
Khutbah Jumat: Menghindari Sifat Tamak dan Menjaga Rasa Syukur
Khutbah Jumat merupakan salah satu rukun wajib dalam pelaksanaan Shalat Jumat yang dilaksanakan setiap pekan. Dalam penyampaiannya, khutbah Jumat sangat ditekankan agar bisa dipersingkat. Anjuran ini datang untuk memudahkan dan mempercepat penyampaian khutbah agar singkat terdapat di dalam sebuah hadits riwayat Muslim dan Ahmad.
عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا (رواه مسلم وأحمد)
Artinya: "Dari Ammar Ibn Yasir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesunggunguhnya panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik." (HR Muslim dan Ahmad).
Berbagai judul pun semestinya bisa diangkat dalam setiap penyampaian khutbah oleh para khatib. Mulai dari tauhid, dasar beragama, hubungan dengan Allah, hubungan dengan muslim lain juga lingkungan, hukum-hukum penting dalam islam, hala haram, pernikahan, hingga kematian. Untuk itu aiotradegin membantu menghadirkan berbagai judul yang bisa menjadi acuan penyampaian khutbah saat shalat jumat, salah satunya yang akan dibahas dalam artikel ini dengan judul "Tamak Membunuh Rasa Syukur dan Mencelakai Fisik Serta Iman Seorang Muslim".
Pasalnya, salah satu dampak buruk dari sifat tamak dan kurangnya rasa syukur adalah hilangnya ketenangan batin serta rusaknya hubungan dengan orang sekitar. Keduanya hanya akan mengikis kebahagiaan sejati, karena ketika seseorang terus membandingkan hidupnya, ia hanya akan terjebak dalam rasa tidak pernah cukup, padahal kebahagiaan justru lahir dari kemampuan mensyukuri apa yang ada, bukan dari mengejar apa yang belum dimiliki.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدَّيْنِ الْقَوِيمِ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Dialah yang telah memberikan kita semua rezeki yang cukup, hati yang bersyukur, dan jiwa yang menerima apa adanya. Maka hanya kepada-Nya kita bersyukur atas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan rezeki halal yang kita makan. Semoga semua ibadah yang kita lakukan ini menjadi ibadah yang diterima oleh-Nya dan menjadi tambahan pahala bagi kita.
Shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alih wa shahbih, pembawa cahaya hidayah dan penuntun umat menuju kebenaran. Melalui keteladanannya, kita bisa belajar tentang arti bersyukur atas apa yang ada, tidak rakus, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan sederhana. Semoga Allah mempertemukan kita dengannya di dalam surga yang abadi. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib, untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian. Maka perkenankan kami untuk mengingatkan semua yang hadir agar senantiasa berusaha memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita, serta berusaha untuk berlepas diri dari belenggu ketamakan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Sudah semestinya kita semua melatih diri untuk selalu bersyukur atas setiap karunia dan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua. Nikmat sehat, keluarga yang rukun, dan rezeki yang halal, semua itu merupakan anugerah yang tak ternilai. Maka mensyukurinya merupakan keharusan yang tidak boleh kita tinggalkan, karena syukur adalah bukti keimanan dan pengakuan atas segala karunia yang Allah berikan kepada kita semua.
Mungkin di antara kita ada yang bekerja dari pagi hingga larut malam tapi masih merasa kekurangan. Ada yang punya rumah, kendaraan, dan gaji tetap tapi hatinya tetap resah. Mengapa semua itu bisa terjadi? Sebab hati itu tidak hanya soal harta, tapi tentang rasa cukup dan syukur. Dan sebagaimana yang Allah janjikan kepada kita semua dalam firman-Nya, bahwa siapa saja yang pandai bersyukur atas apa yang ia terima, niscaya akan Dia tambahkan nikmat kepada-Nya, namun siapa saja yang tidak mau bersyukur dan bahkan mengingkari apa yang telah Allah berikan, maka azab-Nya sungguh pedih. Jani ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS Ibrahim, [14]: 7).
Orang-orang yang bersyukur hakikatnya adalah orang yang telah diberi anugerah qana’ah oleh Allah. Mereka paham bahwa rezeki itu tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari seberapa lapang dada menerima ketetapan Allah. Maka ketika kita bisa menerima dan mensyukuri apa yang ada dan apa yang telah kita terima, itu merupakan tanda bahwa kita adalah golongan orang-orang yang beruntung. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah membuatnya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim).
Mari kita renungi pesan yang terkandung dalam hadits di atas. Rasulullah tidak menyebut banyaknya harta sebagai tanda keberuntungan, sebab cukup dan qana’ah merupakan kuncinya. Bahkan rezeki yang sedikit jika cukup dan membuat hati tenang, jauh lebih berharga dari harta melimpah yang hanya menjadikan hidup semakin sengsara.
Karena itu, Imam Ibnul Jauzi menjelaskan Dalam kitab Kasyful Musykil, jilid I, halaman 106, bahwa kata aflaha artinya dia telah menang dan selamat. Adapun kafaf adalah rezeki yang mencukupi, ia tidak lebih dan tidak juga kurang, cukup untuk menjaga kehormatan dan kebutuhan hariannya. Kemudian qana’ah adalah ridha, puas, dan tenang dengan pemberian Allah, tanpa rakus mengejar dunia yang tak kunjung henti,
بِمَعْنَى فَازَ وَنَجَا، وَالْكَفَافُ مَا كَفَّ عَنِ الْاِحْتِيَاجِ وَكَفَى، وَالْقَنَاعَةُ الرِّضَا بِالْكَفَافِ وَتَرْكُ الشَّرَهِ إِلىَ الْاِزْدِيَادِ
Artinya, “Makninya adalah frasa aflaha berarti beruntung dan selamat. Kafaf adalah sesuatu yang menutupi dari kebutuhan dan mencukupi. Sedangkan qana’ah adalah ridha terhadap kecukupan dan meninggalkan kerakusan untuk menambah lebih banyak.”
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar