Kisah Bagas Bongkar Pungli, Eri Cahyadi Bersihkan HAMA Transportasi Surabaya

Modus Pungli di Sektor Transportasi Surabaya Terbongkar

Sebuah pengakuan sederhana dari warga biasa justru menjadi titik awal perubahan besar-besaran di sektor transportasi publik Surabaya. Video yang menampilkan kisah Bagas Fradana (26), korban dugaan pungutan liar (pungli) rekrutmen Wira Wiri, viral di media sosial pada Kamis 25 Desember 2025.

Menanggapi isu tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi langsung bertindak cepat. Dalam waktu singkat, oknum petugas transportasi berinisial Yasikin dan korban dipanggil ke Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya keesokan harinya. Dari pertemuan itu, terkuak modus lama yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik, yaitu "uang pengganti trayek".

Padahal, menurut Eri Cahyadi, istilah tersebut tidak pernah ada dalam sistem resmi Pemkot Surabaya. Ia menegaskan bahwa tidak ada uang satu sen pun untuk mendaftar Wira Wiri maupun Suroboyo Bus. Tidak ada jual-beli trayek. Kendaraan ini, menurutnya, digunakan untuk memberdayakan sopir angkot yang trayek dan KIR-nya sudah mati, bukan dikomersialkan.

Trayek Mati Tak Bisa Diperjualbelikan, Pungli Dinilai Tak Masuk Akal

Wali Kota menjelaskan, trayek angkutan yang izinnya sudah mati secara hukum tidak lagi memiliki nilai operasional. Artinya, klaim "uang pengganti trayek" adalah konstruksi fiktif yang sengaja dibuat untuk menipu calon pekerja. Atas perbuatannya, Yasikin dijatuhi sanksi administratif berupa skorsing selama tiga bulan dan wajib mengembalikan uang Rp4 juta secara utuh kepada Bagas.

Meski proses hukum tidak berlanjut karena korban memaafkan, Pemkot memastikan sanksi internal tetap berjalan. “Kami beri sanksi tegas. Pertimbangan kemanusiaan tidak menghapus kesalahan, tapi negara tetap harus hadir dengan keadilan,” ujar Eri.

Dari Korban Jadi Bagian Solusi

Langkah yang paling menyita perhatian publik justru datang setelahnya. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian melapor, Bagas Fradana resmi diangkat sebagai helper Wira Wiri dengan status pekerja kontrak. “Karena Mas Bagas berani jujur dan melapor, saya jadikan dia helper Wira Wiri. Jaga warga Surabaya dengan amanah,” kata Eri.

Transformasi Bagas, dari korban penipuan menjadi bagian dari sistem resmi, dipandang publik sebagai pesan simbolik: melapor bukan berarti kalah, tapi bisa menjadi jalan perubahan.

900 Sopir Dikumpulkan, Pemkot Nyatakan Perang Terhadap Pungli

Tidak berhenti di satu kasus, Eri Cahyadi memastikan pembenahan total. Sebanyak 900 sopir dan helper transportasi publik akan dikumpulkan di Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) untuk pengarahan langsung. “Surabaya tidak boleh ada premanisme dan pungli. Masuk Pemkot harus lewat jalur resmi, tes kesehatan, tes narkoba, dan seleksi ketat. Kalau ada yang minta uang, laporkan langsung,” tandasnya.

Pemkot juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur lowongan kerja berbayar di awal, apalagi yang mengatasnamakan instansi pemerintah.

Berawal dari Ojek Online, Berakhir Jadi Pelajaran Kota

Bagas menceritakan, kasus ini bermula Agustus 2025 saat ia mengantar penumpang ojek online yang mengenalkannya pada oknum pelaku. Janji bekerja sejak Oktober tak pernah terealisasi, hingga akhirnya ia mengunggah bukti transfer dan pengakuannya ke media sosial.

Respons cepat Pemkot membuat kasus ini berbalik arah, dari cerita penipuan menjadi contoh nyata keberpihakan pemerintah pada warga kecil. “Saya berterima kasih atas respon cepat Pak Wali Kota. Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh,” tutup Bagas.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan