Kisah Bari: 35 Tahun Jadi Pengemudi Getek Kayu di Ngawi

Sejarah dan Peran Perahu Getek di Desa Ngompro

Di tengah perkembangan infrastruktur yang semakin pesat, Bari (50), seorang pengemudi perahu getek kayu, masih setia menjalani pekerjaannya selama lebih dari tiga dekade. Ia tinggal di Desa Ngompro, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meskipun banyak jalan dan jembatan yang dibangun, Bari tetap menjadi pilihan utama warga untuk menyeberang Sungai Bengawan Madiun menggunakan perahu getek.

Setiap harinya, perahu getek milik Bari mampu membawa ratusan orang, termasuk 50 lebih pengendara motor dan pesepeda. Keberadaan perahu ini sangat penting bagi warga desa, karena dapat menghemat waktu jika mereka ingin menuju Kecamatan Kwadungan. Tanpa bantuan Bari, masyarakat harus melakukan perjalanan sejauh 30 kilometer melewati jembatan Kendung.

“Banyak warga memilih lewat sini karena bisa menghemat waktu,” ujar Bari, Selasa (2/12/2025). Dengan perahu geteknya, warga tidak perlu repot-repot mengambil jalur yang lebih panjang.

Warisan Keluarga yang Bersejarah

Perahu getek yang digunakan Bari memiliki sejarah yang panjang. Konon, perahu ini merupakan peninggalan kakeknya yang sudah beroperasi sejak masa penjajahan Belanda. Setelah kakeknya meninggal, layanan penyeberangan diwariskan kepada ayah Bari. Kemudian, Bari menerima tanggung jawab tersebut dari ayahnya hingga saat ini.

“Iya, saya generasi ketiga yang melanjutkan pekerjaan ayah saya. Saya mulai menjalani pekerjaan ini sejak tahun 1990,” kata Bari. Meski terbuat dari kayu, perahu ini memiliki nilai historis yang tinggi.

Perubahan Teknologi dalam Operasional

Meski awalnya menggunakan bambu panjang untuk menggerakkan perahu, Bari kini telah beralih ke mesin diesel agar laju perahu lebih cepat. Namun, ia tetap hati-hati dalam mengoperasikan perahu. Layanan penyeberangan hanya beroperasi jika kondisi sungai aman. Jika air sungai tinggi atau arus deras, Bari memilih menghentikan operasi.

“Kalau banjir, saya memilih berhenti dulu. Kalau nekat bisa jadi taruhannya nyawa,” ujarnya. Bari pernah mengalami kejadian nahas, seperti penumpang yang terpeleset atau sepeda motor yang jatuh akibat rem yang tidak berfungsi. Namun, untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Tarif yang Fleksibel dan Pelayanan Berbasis Keikhlasan

Bari tidak mematok tarif tertentu untuk jasa penyeberangan. Ia mempersilakan warga membayar sesuai kemampuan dan keikhlasan. Baginya, pelayanan ini adalah bentuk pengabdian keluarganya kepada masyarakat. Banyak pengguna perahu getek adalah tetangga sendiri.

“Satu orang terkadang memberikan Rp 1.000 sekali jalan. Ada juga yang membayar Rp 10.000. Ya seikhlasnya saja,” kata Bari. Biaya operasional harian Bari mencapai Rp 50.000, yang digunakan untuk bahan bakar, makan, dan minum.

Pemasukan Bari tidak menentu. Saat musim ramai, ia bisa mendapatkan sampai Rp 200.000 per hari, namun saat sepi hanya Rp 60.000. Meski begitu, ia tetap bersyukur atas rezeki yang diterimanya.

Harapan untuk Masa Depan

Meski menjadi sumber penghasilan harian, Bari tetap berharap pemerintah daerah segera membangun jembatan permanen yang menghubungkan desanya dengan Kecamatan Kwadungan. Hal ini akan memudahkan warga tanpa harus bergantung pada perahu getek.

Selain itu, Bari merasa khawatir karena belum ada generasi penerus yang siap mengambil alih usaha warisan keluarganya. Ia merasa iba jika warga terus-menerus harus menumpang perahu getek untuk menyeberang ke Kwadungan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan