
Kehidupan Bidan Fetri Yuherna di Tengah Bencana Banjir Bandang
Bidan Fetri Yuherna (52) adalah sosok yang tak pernah berhenti bekerja meski dalam kondisi penuh tekanan. Di tengah bencana banjir bandang yang melanda wilayah Salareh Aie–Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, ia tetap bertugas dengan penuh dedikasi.
Pada malam 27 November 2025, Puskesmas Koto Alam menjadi pusat penanganan darurat akibat banjir bandang. Puluhan korban luka hingga jenazah berdatangan. Fenomena ini terjadi setelah banjir bandang mengguncang wilayah tersebut. Korban-korban ini dibawa oleh warga yang berhasil menyelamatkan mereka dari lokasi terdampak.
Penanganan Darurat di Puskesmas
Fetri dan rekan kerjanya, Husma (39), menjadi garda terdepan dalam menangani para korban. Mereka bekerja tanpa henti sejak sore hari hingga dini hari. IGD dan ruang rawat tidak lagi mampu menampung pasien tambahan. Petugas memindahkan pasien ke lantai puskesmas. Alas tikar dan kain digunakan untuk penanganan darurat. Beberapa pasien menunggu tindakan di lorong dan halaman puskesmas.
Kondisi korban sangat memprihatinkan. Banyak dari mereka luka-luka dan patah tulang. Mereka juga bergelimang lumpur tanah, wajah mereka pucat pasi, dan beberapa di antaranya sudah meregang nyawa. Semua itu disaksikan langsung oleh bidan Fetri Yuherna yang sedang bertugas dalam jadwal piket malam.
Terima Telepon Sebelum Bencana
Sebelum bencana terjadi, sekitar pukul 17.00 WIB, Fetri sempat menerima panggilan telepon dari seorang pasiennya yang tinggal di Jorong Alahan Anggang, dekat Subarang Aie. Pasien itu mengatakan bahwa ia melihat ada gelondongan kayu besar dan mengira ada kejadian. Fetri mencoba menenangkan pasiennya, meyakinkan bahwa kondisi masih aman. Namun, hanya beberapa saat setelah panggilan berakhir, suasana di Puskesmas mulai terasa aneh.
Fetri mendengar bunyi gemuruh yang membesar dan mendekat. Naluri memperingatkannya. Dengan langkah sigap, ia menyongsong ke bagian belakang puskesmas, menuju jendela yang menghadap ke alur sungai. Benar saja, pemandangan di luar membuat darahnya berdesir. Ada banyak kayu dan bebatuan berpacu, menggelinding liar terbawa arus sungai yang deras, pekat, dan berwarna cokelat tua.
Dilema Antara Anak dan Sumpah Nakes
Melihat masyarakat yang berbondong-bondong berlindung, pikiran Fetri langsung tertancap ke rumah, ke arah Jorong Koto Alam, sekitar dua kilometer jauhnya. Jiwa keibuannya menjerit. Ia teringat anak-anaknya yang pasti berada di rumah pada sore itu. Mengabaikan shift dan sumpah profesi sejenak, Fetri segera mengambil kunci motor. Ia mengeluarkan kendaraannya dari halaman puskesmas, memacunya menuju rumah.
Jarak yang cukup jauh itu tidak lagi terasa, karena ketakutan sebagai seorang ibu mengalahkan segalanya. Namun, baru ratusan meter berkendara, jalannya terhenti total. Banjir bandang telah terjadi, batu, kayu, lumpur tanah, bahkan puing-puing rumah masyarakat sudah bergelimpangan di jalan, membuat akses sesak dan tak mungkin dilewati.
Beruntung, sinyal telepon masih ada. Di tempat pemberhentiannya, ia segera menghubungi putrinya. Kabar yang ia terima bagaikan embun penyejuk di tengah gurun. "Alhamdulillah kami aman, Ma, rumah tidak terdampak," ujar anaknya dari balik telepon. Fetri menghela napas panjang, beban kekhawatiran yang menindihnya seketika terangkat.
Tandu Kain Sarung dan Penanganan Gawat Darurat
Tersadar bahwa keluarganya selamat, Sumpah Profesi kembali memanggilnya. Fetri tidak ragu. Ia sigap memutar kendaraan kembali menuju Puskesmas, siap menjaga pasien rawat inap yang sudah ada dan menunggu datangnya pasien baru para korban galodo (banjir bandang).
Dalam perjalanan kembali ke Puskesmas, Fetri menemukan pemandangan yang menyayat hati. Ia mendengar suara warga yang meminta tolong, diiringi isak tangis. Ada korban yang kondisinya sudah sangat parah, bergelimang lumpur, tak lagi bertenaga, dipeluk erat oleh keluarganya yang selamat.
Melihat situasi mendesak itu, Fetri segera mencari akal. Matanya menangkap sehelai kain sarung. Kain sarung itu diambil, dan dengan dibantu sebatang kayu, sarung itu dimodifikasi menjadi tandu darurat. "Pasien itu saya minta tolong masukkan ke dalam sarung untuk ditandu ke puskesmas, yang kebetulan ada mobil bisa membantu melansir pasien," ujarnya mengenang.
Lantai Puskesmas Menjadi Ruang Perawatan
Setibanya di Puskesmas, Fetri sudah dinanti oleh pasien pertama yang berhasil dievakuasi. Kondisinya mengerikan, bagian kepala robek selebar telapak tangan, dan sekujur tubuhnya dipenuhi lumpur. Prosedur harus dipangkas. Pasien pertama itu langsung dibaringkan di ranjang IGD. Tubuhnya dibersihkan dengan cairan Natrium Klorida (NaCl), luka robek dijahit dengan cepat dan teliti, lalu dipasangkan infus untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.
Korban-korban lain mulai berdatangan. Mulai dari kondisi patah kaki, patah-patah di sekujur tubuh, luka-luka robek, hingga korban yang terminum lumpur semuanya ditangani dengan metode gawat darurat. Fetri dan rekannya berkomitmen untuk memprioritaskan pasien dengan kondisi yang paling parah, berjuang melawan waktu.
Lantai Puskesmas menjadi ruang perawatan. Pasien tidur beralaskan tikar, bahkan hanya sehelai kain. Kondisi ini sangat darurat, perawatan dilakukan seadanya dengan penerangan dari genset. Pasien tergeletak, dari dalam hingga bagian luar puskesmas. Mereka meminta bantuan, meminta diperhatikan. Fetri dan dua rekannya berusaha maksimal, memilah, mengobati, dan menenangkan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar