Kisah Hadriah, Pembimbing Rumah Singgah Basirih yang Bantu Lansia Belajar Agama

Kisah Hadriah, Pembimbing Rumah Singgah Basirih yang Bantu Lansia Belajar Agama

Rumah Singgah Basirih: Tempat Beribadah dan Rehabilitasi bagi Lansia

Rumah singgah tidak hanya menjadi tempat perlindungan sementara, tetapi juga menjadi tempat rehabilitasi bagi kelompok rentan. Di Rumah Singgah Basirih, terdapat banyak warga berusia lanjut yang menghabiskan masa tuanya dengan memperdalam agama dan belajar membaca Al-Quran.

Di ruang sederhana itu, Hadriah sering duduk berhadapan dengan belasan lansia telantar yang datang membawa kisah masing-masing. Ada yang telah ditinggalkan kerabat, hingga kehilangan anggota keluarga. Namun bagi perempuan 52 tahun ini, setiap pertemuan selalu jadi kesempatan untuk membantu mereka pulang. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara spiritual.

Sejak awal, Hadriah memegang satu alasan yang membuatnya bertahan. Motivasi saya adalah membantu orang-orang terlantar agar sisa hidup mereka lebih dekat kepada Allah SWT, kata penyuluh Agama KUA Banjarmasin Selatan tersebut. Kalimat itu telah jadi pijakan yang menguatkan Hadriah, setiap kali memasuki Rumah Singgah Basirih, Banjarmasin.

Meski jumlah peserta tak tetap, karena ada yang masuk dan keluar bila ada dari keluarga yang jemput, selama tiga tahun mengajarkan ilmu agama di sana, ada satu pengalaman yang paling membekas diingatannya. Kenangan itu tentang seorang lansia nonmuslim, penghuni Rumah Singgah Basirih. Nenek tersebut datang dalam keadaan sendirian, tanpa keluarga. Meski bertubuh renta, ia selalu antusias mengikuti kelas Hadriah. Bahkan atas kemauannya sendiri, ia ikut belajar membaca Al-Quran.

Saat belajar mengaji, ia hanya mampu menyebut beberapa huruf. Tetapi air matanya jatuh setiap kali coba mengulang, ucapnya. Keinginan kuat itu akhirnya mengantar Lansia tersebut memeluk Islam. Ia kemudian meninggal dunia satu bulan setelah menjadi mualaf. Ingatan saya tentang kisah ini, menambah besar motivasi untuk terus melanjutkan kegiatan, ungkapnya.

Perubahan yang Terlihat di Rumah Singgah

Di rumah singgah, Hadriah menjumpai beragam karakter. Ada yang pendiam, ada yang sensitif hingga mudah kambuh. Dulu, tanpa pendampingan rutin kondisi mereka sering tidak stabil. Kini perlahan, terlihat perubahan membaik. Para penghuni kini lebih jarang kambuh, sejak kegiatan agama dan sesi motivasi berjalan.

Mereka tidak lagi menghabiskan waktu melamun di kamar, karena selalu diajak bercanda dan bicara agar pikiran mereka tetap terjaga. Musala yang dulu kosong kini mulai hidup. Memasuki waktu salat, mereka tertib berjamaah, ucap Hadriah dengan penuh rasa syukur.

Berbagai Aktivitas yang Dilakukan

Beberapa aktivitas dilakukan untuk memastikan para penghuni merasa nyaman dan terlibat dalam kegiatan. Misalnya:

  • Setiap hari, ada sesi belajar membaca Al-Quran yang diikuti oleh para lansia.
  • Ada sesi motivasi dan diskusi untuk membangkitkan semangat hidup mereka.
  • Kegiatan sosial seperti bermain dan berbicara bersama untuk menjaga kesehatan mental.

Dengan adanya berbagai aktivitas ini, para penghuni Rumah Singgah Basirih merasa lebih tenang dan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas.

Tantangan dan Harapan

Meski ada berbagai perubahan positif, tantangan tetap ada. Misalnya, beberapa penghuni masih sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, Hadriah tetap optimis bahwa dengan bimbingan dan dukungan yang tepat, semua bisa berubah menjadi lebih baik.

Harapan besar juga diarahkan kepada masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap lansia dan kelompok rentan lainnya. Dengan begitu, keberadaan Rumah Singgah Basirih akan semakin bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan