
Gubernur Jatim Pimpin Penanaman Mangrove Bersama 3.000 Pramuka di Trenggalek
Gerakan Pramuka memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran lingkungan hidup. Sebagai agen perubahan, mereka mampu menanamkan nilai-nilai kepedulian dan aksi nyata untuk menjaga kelestarian alam. Berbagai kegiatan dasar seperti kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah (3R), serta penanaman pohon dilakukan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka.
Salah satu inisiatif yang sukses dilaksanakan adalah program Wawasan Kebangsaan dan Bakti Masyarakat oleh Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur pada 3–4 Desember 2025 di Pantai Cengkrong, Watulimo, Trenggalek. Acara ini diikuti oleh 3.000 peserta yang terdiri dari anggota Pramuka dan masyarakat sekitar. Beragam aktivitas disajikan, mulai dari penguatan wawasan kebangsaan, aksi bersih pantai, penanaman bibit mangrove, pasar murah, pembagian doorprize, hingga penyerahan kunci rumah tinggal layak huni.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung penanaman pohon mangrove bersama ribuan Pramuka di Pantai Cengkrong. Ia didampingi oleh Ketua Kwarda Jatim HM Arum Sabil, Siti Mukiyarti dan Suli Daim dari Komisi E DPRD Provinsi Jatim, serta Bupati Trenggalek M. Nur Arifin (Gus Ipin). Tanam pohon mangrove ini merupakan bagian dari agenda Peningkatan Wawasan Kebangsaan dan Bakti Masyarakat oleh Kwarda Pramuka Jawa Timur.
Khofifah mengapresiasi Pramuka Jatim dalam menggagas program tanam mangrove. Menurutnya, menjaga lingkungan hidup adalah cara menjaga keberlanjutan kehidupan. Ekosistem pesisir, termasuk mangrove, secara ilmiah terbukti mampu menahan abrasi, menyerap karbon dalam jumlah besar, serta menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati.
Menurut Khofifah, pelestarian lingkungan harus menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan untuk mendukung target nasional menuju net zero emission. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar menanam pohon, tetapi juga membangun benteng ekologi bagi masa depan bangsa. Ia bangga dan percaya bahwa Adik-Adik Pramuka bisa menjadi salah satu motor gerakan kolektif pelestarian lingkungan.
Khofifah, yang merupakan gubernur perempuan pertama di Jatim, dikenal sangat aktif dalam mempromosikan dan memimpin langsung kegiatan rehabilitasi serta pelestarian mangrove. Melalui Festival Mangrove tahunan yang melibatkan penanaman massal, pelepasan biota laut (kepiting, burung), edukasi, serta gerakan “Sedekah Oksigen” untuk meningkatkan tutupan mangrove Jatim yang kini terluas di Jawa.
Indonesia merupakan negara nomor satu di ASEAN dalam penanaman dan pengelolaan mangrove. Dengan luas mangrove mencapai sekitar 3,4 juta hektare, Indonesia juga tercatat sebagai pemilik ekosistem mangrove terluas di dunia. Penanaman mangrove oleh Pramuka di Trenggalek diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mendukung program pelestarian pesisir, serta menjadi bentuk “sedekah oksigen” bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Dengan semangat gotong royong, Pramuka siap menjadi garda terdepan dalam menjaga bumi dan lingkungan hidup. Khofifah menjelaskan bahwa Gerakan Pramuka adalah ruang pembentukan karakter kebangsaan berbasis ilmu, kepedulian, dan tindakan nyata. Wawasan kebangsaan tidak hanya tumbuh dari pengetahuan, tetapi dari pengalaman mengabdi.
Melalui kegiatan Wawasan Kebangsaan dan Bakti Masyarakat 2025, Gerakan Pramuka Jawa Timur meneguhkan komitmennya dalam penguatan karakter kebangsaan, kepedulian lingkungan, serta pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat. Rangkaian program ini sekaligus menjadi energi positif dalam mewujudkan generasi muda berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.
Peran Gerakan Pramuka dalam Pelestarian Lingkungan
Berikut beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Gerakan Pramuka dalam upaya melestarikan lingkungan:
- Penanaman pohon mangrove sebagai bagian dari program "Sedekah Oksigen"
- Aksi bersih pantai dan pengelolaan sampah (3R)
- Edukasi tentang pentingnya ekosistem pesisir
- Pembagian doorprize dan pasar murah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat
- Pelepasan biota laut seperti kepiting dan burung sebagai bagian dari program konservasi
Tantangan dan Peluang dalam Pelestarian Mangrove
Meski Indonesia memiliki luas mangrove terbesar di dunia, masih ada tantangan dalam pengelolaannya. Beberapa daerah mengalami deforestasi akibat aktivitas manusia seperti perambahan dan penambangan. Namun, dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi seperti Pramuka, peluang untuk menjaga dan meningkatkan ekosistem mangrove sangat besar.
Pemimpinan Khofifah dalam kegiatan penanaman mangrove memberikan contoh nyata bahwa kepedulian lingkungan dapat menjadi bagian dari kebijakan publik yang berkelanjutan. Dengan memperkuat karakter kebangsaan melalui pendidikan dan aksi nyata, Pramuka dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan manusia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar