Ketua DPRD Bogor Minta Disdik Lakukan Pembinaan Atas Isu Diskriminasi di SDN Pajeleran 01

Ketua DPRD Bogor Minta Disdik Lakukan Pembinaan Atas Isu Diskriminasi di SDN Pajeleran 01

Penyelidikan Dugaan Diskriminasi Nilai oleh Guru di SDN Pajeleran 01

Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, mengungkapkan kekhawatiran terhadap dugaan diskriminasi nilai yang dilakukan oleh oknum guru di SDN Pajeleran 01. Ia menyoroti adanya indikasi bahwa siswa yang tidak mengikuti les berbayar mendapat perlakuan tidak adil dalam penilaian.

Ia meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor untuk memberikan pembinaan terhadap guru tersebut. "Jika memang inisiatif dari gurunya, maka perlu ada pembinaan dari Disdik agar hal seperti ini tidak terulang kembali," ujarnya.

Terkait pemberian sanksi, Sastra Winara menyerahkan penanganan lebih lanjut kepada Disdik sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas satuan pendidikan. Ia juga menyarankan agar Disdik melakukan evaluasi terhadap guru tersebut meskipun telah diberikan sanksi penonaktifan.

Keluhan Orang Tua Murid

Sejumlah orang tua murid menggeruduk SDN Pajeleran 01 karena merasa anak mereka menjadi korban diskriminasi dari seorang oknum guru. Mereka membawa spanduk dengan tulisan "Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Guru Perusak".

Para orang tua merasa anak-anak mereka diperlakukan tidak adil dalam hal penilaian. Oknum guru kelas 4E, yang memiliki inisial S, diduga memberikan nilai bagus bagi siswa yang mengikuti les berbayar dengan biaya Rp250 per bulan. Sementara itu, siswa yang tidak mengikuti les justru mendapat nilai jelek, bahkan ada yang nilainya nol.

Salah satu orang tua, Sinta, menyampaikan kekesalannya. "Guru tersebut memberikan nilai bagus pada rapor kepada para murid yang ikut les, sedangkan yang tidak ikut les mendapatkan nilai jelek," katanya.

Praktik Tidak Etis dan Pengaruh Psikologis

Selain memberikan nilai yang tidak adil, oknum guru tersebut juga dituding memberikan bocoran soal ulangan beserta jawaban kepada siswa lesnya. Ia meminta murid-murid tersebut menghafalkan jawaban tersebut.

Lebih lanjut, guru tersebut disebut memperbaiki jawaban salah seorang murid secara terang-terangan di hadapan seluruh siswa saat ulangan berlangsung. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan orang tua.

Sinta juga menyampaikan bahwa siswa yang tidak mengikuti les mengalami perlakuan tidak mengenakan yang berdampak pada kesehatan mental. Bahkan, ada orang tua yang mengaku anaknya mengalami bullying dari teman-temannya.

"Anak-anak menjadi tertutup dan tidak mau menceritakan kegiatannya di sekolah karena dianggap suka mengadu," kata Sinta.

Kegiatan Lain yang Menyebabkan Ketidakadilan

Selain masalah nilai dan bullying, oknum guru tersebut juga dituduh melakukan lomba jumlah uang kas antara murid laki-laki dan perempuan. Siswa dengan uang kas yang lebih banyak bisa pulang lebih dulu dibanding yang lain.

Hal ini menyebabkan beberapa siswa mencuri uang orang tua untuk membayar kas agar bisa menang dan pulang duluan. Sinta menilai tindakan ini sangat merusak dan harus segera dihentikan.

Rekomendasi dan Tindakan Lanjutan

Sastra Winara menekankan pentingnya evaluasi terhadap oknum guru tersebut. Ia menyarankan agar Disdik Kabupaten Bogor melakukan langkah-langkah preventif untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Selain itu, ia menyarankan agar orang tua dan komunitas pendidikan tetap waspada terhadap praktik-praktik tidak etis yang dapat merusak kualitas pendidikan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan