Perjalanan Seorang Polisi yang Mengubah Kehidupan dengan Olahraga
Di balik seragam biru Polri yang ia kenakan, tersimpan kisah perjuangan seorang anak yatim yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Nama Bripka Prima Arta Sandy (38), personel Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamovit) Polda Kepri, kini bersinar di kancah Internasional setelah meraih tiga podium pada ajang Evolene Indonesian Championship (EIC) Jakarta 2025.
Puncak perjuangan Prima adalah saat ia tampil di ajang Evolene Indonesian Championship (EIC) Jakarta 2025 pada 4-5 Desember 2025 di Ballroom Kuningan City Mall, Jakarta Selatan. Bukan sembarang kejuaraan, kompetisi Internasional ini diikuti atlet dari berbagai negara seperti Rusia, Hong Kong, Malaysia, Belanda, dan Singapura itu menjadi ajang pembuktian.
Prima, biasa polisi itu disapa meraih tiga podium sekaligus: * Juara 3 Men's Physique True Novice Class B
Juara 3 Men's Physique Master 35+
Juara 5 Men's Classic Physique Open Class A (kelas berat dengan peserta Internasional)

Di samping itu, ia juga telah dijadwalkan akan mengikuti kejuaraan lanjutan pada kelas berat Internasional Juni mendatang. Ia juga pernah meraih Juara Harapan II di kejuaraan Vitka Mascule Batam untuk kategori under 170 cm mewakili Polri.
Namun, jalan Prima menuju podium itu tidaklah mudah. Sederet cerita perjuangan Prima hingga sampai pada titik ini. Di samping menjalankan tugas sebagai abdi negara, Prima harus pintar membagi waktu untuk berolahraga. Bagi Prima, prestasi ini bukan untuk dirinya sendiri. Ia memiliki misi mulia, yakni menghapus stigma negatif tentang polisi.
"Yang membuat saya terdorong itu, saya kadang kesal karena banyak stigma bahwa Polisi Indonesia itu buncit-buncit. Kadang saya share di kolom komentar untuk menjawab komentar netizen. Tujuan saya, ayo olahraga. Jadi tidak semua polisi itu buncit. Ada loh polisi yang rajin olahraga, yang jaga badannya, seperti yang saya buktikan," ujar Prima.
Ia ingin membuktikan dengan tugas yang padat sekalipun, polisi tetap bisa menjaga kesehatan dan berprestasi. "Untuk menggerakkan teman-teman, khususnya polisi, sama anak-anak muda atau yang beralasan sudah tua nih, mager, gini-gini aja, itu bohong semua. Umur hanyalah angka. Umur 25 harusnya malu dengan adanya umur 40 tapi masih jaga kondisi badan," ujarnya dengan semangat.
Prima lantas memperlihatkan tiga medali raihan prestasi miliknya. Dengan bangga, ia juga memperlihatkan satu persatu foto saat kejuaraan, body kekar atletis. Di balik tubuh atletisnya yang kini menjadi kebanggaan Polri, tersimpan cerita tentang seorang bocah berusia tiga tahun yang kehilangan sosok ayah.
Seorang pemuda yang gagal tiga kali tes polisi, dan seorang polisi yang sempat bertubuh 96 kilogram dengan berbagai masalah kesehatan. Sembari berbincang sore itu, Prima lalu bercerita tentang masa kecil dan kehidupan keluarganya.
"Tak ada yang tau jalan hidup seseorang. Kita hanya bisa berusaha, selebihnya berserah," tuturnya. Pada tahun 1990, keluarga Prima kehilangan sosok kepala keluarga. Ayahnya yang bekerja sebagai petugas KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai) meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih sangat kecil, termasuk dirinya.
"Saya berusia tiga tahun saat bapak meninggal. Bapak dulu KPLP. Mama saya hanya ibu rumah tangga," kenang Prima dengan mata berkaca-kaca. Ibu Prima, Tetty Mariani Siregar, harus berjuang sendirian menghidupi tiga anaknya. Dari sekadar jualan kecil-kecilan hingga menjadi agen asuransi, semua dilakoni demi membesarkan anak-anaknya.
Dalam keterbatasan ekonomi yang sangat mencekik, sang ibu memberikan pesan yang tertanam kuat di hati ketiga anaknya. "Mama bilang, 'Jangan kalian berharap untuk kuliah. Lulus sekolah, bantu aku cari duit. Kalian bisa bernapas aja, kalian sudah bersyukur. Ingat ya, jangan samakan dengan orang-orang lain. Kalian bersyukur. Lulus SMA bantu aku kerja, bantu aku cari duit,' tutur Prima menirukan perkataan ibunya yang masih membekas hingga kini."
Pesan keras penuh realitas itu justru menjadi cambuk motivasi bagi ketiga bersaudara untuk membuktikan diri. Kakak pertama Prima adalah yang paling vokal menyuarakan semangat, ketiga bersaudara harus berbaju dinas. "Yang pertama, kakak saya jadi KPLP Syahbandar Perhubungan. Waktu itu pendaftaran 400 orang, diterima 99 orang, dia salah satunya. Dia lah motivasi kami," cerita Prima dengan bangga.
Kakak kedua mengikuti jejak, masuk Angkatan Laut dan kini bertugas sebagai Pomal (Polisi Militer Angkatan Laut) di Tanjungpinang. Sementara Prima, anak bungsu, awalnya justru menolak ide berbaju dinas. "Yang ketiga, ini kami berdebat nih. Ini udah baju dinas semua, saya tidak mau baju dinas. Saya bilang, udahlah saya kerja biasa-biasa aja," kenang Prima.
Namun kakaknya bersikeras dengan argumen yang sangat masuk akal. "Si kakak bilang ke mama, 'Mak, tak bisa, Mak. Ini adik harus baju dinas. Nanti setelah dia beristri, beranak, dia akan komplain, jadikan pegawai negeri semuanya!' Makanya diusahakan berbaju dinas, entah jadi KPLP, atau pegawai negeri, atau pemko, terserah lah. Yang penting sama rata," ujarnya.
Tekad untuk berbaju dinas membawa Prima mengikuti berbagai tes masuk institusi berwajib. Namun, jalan menuju impian itu penuh rintangan. "Tentara gagal. Jadi polisi baru bisa. Saya tes polisi sampai tiga kali. Tes 2006 dua kali dan 2007, gagal semua. Lalu lulus 2008," kenangnya. Di setiap kegagalan, sang ibu selalu menjadi penyemangat. "Saya minta doa pada ibu, lalu didoakan bisa lulus. Alhamdulillah, akhirnya lulus juga," ujarnya dengan senyum lega.
Prima yang merupakan lulusan SD 05, SMP 8, dan SMK Raha Haji Fisabilillah akhirnya resmi menjadi anggota Polri tahun 2008, di usia 21 tahun. Ia ditempatkan di Ditsamapta, lalu Brimob, kemudian Lantas, hingga akhirnya bertugas di Ditpamovit Polda Kepri.
Namun, menjadi polisi bukan berarti jalan hidup Prima langsung mulus. Di tahun-tahun awal bertugas, ia mengalami masalah kesehatan serius akibat gaya hidup yang tidak teratur. "Tadinya saya mulai olahraga ini, badan saya 96 kilogram. Itu sakit-sakitan, terus gampang marah. Saya mungkin ada kolesterol juga, saya mikir saya melihat anak-anak masih kecil. Sementara saya pencari nafkahnya istri, istri hanya ibu rumah tangga," ungkapnya.
Dengan dua anak yang masih kecil, Gibran (9 tahun) dan adiknya (5 tahun). Prima menyadari ia harus sehat untuk bisa terus mencari nafkah. "Saya memutuskan untuk sehat. Awalnya sehat dulu supaya saya kuat untuk cari rezeki untuk anak-anak," katanya. Prima pertama kali mengenal olahraga fitnes pada 2013. Namun, kebahagiaan mendapat anak pertama membuatnya terlalu gembira dan melupakan olahraga selama tiga tahun.
"Tahun 2013 saya sudah kenal fitnes ini. Namun dengan dapat anak pertama saya terlalu bergembira, jadi saya stop selama 3 tahun," kenangnya. Baru pada Januari 2019, Prima kembali serius berlatih setelah kondisi kesehatannya semakin memburuk. "Saya sakit, gampang emosi, terus saya lihat anak-anak masih kecil, istri di rumah. Berarti saya mau tidak mau dituntut sehat. Kalau saya sakit berarti tidak ada yang cari duit. Jadi saya memutuskan untuk olahraga," jelasnya.
Sejak itu, Prima berlatih setiap hari tanpa libur, kecuali hari Minggu. Hanya satu jam per hari, tetapi konsisten. "Bukan tidak ada waktu untuk olahraga, tapi sisihkan waktu untuk olahraga. Scroll-scroll handphone sejam juga kan kita scroll-scroll di TikTok. Nah sisikan di situ aja dulu," ujarnyas. Hasilnya luar biasa. Tidak hanya berat badan turun drastis, berbagai aspek kehidupan Prima berubah total.
"Sekarang manfaat olahraga ini, tidak gampang sakit. Dan lebih produktif, kalau di kantor itu lebih produktif dan pikiran lebih fresh. Untuk mengendalikan emosi juga lebih mudah," paparnya. Bahkan pola tidurnya Prima berubah drastis. "Sekarang saya bangun pagi itu sudah ada polanya, jam 4 subuh bangun pagi. Pukul 10 malam saya sudah ngantuk. Dulu mungkin saya yang begadang sampai pukul 1, pukul 2 dini hari. Sekarang pukul 10 sudah tidak perlu, sudah ngantuk," ceritanya.
Istri Prima juga merasakan perubahan signifikan pada suaminya. "Istri dapat dukungan, dia juga lihat perubahannya banyak, manfaatnya banyak. Saya lebih rajin ke kantor, dulu mungkin karena kita sakit-sakitan malas apel. Sekarang lebih teratur," ungkapnya. Otodidak Yang mengagumkan, perjalanan Prima di dunia fitnes sepenuhnya otodidak. Ia sudah mencoba berbagai olahraga, lari salah satunya.
"Di lari itu memang banyak kalori habis, namun kalau kita tidak bisa nahan makan, akan makan lebih banyak lagi karena yang dibakar itu otot sama air. Kalau angkat beban, tidak perlu banyak gerak, jadi rasa lapar masih bisa bertahan. Jadi makan masih terkontrol," jelasnya dengan detail. Pada tahun 2020, Prima bahkan menjadi trainer bersertifikat, membimbing banyak orang termasuk sesama anggota Polri untuk hidup sehat.
"Ada teman personel yang sudah 130 kg lalu ingin privat dengan saya," ujarnya. Tak hanya Prima yang berprestasi. Sang anak, Gibran (9 tahun), juga telah menorehkan prestasi di bidang karate dengan meraih juara 3. "Anak-anak juga turut menorehkan prestasi. Ini juga motivasi untuk mereka hidup sehat sejak dini," ungkap Prima dengan bangga.
Prima tidak berhenti sampai di sini. Ia menargetkan kompetisi internasional yang lebih bergengsi. "Kalau bisa di kancah Internasional atau di pertandingan Polri, saya lebih senang. Ada rencana di Thailand, ada MPC (NPC Worldwide). Itu tahun depan," ungkapnya. Ia berharap mendapat dukungan penuh dari institusi Polri. "Kalau dukungan dari kepolisian, dari Komandan bilang kamu harus lanjut ke Internasional. Saya dapat berangkat pun merupakan bentuk dukungan institusi," katanya.
Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Safrudin,S.I.K.,M.H melalui Direktur Pamobvit Polda Kepri, Kombes Pol Dr. Rudy Cahya Kurniawan memberikan apresiasi tinggi. "Prestasi Bripka Prima menjadi bukti bahwa komitmen dan kedisiplinan mampu berjalan berdampingan dengan tugas sebagai personel Polri. Kami bangga karena ia bisa bersaing dan tampil percaya diri di ajang internasional," ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar