Khamenei Akhirnya Tanggapi Demo di Iran, Ingatkan Ancaman 'Tangan Musuh'


nurulamin.pro.CO.ID, TEHERAN — Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pernyataan terkait keluhan para pedagang mengenai fluktuasi nilai tukar rial. Ia menilai bahwa keluhan tersebut sah, tetapi juga memperingatkan adanya "tangan musuh" yang berada di balik ketidakstabilan ekonomi negara. Dalam pidatinya di Teheran pada hari Sabtu (3/1/2025), Khamenei menyebut para pedagang dan pemilik toko sebagai salah satu kelompok paling setia terhadap sistem Islam di Iran.

Menurutnya, aksi protes yang terjadi belakangan ini sebagian besar dipimpin oleh para pedagang. Ia menegaskan bahwa kekhawatiran mereka terhadap fluktuasi nilai rial adalah wajar.

“Ketika seorang pedagang pasar melihat kondisi keuangan negara, penurunan nilai mata uang nasional, serta ketidakstabilan harga valuta asing dan domestik yang membuat iklim usaha tidak stabil, ia berkata 'saya tidak bisa berbisnis.' Ia berkata jujur,” ujar Khamenei dalam pidatinya.

Ia menekankan bahwa para pejabat tengah berupaya memperbaiki masalah tersebut. Namun, ia juga menegaskan bahwa ada pihak luar yang terlibat dalam situasi saat ini. Khamenei menganggap lonjakan harga valas yang tak terkendali sebagai hal yang "tidak wajar."

"Ini adalah ulah musuh. Tentu saja hal ini harus dihentikan. Dengan berbagai langkah, baik presiden, pimpinan cabang-cabang kekuasaan lainnya, maupun para pejabat lain, sedang berupaya memperbaiki keadaan. Karena itu, protes para pedagang tentang masalah ini adalah sah," katanya.

Namun, Khamenei memperingatkan bahwa sekelompok agen bayaran musuh yang terprovokasi berada di balik para pedagang dan meneriakkan slogan-slogan yang menentang pemerintah. Ia menegaskan bahwa protes tersebut bisa dibenarkan, tetapi kerusuhan tidak. Para pejabat harus berdialog dengan pengunjuk rasa, bukan dengan perusuh.

Pemimpin Iran tersebut mengatakan pihak-pihak yang ingin menciptakan keresahan telah "mengeksploitasi protes para pedagang dan menciptakan kerusuhan." Ia menyebut tindakan itu "tidak bisa diterima."

"Kita harus mengenali tindakan musuh. Musuh tidak tinggal diam dan memanfaatkan setiap kesempatan. Di sini, mereka melihat peluang dan ingin mengambil keuntungan," ujarnya.

Iran diguncang gelombang protes dalam beberapa pekan terakhir akibat memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial, yang telah menembus 1.350.000 per dolar AS. Sejumlah insiden kekerasan dilaporkan telah menewaskan pengunjuk rasa dan polisi di berbagai kota.

Pemerintah Iran telah menggelar beberapa pembicaraan dengan perwakilan pedagang untuk meredakan situasi yang memburuk, terutama di ibu kota Teheran.

Pada Jumat (2/12/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan "datang menyelamatkan" pengunjuk rasa jika Iran menggunakan kekuatan mematikan terhadap mereka. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari para petinggi Iran.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan