Kisah Dayat 30 Tahun Jadi Petugas Damkar, Evakuasi Buaya Paling Ekstrem

Profesionalisme dan Tantangan Petugas Damkar Situbondo

Dayat (50), yang menjabat sebagai Kasubag Umum Damkar Situbondo Provinsi Jawa Timur, serta rekan-rekannya merasa senang karena semakin banyak masyarakat yang mulai percaya terhadap profesi pemadam kebakaran. Dulu, Damkar sering dianggap sebelah mata, tetapi kini mereka mendapatkan apresiasi dari masyarakat.

Menurut Dayat, profesionalisme adalah prioritas utama bagi petugas Damkar. Untuk itu, semua tugas yang diterima selalu ditangani dengan segera, termasuk laporan dari masyarakat melalui media sosial. Terlebih jika laporan tersebut berkaitan dengan kebakaran atau evakuasi ular dan reptil berbahaya.

"Kami selalu siap untuk turun ke lapangan, baik dalam shift malam maupun pagi," ujarnya.

Tantangan dan Kesulitan dalam Bekerja

Meski bekerja dengan penuh dedikasi, Dayat mengakui bahwa tidak semua hasil kerja Damkar selalu diapresiasi oleh masyarakat. Biasanya, komplain datang dari peristiwa kebakaran yang cepat menyebar. Selain itu, petugas Damkar sering menghadapi kesulitan dalam menjangkau lokasi kebakaran.

Dayat menjelaskan, kemacetan dan parkir kendaraan yang tidak pada tempatnya sering membuat petugas Damkar kehabisan waktu di jalan. Belum lagi, jika kebakaran terjadi di area padat penduduk dengan gang sempit, mobil Damkar akan mengalami hambatan dalam menjangkau lokasi.

"Terkadang ada juga kami dikomplain karena dinilai lambat, kami akui kami salah karena kurang cepat. Kendalanya biasanya macet, jarak sangat jauh, dan ketika kebakaran di rumah gang sempit itu parkiran motor menyulitkan kami. Setelah kami memberi penjelasan, mereka biasanya menerima," katanya.

Pengalaman Menegangkan dalam Evakuasi Buaya

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Dayat memastikan bahwa petugas Damkar selalu siap membantu masyarakat. Ia pun bercerita tentang pengalaman yang cukup menguji adrenalin selama hampir 30 tahun menjadi anggota Damkar Situbondo.

Pada tahun 2022, Dayat ikut dalam upaya mengevakuasi buaya di Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo. "Buayanya cukup besar sekitar 4 meter, itu dipelihara warga. Saat pemiliknya pindah ke Jember, sempat minta bantu ke BKSDA Jatim namun respons lama, akhirnya buaya itu diminta untuk dievakuasi ke kami."

Dayat mengungkapkan, butuh banyak personil untuk melakukan evakuasi hingga memindahkan buaya tersebut ke dalam truk, untuk diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. "Setelah evakuasi kami serahkan ke BKSDA Jatim," ujarnya.

Perhatian Pemerintah yang Semakin Meningkat

Lebih lanjut, Dayat mengungkapkan perasaannya setelah petugas Damkar semakin dipercaya oleh masyarakat. Menurut dia, kepercayaan masyarakat tersebut membuat pemerintah juga semakin memperhatikan Damkar.

"Perhatian pemerintah sangat terasa dua tahun terakhir ini, kami ditambah satu unit mobil damkar baru," katanya.

Meski begitu, Dayat mengatakan, Damkar Situbondo masih membutuhkan Alat Pelindung Diri (APD) saat melakukan pemadaman api, evakuasi reptil dan serangga seperti tawon. "Kami tetap butuh APD karena yang ada masih kurang," ujarnya.

Jumlah anggota Damkar Situbondo secara keseluruhan berjumlah 84 orang. Jumlah tersebut dibagi menjadi tiga pos penjagaan. Pertama di Situbondo Kota, kedua di Kecamatan Besuki, ketiga di Kecamatan Asembagus.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan