Khalifah yang Lalai, Amanah yang Terabaikan

Khalifah yang Lalai, Amanah yang Terabaikan

Refleksi atas Bencana dan Peran Manusia dalam Menjaga Bumi

“Tinggalkan dunia sedikit lebih baik daripada saat Anda menemukannya.” Kalimat ini menggambarkan semangat yang dianut oleh Nelson Mandela. Namun, di tengah berbagai bencana yang terus menerus terjadi, kita harus bertanya apakah kita benar-benar menjaga bumi seperti yang seharusnya.

Banjir, tanah longsor, kekeringan, dan polusi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak wilayah. Setiap bencana ini bukanlah sekadar kejadian alami, melainkan respons dari alam terhadap tindakan manusia yang tidak bijak. Seperti pesan keras dari bumi bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara kita hidup dan mengelola ruang.

Manusia, dalam berbagai tradisi dan ajaran bijak, dikenal sebagai penjaga bumi. Sebuah kehormatan sekaligus beban moral. Namun, kehormatan itu perlahan lusuh ketika manusia justru menjadi pihak pertama yang merusak apa yang ia jaga. Artikel ini merupakan refleksi atas bencana yang terjadi di tanah air.

Gus Dur mengajarkan menjaga alam dengan cara sederhana tapi mendalam: Memahami alam berarti menyadari bahwa yang kita paksa kuasai akan rusak, maka jagalah, jangan ditaklukkan. Kendalikan hawa nafsu kita, menjaga keseimbangan batin dan alam semesta adalah satu kesatuan, di mana "Mencintai Allah berarti mencintai segala ciptaan-Nya". Kita tampaknya belum memasukkan itu ke dalam nurani kita.

Alam tidak pernah memulai kerusakan. Ia hanya merespons. Ketika gunung digerus, ketika hutan ditebang, ketika sungai dijadikan tempat pembuangan, ketika udara dihajar emisi, maka alam mencari keseimbangannya sendiri, dan keseimbangan itu sering berupa bencana bagi manusia.

Aktivis dan pemerhati lingkungan, Rachel Carson, menulis, “Dalam alam, tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri.” Ketika satu bagian rusak, maka seluruh jaringan kehidupan merasakan dampaknya. Kita seolah lupa bahwa bumi adalah satu tubuh besar, dan manusia adalah hanya salah satu organnya.

Namun manusia kembali menyebut bencana sebagai “musibah”, tanpa mengakui bahwa sebagian besar darinya adalah ringkihan alam yang disakiti oleh tangan manusia sendiri.

Seperti diingatkan Mahatma Gandhi: “Bumi memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tetapi tidak untuk keserakahan semua manusia.”

Krisis ekologis hari ini tidak dapat dipisahkan dari krisis moral. Banyak pemegang jabatan, baik dalam pemerintahan maupun dunia usaha, memperlakukan kekuasaan sebagai pintu keuntungan, bukan tanggung jawab.

Izin tambang dikeluarkan tanpa kajian matang. Hutan ditebang demi keuntungan sesaat. Pesisir dikuasai oleh proyek reklamasi. Semua tampak “resmi” tetapi kehilangan etikanya.

Bapak pendiri republik, Soekarno, pernah berpesan: “Berkuasa itu bukan untuk memuliakan diri sendiri, tetapi memikul tanggung jawab atas nasib jutaan manusia.” Sayang, pesan itu sering tenggelam dalam riuh ambisi jangka pendek.

Mereka yang memegang kewenangan hari ini sedang menulis masa depan anak bangsa. Sayangnya, banyak dari mereka justru menulisnya dengan tinta kelalaian.

Kita Mau Dibawa ke Mana?

Setiap kali bencana datang, kita seakan menulis skrip yang sama: menyalahkan cuaca, menyalahkan hujan, menyalahkan alam. Kita jarang bercermin bahwa manusialah yang memulai perusakan itu dahulu.

Ki Hajar Dewantara, pernah berkata, “Setiap tindakan yang tidak memperhitungkan akibatnya bagi masa depan adalah sebuah pengkhianatan terhadap generasi mendatang.”

Generasi hari ini, yang tumbuh dengan banjir tahunan di kota, tanah longsor di desa, dan udara beracun di perkotaan, secara tidak langsung sedang menerima “warisan” buruk dari kebijakan dan perilaku generasi sebelumnya.

Paus Fransiskus, seorang pemikir moral lingkungan di era modern, mengingatkan, “Kerusakan lingkungan adalah cerminan krisis moral manusia. Kita tidak hanya merusak alam, tetapi juga merusak hubungan kita dengan sesama.”

Kita perlu berhenti sejenak, mengambil napas panjang, dan bertanya: Apakah kita ingin terus hidup dalam siklus kerusakan ini?

Memperbaiki keadaan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi seluruh masyarakat. Namun pemerintah memegang peran strategis: kebijakan, penegakan hukum, dan keberanian membatasi eksploitasi.

Fisikawan legendaris Albert Einstein mengatakan, “Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara berpikir yang sama ketika masalah itu dibuat.” kebijakan lama yang merusak tidak bisa lagi dipertahankan dengan alasan “pembangunan”.

Di tingkat individu, tindakan sederhana pun berarti. Menjaga sungai, menolak pembakaran lahan, mengurangi plastik, menanam pohon, dan berani bersuara ketika lingkungan hendak dirusak.

Yang terpenting adalah membangun kesadaran moral bahwa bumi adalah titipan jangka panjang, bukan harta rampasan jangka pendek.

Amanah yang Melebihi Masa Jabatan

Sebagian orang memegang jabatan lima tahun. Namun amanah menjaga bumi berlaku seumur hidup. Dan dampak kelalaian terhadap bumi bisa dirasakan jauh setelah kita tiada.

Bencana yang datang adalah peringatan, bukan kutukan. Ia mengingatkan kita bahwa status manusia sebagai penjaga bumi bukan slogan, melainkan komitmen yang harus dibuktikan dengan tindakan. Jika amanah itu terus diabaikan, maka generasi mendatang akan hidup dalam warisan yang rapuh.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bukan hanya membangun gedung tinggi, tetapi menjaga tanah tempat gedung itu berdiri; yang bukan hanya berbicara tentang masa depan, tetapi menjaga kondisi agar masa depan itu masih mungkin ada.

Semoga refleksi ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi adalah tugas setiap manusia, tugas yang mulia, berat, dan harus dilakukan bersama. Lestari alamku, lestari bumiku.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan