
Pengamen Biola di Tengah Keramaian Jakarta
Di tengah deru knalpot dan kepadatan lalu lintas di perempatan Jalan Teuku Cik Ditiro, Cikini, Jakarta Pusat, terdengar suara gesekan biola yang lirih. Pada Kamis (11/12/2025), seorang pengamen laki-laki tampak berdiri di tengah jalur kendaraan, memainkan melodi pop yang akrab di telinga pengguna jalan.
Laki-laki itu mengenakan jaket hitam, topi kuning, dan celana yang warnanya mulai pudar. Di tangan kirinya ia memegang biola, sementara tangan kanannya mengayunkan bow dengan ritme yang tampak sudah ia kuasai sejak lama. Di pangkal biolanya menempel sebuah gelas plastik hitam yang menjadi wadah uang recehan dari para pengendara.
Ketika lampu lalu lintas berubah merah, pengamen itu melangkah cepat menuju barisan pengendara sepeda motor yang berhenti. Langkahnya lincah, namun tetap hati-hati agar tak terserempet kendaraan yang bergerak pelan. Ia memainkan satu bagian lagu yang sama berulang-ulang, berusaha menjaga nada tetap stabil meski jalanan bising.
Beberapa pengemudi ojek online tampak memperhatikan, sebagian lainnya pura-pura tak melihat. Ada yang tersenyum kecil, ada yang menunduk sambil menunggu lampu hijau menyala. Dalam satu siklus lampu merah, hanya satu atau dua pengendara yang menyalurkan uang receh ke gelas plastik itu.
Ketika lampu berubah hijau, pengamen tersebut segera mundur ke tepi zebra cross. Ia menunggu beberapa detik sampai kendaraan kembali padat, lalu masuk lagi ke tengah jalur saat lampu merah berikutnya menyala. Di sela-sela waktunya menunggu, ia terlihat mengusap keringat di dahi, lalu memeriksa senar biolanya yang tampak sudah sering dipakai.
Kehidupan Deni, Pengamen Biola
Deni, 22 tahun, adalah pengamen biola yang rutin menelusuri perempatan-perempatan Jakarta untuk mencari nafkah. Saat ditemui di tepi trotoar setelah lampu hijau menunjukkan durasi istirahat singkat, Deni tampak ramah namun lelah. Keringat membasahi pelipisnya meski angin sore mulai bertiup.
Deni tinggal di Citayam, Depok, dan setiap hari bolak-balik sekitar 17 kilometer untuk mengamen. Perjalanan itu ia tempuh menggunakan KRL atau motor pinjaman, tergantung situasi. Ia bercerita mulai bermain biola sejak 2018, awalnya karena melihat temannya yang bisa memainkan alat musik itu.
Awalnya saya pakai gitar kecil. Terus lihat teman saya pakai biola. Saya minjem-minjem, gitu. Alhamdulillah saya cepat nangkep. Akhirnya saya beli biola yang murah. Seminggu udah bisa, kata Deni saat ditemui langsung.
Pendapatan Tak Menentu
Dalam satu hari mengamen, Deni bisa mendapatkan pendapatan yang ia sebut tergantung Allah. Paling kecil Rp50.000. Paling besar Rp100.000. Pernah dapat Rp200.000, tuturnya. Hasil itu ia bagi dua untuk istri dan anaknya, serta untuk ibunya di Citayam.
Jam kerjanya panjang mulai dari pukul 12.00 siang hingga malam hari, lalu berpindah lokasi. Nanti setelah jam 7 saya pindah ke kolong Sekini, ujarnya menyebut area dekat stasiun. Malam pun tidak lebih aman. Ada manusia silver, sesama pengamen, hingga persaingan lokasi yang cukup ketat.
Penangkapan oleh Satpol PP
Mengamen di lampu merah menyimpan risiko besar, bukan hanya terserempet kendaraan. Deni mengatakan sudah ditangkap lima kali oleh Satpol PP. Pertama kali ia ditangkap, kondisinya berat. Tidak ada keluarga yang mengurus sehingga ia harus ditahan lebih lama.
Udah lima kali ketangkep Satpol PP, Kak, ucapnya. Penertiban paling sering ia alami di Lenteng Agung, Pasar Minggu, Menteng, hingga saat perayaan ulang tahun Jakarta. Pertama itu 21 hari. Karena nggak ada yang ngurusin. Biasanya cuma 23 hari kalau diurus, ujarnya sambil tertawa hambar.
Tidak Ada Setoran, Tidak Ada Organisasi Tersembunyi
Di Jakarta, banyak kabar tentang kelompok tertentu yang memungut setoran dari para pengamen. Namun Deni menegaskan, ia tidak terikat kelompok semacam itu. Kalau gabungan ya nggak bisa lari, Kak, katanya. Ada komunitas pengamen biola, namun sifatnya lebih mirip tempat latihan dan berbagi pengalaman.
Tanggapan Pedagang Sekitar
Di dekat lokasi, Laras (38), penjual minuman dan gorengan yang sudah 11 tahun berjualan di trotoar Teuku Cik Ditiro, mengaku keberadaan pengamen biola seperti Deni sudah menjadi bagian dari keseharian. Dari dulu juga ada aja pengamen di lampu merah sini. Cuma yang biola itu baru beberapa tahun belakangan ramai, ujarnya.
Laras mengaku tidak terganggu. Bahkan beberapa pembelinya senang mendengar alunan biola di tengah bisingnya kendaraan. Kadang pembeli suka lihat karena suaranya agak beda, nggak bising kayak pengamen lain, kata dia.
Tanggapan Pengendara
Di sela-sela lampu merah, Arif (29), pengendara motor yang sering melintas di Cikini, mengatakan bahwa ia biasanya memberi jika ada uang kecil. Soalnya biola itu kan effort-nya besar, ucapnya. Namun ia juga merasa agak waswas dengan situasi di perempatan.
Arif berharap pemerintah memberi ruang khusus bagi musisi jalanan. Bahaya banget berdiri di tengah jalan. Kalau ada yang nerobos lampu merah, bisa keserempet. Saya kadang lihat sendiri pengamennya kaget karena mobil mepet, ucap Arif.
Penertiban oleh Satpol PP
Menanggapi fenomena meningkatnya pengamen termasuk pengamen biola di Jakarta Pusat, Kasatpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean menjelaskan bahwa penertiban dilakukan berdasarkan aturan. Sesuaikan Pasal 40 huruf a, dilarang menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan dan pengelap mobil, ujar Purnama dalam pesannya kepada berita.
Larangan tersebut tertuang dalam Perda 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pasal itu meliputi larangan menjadi pengamen, melarang orang lain menjadi pengamen, hingga larangan memberikan uang kepada pengamen di jalanan. Menurut Purnama, penertiban dilakukan untuk memastikan keselamatan dan ketertiban publik.
Mengais Rezeki di Persimpangan
Kisah Deni menggambarkan wajah lain Jakarta kota yang keras, namun tetap memberi celah kecil bagi mereka yang mengandalkan seni sebagai penyambung hidup. Di perempatan jalan, lagu-lagu yang ia mainkan bukan hanya melodi, tetapi juga cerita tentang beban hidup, tanggung jawab keluarga, dan keberanian menghadapi risiko setiap hari.
Deni tahu ia bisa ditangkap lagi. Ia tahu musiknya tak selalu dihargai. Ia juga tahu ruang geraknya di jalan raya sangat terbatas, kadang mematikan. Namun setiap kali lampu lalu lintas berganti merah, ia kembali melangkah ke tengah jalan dengan biola di dada.
Suka-dukanya banyak, Kak. Tapi yang penting buat keluarga, katanya pelan sebelum kembali memainkan nada yang sama, menantang bising kota yang tak pernah berhenti.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar