
Rukun Shalat Jumat dan Pentingnya Khutbah
Khutbah merupakan salah satu rukun wajib dalam pelaksanaan shalat Jumat. Dalam khutbah, khotib (orang yang menyampaikan khutbah) menjelaskan tentang ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalat Jumat memiliki makna penting bagi umat Muslim, karena menjadi hari yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk beramal serta bermuhasabah diri.
Shalat Jumat dilaksanakan oleh setiap muslim yang balig, sebagai bagian dari penanda perayaan hari raya kecil atau hari raya mingguan. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah melaksanakan khutbah sebagai rukun dalam shalat Jumat. Hal ini menunjukkan bahwa khutbah tidak hanya sekadar pidato, tetapi juga bagian dari ritual ibadah yang memiliki nilai spiritual dan moral yang tinggi.
Dalam penyampaian khutbah, biasanya ada tema-tema tertentu yang dibahas. Salah satunya adalah tema "Muhasabah Diri di Akhir Tahun", yang mengajak umat Muslim untuk merefleksikan diri dan memperbaiki kehidupan mereka sebelum memasuki tahun baru.
Naskah Khutbah Jumat
Berikut adalah naskah khutbah Jumat dengan tema Muhasabah Diri di Akhir Tahun:
Khutbah I
Alhamdu lillahi al-ladzi wafaqa man sha'a min khalqih bi fadlihi wa karimih, wa khaadzala man sha'a min khalqih bi mashi'atihi wa adlihi. Wa asyhadu an la ilaha illa Allah wa haddahu la syarika lahu, wa la syabihan wa la mitsla wa la niddan lahu, wa la haddan wa la juththata wa la a'radha lahu. Wa asyhadu anna sayyidina wa habibina wa 'azhimina wa qaidina wa qurrata a'yunina Muhammad abduhu wa rasuluhu, wa shafiyyuhu wa habibuhu. Allahu shollii wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammad bin Abdullah, wa 'ala alihi wa shahbihi wa man walahu, wa man taba'ahum bi ihsanin ila yaumil qiyamah, wa la hawla wa la quwwata illa billah.
Amma ba'du, fa inni uwashiyakum wa nafsii bi taqwa Allah al-'aliyy al-'azhim al-qaili fi muhkami kitabih: "Ya ayyuhalla dhillina amanu tattaquullah wa lintzuru nafsun ma qaddamatu lighad".
Hadirin rahimakumullah,
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kita untuk bertakwa dan berintrospeksi diri. Setiap orang harus memikirkan apa yang telah disiapkan untuk akhirat kelak. Jika sudah berbuat baik dan beramal saleh, maka kita harus memuji Allah atas kemurahan-Nya dan tetap istiqomah dalam kebaikan itu sepanjang hidup. Namun jika masih berbuat maksiat, maka kita harus meninggalkan maksiat, beristighfar, dan memperbaiki hati, karena di akhirat kelak tidaklah bermanfaat harta dan keturunan, kecuali orang-orang yang masuk kehidupan akhirat dengan hati yang bersih.
Saudara-saudaraku seiman, di akhirat kelak, seseorang akan dihisab dan diminta pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan, dan hatinya. Sebagaimana ia akan dihisab atas apa yang dilakukan oleh seluruh anggota badannya. Oleh karena itu, hati adalah pemimpin anggota badan, dan perbuatan-perbuatan anggota badan mencerminkan apa yang ada dalam hati. Jika hati baik, maka anggota badan menjadi baik. Dan jika hati rusak, maka rusaklah anggota badan.
Hadirin yang berbahagia, dalam kesempatan ini, kita akan membahas enam sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Marilah kita berintrospeksi dan bermuhasabah, apakah hati kita sudah bersih dan terhindar dari keenam sifat tersebut, ataukah justru keenam sifat yang dibenci oleh Allah SWT tersebut tertanam kuat dan bercokol di hati kita. Na'udzubillahi min dzalik.
Ibnu Hibban meriwayatkan dalam hadits shahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah saw bersabda:
"إن الله يبغض كل جعظرية جواظ سخاب بالأسواق جيفة بالليل حمار بالنهار عالم بأمر الدنيا جاهل بأمر الآخرة"
Dalam hadits di atas, Rasulullah saw menjelaskan bahwa Allah membenci seseorang yang memiliki enam sifat berikut ini:
-
جَعْظَرِيٍّ
Yaitu orang yang takabur atau sombong. Sombong ada dua macam. Pertama, menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang lain padahal ia tahu bahwa hal itu benar, dikarenakan penyampai kebenaran lebih muda usianya, lebih miskin hartanya, lebih rendah status sosialnya atau karena hal lain. Padahal Firaun tidaklah binasa kecuali karena sifat takaburnya. -
جَوَّاظٍ
Yaitu seseorang yang rakus dan gandrung untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan niat yang tidak benar dan didorong kecintaannya yang sangat besar terhadap harta. Ia tidak peduli dari mana harta itu diperoleh, apakah dari sumber yang halal ataukah haram. Dengan itu, ia bertujuan untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya yang haram dan membanggakan diri di hadapan para hamba yang lain. -
سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ
Artinya orang yang karena kerakusan dan kecenderungannya pada harta, ia memperbanyak omongan dengan tujuan supaya bisa mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Ia tidak peduli apakah omongannya halal ataukah haram. -
جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ
Menjadi bangkai di malam hari. Yakni menghabiskan seluruh waktu malamnya untuk tidur. Ia tidak peduli untuk melakukan shalat sama sekali. -
حِمَارٍ بِالنَّهَارِ
Menjadi keledai di siang hari. Yakni yang ia pikirkan hanya bagaimana bisa memakan berbagai menu makanan dan banyak menikmati berbagai kemewahan hidup. Dengan sebab itu, ia lalai melakukan hal-hal yang Allah wajibkan kepadanya. -
عَالِـمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ
Mengetahui perkara dunia namun bodoh mengenai perkara akhirat. Yakni mengetahui bagaimana cara mencari dan mengumpulkan harta, akan tetapi tidak memiliki pengetahuan mengenai bagian ilmu agama yang fardlu 'ain untuk dipelajari, yang disebut para ulama dengan istilah عِلْمُ الدِّيْنِ الضَّرُوْرِيِّ (ilmu agama yang pokok).
Padahal Rasulullah saw telah bersabda:
"طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ"
Artinya: "Mencari ilmu agama yang pokok (ilmu agama yang dasar) hukumnya adalah fardhu ain bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan)," (HR Ibnu Majah dan al-Baihaqi).
Hadirin rahimakumullah. Di akhir khutbah, khatib mengutip mutiara nasehat Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah yang mengingatkan kepada kita semua bahwa kehidupan dunia adalah waktu untuk beramal, dan semua yang kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat.
"ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَتَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلاَحِسَابَ، وَغَدًاحِسَابٌ وَلاَعَمَلٌ"
Artinya: "Dunia berjalan membelakangi kita, sedangkan akhirat berjalan menghampiri kita. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anaknya. Maka jadilah bagian dari anak-anak akhirat (senantiasa mementingkan kehidupan akhirat) dan janganlah menjadi bagian dari anak-anak dunia (selalu mementingkan kehidupan dunia yang sementara), karena hari ini (kehidupan dunia) adalah waktunya beramal dan tidak ada hisab, sedangkan besok (kehidupan akhirat) adalah waktunya mempertanggungjawabkan amal, dan bukan waktunya beramal," (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).
"أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ"
Khutbah 2
Inna al-hamda lillahi nahnaduhu wa nastaqfiruhu wa nasta'iniyh wa nastaheeduhu wa nashkuruhu, wa na'uzu bi allahi min syuruuri anfusina wa min sayyi'ati a'malina, man yahdi allahu falaa mudhillal lahu wa man yudhilli falaa haadiya lahu, wa as-salaatu was-salamu 'ala sayyidina Muhammadin ash-shadiqil wa'di al-amin, wa 'ala ikhwanihin nabiyin wal-mursalin, wa radhiya allahu 'an ummahaatil mu'minin, wa 'ala aali al-baitit thahirin, wa 'an al-khulafa ar-rasyidin abi bakr wa 'umar wa 'utsman wa 'aliyyin wa 'an al-imam al-muh'tadiyn abi hanifah wa malikin wasyafi'i wa ahmadin wa 'an al-auliya wa ash-shalihin. Amma ba'du, faya ayyuha al-muslimuna, uwashiyakum wa nafsii bi taqwa allahi al-'aliyy al-'azhim fattaquhu, wa 'alimu an allaha amarakum bi amrin 'azhim, amarakum bis-salati was-salami 'ala nabiyyihil kariim, fa qala: "innallaha wa malaaikatuhu yusalluna 'ala al-nabi, ya ayyuha alladzina amanu sallu 'alayhi wasallimu tasliman 56."
Allahu subhanahu wa ta'ala, subhanahu wa ta'ala, subhanahu wa ta'ala...
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar