnya nihil. Saya sekarang berhenti dulu, jujur saja sudah putus asa,” katanya pada Rabu (10/12/2025).

Kisah serupa juga dialami oleh Wahyu (34), mantan tenaga kontrak di sebuah perusahaan swasta. Setelah kontraknya tidak diperpanjang, ia mencoba berbagai pekerjaan serabutan. Namun, persaingan yang ketat dan tuntutan kualifikasi yang semakin tinggi membuatnya memilih untuk berhenti melamar.

“Kalau tidak ada pengalaman, nggak dilirik. Kalau umur lewat tiga puluh, makin susah. Akhirnya saya kerja apa saja harian,” ujarnya.

Fenomena warga yang berhenti mencari kerja ini sejalan dengan temuan lembaga riset yang menyebut meningkatnya kelompok “discouraged workers” atau mereka yang ingin bekerja tetapi menyerah karena merasa tidak ada peluang yang sesuai. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh lulusan SMA atau pekerja informal, tetapi juga oleh sarjana hingga lulusan pascasarjana.

Laporan Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyebut fenomena ini sebagai sinyal penting dalam kebijakan. Pada Februari 2025, terdapat 1,87 juta penduduk Indonesia yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa, berdasarkan data Sakernas 2024–2025. Jumlah ini naik 11 persen dari Februari 2024 yang berada di angka 1,68 juta orang.

“Lonjakan belasan persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi 'mencari kerja' menjadi 'menyerah', yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia,” ungkap laporan tersebut.

International Labour Organization (ILO) menilai discouraged workers atau mereka yang putus asa dalam hal pekerjaan sebagai bagian dari labour underutilisation. Kelompok ini adalah mereka yang ingin bekerja tetapi tidak terserap karena berbagai hambatan yang tidak selalu tercermin dalam angka pengangguran terbuka.

ILO dan Bank Dunia juga memandang discouraged workers sebagai gejala dini rapuhnya dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja. Fenomena ini memang bukan hanya terjadi di Indonesia. ILO mencatat pola serupa muncul di banyak negara berpendapatan menengah.

Tantangan dalam Mencari Pekerjaan Berkualitas

Beberapa faktor utama yang menyebabkan kesulitan warga Yogyakarta dalam mencari pekerjaan berkualitas antara lain:

  • Persaingan yang ketat: Banyak lulusan yang mencari pekerjaan, tetapi jumlah lowongan kerja tidak sebanding.
  • Tuntutan kualifikasi tinggi: Perusahaan cenderung memilih kandidat dengan pengalaman dan keterampilan khusus.
  • Kurangnya pelatihan dan pengembangan diri: Banyak pemuda tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
  • Kurangnya informasi tentang peluang kerja: Banyak orang tidak tahu di mana harus mencari pekerjaan yang cocok.

Solusi yang Dapat Dilakukan

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa langkah dapat dilakukan:

  • Pemerintah perlu meningkatkan program pelatihan dan pengembangan keterampilan agar warga lebih siap menghadapi tantangan pasar kerja.
  • Perusahaan harus lebih fleksibel dalam menentukan kualifikasi agar lebih banyak orang bisa mendapatkan kesempatan kerja.
  • Masyarakat perlu aktif mencari informasi tentang peluang kerja melalui media sosial, situs pencarian kerja, atau lembaga pelatihan.
  • Peningkatan kerja sama antara dunia pendidikan dan industri agar kurikulum pendidikan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Kesimpulan

Masalah putus asa dalam mencari pekerjaan yang dialami warga Yogyakarta merupakan indikasi bahwa pasar kerja masih menghadapi tantangan besar. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik dan memberi peluang yang lebih luas bagi semua kalangan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan